Gilig Guru

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.003 pengikut lainnya

Kartun belum tentu berarti baik untuk anak.

Bacaan sama halnya dengan makanan, bakalan masuk dalam diri kita kemudian menjadi energi bagi kita. Makanan sampah, justru akan membuat badan mudah payah.

Anak butuh bacaan yang bergizi, bukan junk book meski dikemas kartun yang menarik

Sebaiknya anak diarahkan untuk tidak menggemari membaca bacaan yang tidak penting alias trivia, seperti infotainment soal artis, kartun spongebob, tips video game, dan semacamnya… Apalagi kalau malah ada pemasyarakatan dukun Ponari dan pengagungan budaya syirik yang sudah tergolong bacaan yang rawan.

Teladankan anak membaca buku yang bermanfaat dengan kadar kompleksitas yang sesuai usianya agar mereka memiliki daya tahan membaca dan kemampuannya menyimak apa yang dia baca yang lebih panjang.

Komik bagi saya bukan termasuk buku bacaan, melainkan hiburan. Kuat membaca komik sulit dianggap sebagai kegemaran membaca yang positif.

5 Perbedaan Menuntut Ilmu Antara Sekolah Islam dengan Umum

Sama-sama belajar, namun kalau berbeda ruhnya, berbeda tujuannya. Berikut ini adalah lima perbedaan antara ruh menuntut ilmu di sekolah agama:

1. Menekankan niat ikhlas dalam menuntut ilmu.

Seorang hukama berkata berkata: “Dulu kami menuntut ilmu di masjid-masjid, lalu sekolah-sekolah pun dibuka, maka hilanglah barakah, lalu dibuatlah kursi-kursi untuk murid, maka hilanglah tawaduk dan kemudian diadakanlah ijazah, maka hilanglah keikhlasan!”

Maksudnya, dahulu muslim itu belajar di masjid. Maka sekedar berjalan menuju ke tempat belajar pun mendapatkan pahala dan dinaikkan derajat, saat memasukinya didoakan para malaikat, berdiam di dalamnya dinilai itikaf. Maka ketika dipindahkan ke bangunan terpisah, disebutlah madrasah atau sekolah, sebuah tempat yang digunakan khusus untuk belajar, bukan untuk sholat, maka semua keberkahan masjid pun tidak diraih.

Sedangkan maksudnya kursi adalah, dulu murid belajar duduk di lantai, sedangkan guru duduk di tempat yang lebih tinggi. Sebagai sebuah pendidikan untuk memuliakan orang yang berilmu (ahli ilmu), sambil menanamkan kerendahan hati. Kemudian dibuatkan kursi untuk murid, sehingga murid sama tinggi dengan guru. Kini murid merasa gurulah yang melayaninya, karena diri merasa sudah membayar upah guru.

Dulu guru yang menentukan apakah ilmu yang diajarkannya boleh diajarkan kembali oleh muridnya kepada orang lain, guru yang melepas apakah muridnya sudah layak atau menahannya karena belum tuntas. Ketundukan murid adalah kepada guru. Masyarakat akan mengenal kualitas murid dengan melihat kepada gurunya. Kemudian karena banyaknya, dibuatkanlah ijazah, yakni lembar pengakuan bahwa sang murid telah diuji dan layak untuk mengajarkan ilmu. Kini kita merasa hal itu aneh, karena ijazah bukan berarti untuk mengajar, melainkan untuk gengsi. Kamu lulus darimana, nilainya berapa. Selain itu juga untuk bekerja, karena niat kita menuntut ilmu sejak semula bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melainkan karena takut keesokan hari perut lapar tidak punya uang karena tidak bekerja.

2. Jangankan untuk tujuan bermaksiat, untuk berdebat pun tidak boleh.

Hadits Anas secara marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

من تعلم العلم ليباهي به العلماء، أو ليجاري به السفهاء، أو ليصرف به وجوه الناس إليه، فهو في النار

‘Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan maksud untuk membanggakan diri di hadapan ulama atau untuk mendebat orang-orang  bodoh, atau agar dengan ilmunya tersebut semua manusia memberikan perhatian kepadanya, maka dia di neraka.’ [HR. Ibnu Majah dalam Al Muqoddimah (253)]

Maka sekolah agama (seharusnya) tidak mendorong muridnya untuk lekas viral, tidak mengejar-ngejar prestasi, menyibukkan diri dengan perlombaan, yang tujuan semua itu agar sekolahnya terkenal. Seringkali penuntut ilmu mengajarkan, menulis, atau menyebarkan tulisan namun dengan niat agar dirinya mendapat banyak likes dan followers. Ini niat yang keliru dan diancam. Niat keliru walaupun menumpang ke atas amal sholeh, justru akan merusaknya.

(Belum tuntas… semoga bisa dilanjutkan besok)

3. Melahirkan rasa takut.

“Hanya ulamalah yang takut kepada Allah swt,” (QS Fathir, ayat 28).

Takut tidak menjalankan perintah Allah dan takut melanggar larangan Allah.

4. Sudahkah kita amalkan?

dalam sebuah atsar,

من عمل بما علم أورثه الله علم ما لم يعلم

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui maka Allah akan mewariskan (mengajarkan) kepadanya ilmu yang belum ia ketahui”

5. Menyampaikan ilmu, bukan untuk banyak-banyakan pengikut.

Dan (ingatlah), ketika Allâh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya!” [Ali-‘Imrân/3:187]

Merdekanya Orang Baik dan Merdekanya Orang Buruk

Merdeka adalah anugerah Tuhan. Diberikan kepada siapa saja yang pantas. Namun makna kemerdekaan bisa menjadi negatif apabila dimanfaatkan oleh orang yang buruk. Jadi ada dua jenis kemerdekaan, kemerdekaan yang dimanfaatkan orang baik dan kemerdekaan yang dianggap orang buruk.

Apa contohnya?

Yang ringan-ringan adalah merdekanya pelajar SMA setelah lulus ujian, mereka merayakan dengan corat-coret baju dan konvoi sepeda motor. Merdekanya anak malas, yang ketika ditinggal orang tuanya keluar rumah, dia bergembira karena… “Hore, aku bisa main game sepuasnya!”

Merdekanya anak kos, yang tinggal jauh dari orang tua, hidup tanpa pengawasan, dan masih dikirimi uang bulanan. Kemerdekaan seorang anak yang melanjutkan ke jenjang pernikahan, ia bebas menentukan rumahnya sendiri dan mengatur hidupnya. Keduanya adalah kemerdekaan yang seiring dengan kemandirian. Semakin mandiri semakin merdeka.

Orang yang menjalani hukuman penjara, kemudian selesai, dan dia pun keluar darinya maka ia kini merdeka. Namun pilihannya tetap ada, apakah menjadi orang baik atau residivis.

Contoh yang berat adalah dari Spanyol dan Portugis, setelah Ratu Isabella I dari Spanyol menikah dengan Raja Ferdinand II dari Portugis, mereka mendirikan lembaga peradilan Inkuisisi sebagai alat untuk memaksa masyarakat masuk ke agama Kristen. Dari situ diusunglah konsep 3G  (Gold Gospel Glory) yang dicetuskan Paus Alexander VI untuk menjajah bangsa lain dan memurtadkan penduduknya. Kemerdekaan yang membawa penjajahan.

Maka saat ini kita mengisi kemerdekaan, marilah kita simak sejarah kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia dari penjajahan. Jangan sampai diisi dengan orang-orang buruk, karena mereka akan mengantarkan kepada pemanfaatan yang buruk pula.

Bangsa Penjajahan dan Bangsa Memerdekakan

Pekik merdeka membahana di nusantara. Sebuah ungkapan kesyukuran bahwa Kita telah lepas dari penjajahan kaum kafir, mulai dari bangsa Portugis dan Spanyol, Belanda, Inggris dan Jepang. Sejarah panjang bangsa ini dihiasi dengan emas perjuangan, mulai dari Sultan Baabullah, Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, hingga Haji Agus Salim, Panglima Besar Jenderal Soedirman, Kartini, dan Soekarno. Bisa dikatakan semua inisasi perlawanan berasal dari kaum Muslim, yang notabene merupakan penduduk asli Indonesia. Meskipun ada beberapa yang bergelar pahlawan Indonesia yang beragama non-Islam, namun kebanyakan hidup di era pra kemerdekaan. Satu nama yang masih diperdebatkan adalah Pattimura, yang sebagian menganggap namanya adalah Thomas Matulesy, dan yang lain menganggap namanya Ahmad Lussy.

Saat menjajah Indonesia, bangsa Barat membawa misi 3G (Gold, Gospel, dan Glory). Gold artinya mengeruk kekayaan, Glory artinya memperluas wilayah jajahan, sedangkan Gospel alias pemurtadan. Ini merupakan warisan yang dibawa oleh Ferdinand II (Spanyol) dan Ratu Isabella (Portugis) setelah keduanya menikah lalu mendirikan Inkuisisi, sebuah lembaga peradilan agama yang memaksa rakyat untuk pindah ke agama Katolik. Semboyan 3G pertama kali dicetuskan oleh Paus Alexander VI dari Vatikan setelah menyelesaikan perselisihan antara Portugis dan Spanyol dengan Perjanjian Tordesilas pada 1494.

Begitulah ciri khas bangsa yang dibimbing oleh agama Islam dengan bangsa yang tidak dibimbing Islam. Berbagai kerajaan di Nusantara tadinya hidup damai dan sangat ramah menerima kehadiran bangsa asing, justru dilukai dengan sikap semena-mena dan monopoli lalu akhirnya berujung kepada penjajahan. Lalu para ulamanya bangkit menggerakkan perlawanan dan hadirlah kemerdekaan.

Sedangkan bangsa Kafir hampir tidak pernah dalam sejarahnya luput dari nafsu menguasai dari segala aspek, politiknya, ekonominya, bahkan agamanya. Dan sejarah pasti berulang.

Bagaimana Contoh Meraih Ridho Pasangan Suami Istri?

Bapak-bapak, sukakah Anda kalau bawa oleh-oleh ke rumah lalu ditanya istri, “harganya berapa?”

jawaban apapun sama saja

“wah, kok mahal sekali?”
Menyesal dah…
“Di sini malah lebih murah.”
Tambah menyesal…
“Lagipula aku kan sudah beli.”
Aaarrgh…! Ngapain aku bawain oleh-oleh tadi!

Atau sebaliknya?

“lho… murah sekali.”
Senengnya…
“kok nggak beli tiga, kan bisa buat disimpan, atau dikasihkan teman.”
Jeglek.
“Sayang, coba beli banyak sekalian. Daripada bolak-balik kesana mahal di transport.”
Lemes…

Sama halnya, ketika Istri sedang cerewet udah diterima saja. Jangan dibalas.

Sama halnya, ketika Istri sedang cerewet udah diterima saja. Jangan dibalas.

Hubungan Fitur LIKE dan REELS di Medsos dengan Quran

Dari dulu yang ingin saya lakukan adalah mematikan fitur LIKE medsos. Sekarang malah ketambahan REELS. Semakin menambah distraksi (pengalih perhatian)

Jadi teringat materi tentang “Wa dallahuma bi ghurur” artinya “maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya.” Ustadz Nouman Ali Khan mengaitkannya dengan ayat 19 surat Yusuf “fa adla dalwah” kisah musafir yang menimba air lalu menemukan si kecil Yusuf a.s.

Dalla adalah kegiatan menarik sesuatu perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, hingga sampai di tangan. Demikian cara kerja setan menyesatkan kita, dipalingkan dari satu ke yang lebih rendah, hingga kita tidak melakukan amal sholih, dan jatuh pada perbuatan sia-sia.

Misalnya ketika browsing mencari materi di internet, lalu muncul iklan, atau terlihat satu judul berita, atau centang notifikasi pesan dari teman, lalu kita baca… kemudian kita LIKE. Biasanya akan memunculkan algoritma untuk memunculkan berita serupa, supaya perhatian kita terus terserap kepada platform medsos tersebut. Dari situ kita berpindah dari mencari materi ke membaca materi lain, lalu berpindah lagi, sampai waktu habis ternyata kita belum menyelesaikan tugas di awal tadi. Bahayanya adalah, ketika kita tidak tuntas dalam mengerjakan amalan, akhirnya setan membisikkan rasa putus asa, “Ah, sudahlah, mungkin memang aku tidak bisa menyelesaikan pekerjaan ini.” Akhirnya gagal lah kita beramal shollih.

Semoga Allah menjauhkan kita dari gangguan setan.

Disclaimer, ini bukan berarti menyamakan medsos dengan setan ya… walaupun “yuwaswisu fii suduurin naas, minal jinnati wan naas.”

3 prinsip sederhana mendidik anak: Tahu waktu, tahu tempat, tahu cara.

Kesederhanaan itu menunjukkan kedalaman berpikir. Karena sederhana merangkum apa yang penting dan meninggalkan apa yang kurang bermanfaat. Contohnya dalam “hidup sederhana” artinya seseorang belanja yang menjadi keperluan rumah tangga, namun dengan tidak meninggalkan kebahagiaan di dalamnya. Biasanya sederhana berlawanan dengan kata boros, yang artinya membelanjakan apa yang melebihi keperluan. Yang tanpa itu pun tetap bisa berjalan dengan baik. Yang dengan membeli itu tidak menambah kemanfaatan kecuali hanya kemewahan saja.

Kesederhanaan bila dikaitkan dengan pendidikan, maka terbersit ada pendidikan yang mewah, mubadzir atau boros. Mungkin yang terbayang bagi Anda sebuah kelas yang dilengkapi AC, atau sekolah yang SPP nya jutaan rupiah, tapi yang dimaksud disini bukan itu.

Sederhana yang dimaksud adalah memberikan prinsip-prinsip yang dapat digunakan dalam semua pengalaman hidup, sebanyak-banyaknya!

Contohnya begini, seorang ibu melepas anaknya ke sekolah, kemudian berpesan agar anaknya serius belajar, jangan banyak bercanda, tapi waktu istirahat bergaullah dengan teman-temannya, jangan hanya diam di dalam kelas, tapi bermainnya yang berhati-hati, jangan keterlaluan, tapi juga jangan pasif… banyak sekali pesannya. Kira-kira apakah akan diingat oleh anak?

Ini sebenarnya lebih ditekankan kepada setiap ibu, yang pada saat menasihati anak-anaknya terdengar seperti mengomel dengan kalimat yang tidak ada harapan untuk berhenti. Meskipun juga penting untuk diperhatikan oleh setiap ayah, agar tidak diam saja saat dibutuhkan perannya untuk mendidik anak.

Maka dicarikanlah prinsip-prinsip itu, yang kemudian oleh Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I sampai kepada kami berupa “3 tahu” (ini kami beri label sendiri). Yakni

  • Tahu waktu

Anak dikenalkan dengan waktu apa seharusnya berbuat apa. Misalnya waktu adzan maka seharusnya bersiap untuk sholat (maka berhentilah bekerja, belajar, bermain, atau aktivitas apapun lainnya), waktu malam seharusnya bersiap untuk tidur (letakkan bukunya, rapikan mainannya, siapkan kasurnya), waktu pagi seharusnya bersiap berangkat sekolah (jangan bermalas-malasan, ayo segera mandi, sudah disiapkan tas dan bukunya atau belum), dan seterusnya.

  • Tahu tempat

Anak diajak mengenal berbagai aktivitas untuk kegiatan yang sesuai. Masjid adalah tempat untuk beribadah atau belajar (anak dilatih kepekaannya untuk tidak berbuat gaduh di rumah ibadah), jalan adalah tempat orang lewat (jadi jangan duduk-duduk melintang jalan), luar rumah adalah tempat umum (pakailah pakaian menutup aurot)

  • Tahu cara

Ayah mengenalkan alat atau cara mengerjakan sesuatu. Misalnya, hape adalah alat kerja, sedangkan alat bermain contohnya bola. Jadi kalau mau bermain, gunakanlah bola, jangan menginstal game di hape. Tentu ini bagi yang sependapat dengan penulis bahwa permainan di hape membawa kerugian besar, kendatipun yang bermain adalah orang dewasa. Sedangkan permainan fisik justru banyak manfaatnya. Meskipun judulnya sama-sama sepak bola.

Contoh lainnya adalah, namanya bercanda, itu caranya harus membuat sama-sama gembira, bukan satu gembira atas kesedihan orang lain, itu membully namanya, bukan bercanda. Bukankah banyak yang bilang, “ah, saya kan cuma bercanda…” tapi caranya bercanda keliru. Demikian juga, tidak disebut bercanda kalau menggunakan senjata tajam diacungkan kepada temannya. Sebagaimana tidak boleh suami bercanda dengan pura-pura mencerai istri.

Nah, semua prinsip di atas sesungguhnya adalah pengejawantahan konsep “adab” yang disarikan dari agama Islam. Anak ataupun murid tidak dididik dengan menghafal aturan-aturan, tidak secara langsung diperintah atau dilarang, melainkan diajak untuk berpikir dan mengembangkan kepekaan perasaan. Karena yang demikian itu membuat jiwa lebih hidup, lebih menyentuh hati, dan mendorong ketulusan dalam melaksanakan.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat. Bila ada masukan, dengan senang hati mohon dilayangkan melalui email: giligpradhana@gmail.com.

Perbandingan 3 Kitab Samawi: Quran – Perjanjian Lama – Perjanjian Baru

Sekarang soal kitab Taurat (perjanjian lama) dan Injil (perjanjian baru)

  1. Pernahkah kamu membaca seluruh kitabnya dari depan sampai belakang tanpa terlewati satu huruf pun? Ini dilakukan oleh sebagian besar Muslim terhadap kitab sucinya, Al-Quran. Kegiatannya disebut khataman. Oya, yang dibaca adalah bacaan aslinya, yakni bahasa Arab.
  2. Adakah surat yang kamu hafal seluruhnya? Atau yang paling pendek saja sudah? Dan… tentu saja, apakah dalam dalam bahasa aslinya? Sebagai gambaran di pulau Jawa ya, anak TK biasanya sudah bisa menghafal 4 surat (Al-Fatihah, QS An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas). Itu panjangnya 1,5 halaman.

Memangnya, Kenapa perlu menghafal isi kitab suci?

  1. Kitab suci fungsinya sebagai pedoman hidup, panduan dalam melakukan apa saja. Seperti peta, kalau anda hafal jalan tentu perjalanan akan mudah. Kalau tidak hafal, pasti harus sering berhenti untuk melihat peta, bertanya, atau kalau tidak akan kesasar. Orang yang hafal dan paham kitab sucinya tentu akan lebih mudah menjalani hidupnya tanpa khawatir tersesat.
  2. Kitab suci yang dihafal miliaran manusia, adalah salah satu bukti keasliannya datang dari Tuhan. Karena itu menunjukkan kharisma kitab suci tersebut. Bukankah lagu yang terkenal akan dinyanyikan banyak orang? Kalau ada yang berusaha mengubah isinya, pasti segera diketahui oleh orang lain karena mereka hafal isinya. Ini logika yang membuktikan keasliannya. Kalau anda tidak hafal sebuah lagu, ketika ada yang mengganti liriknya, anda tidak akan tahu. Itulah yang terjadi pada kitab selain Al-Qur’an.
  3. Kitab suci dihafal sesuai dengan bahasa aslinya. Padahal yang menghafal bahasanya berbeda. Ini mendorong penghafalnya rajin mengulang-ulang hafalannya. Sebuah aktivitas yang tidak akan dilakukan oleh orang yang tidak mencintai kitab sucinya. Kamu cinta dong, dengan kitab sucimu?

Kenapa Al-Quran Sama Dengan Injil, Taurat, Bibel?

Kesaman Al-Qur’an dengan ajaran atau kitab suci terdahulu (khususnya Taurat dan Injil) menjadi bukti akan kesamaan asal-usul ajarannya, yaitu berasal dari Tuhan Yang Satu Allah Swt.

Misalnya kesamaan kosakata, kisah, dan konsep. Tapi saya fokus satu saja ya, menjawab seorang penganut Rahayu (maaf ya, saya tahu sumber aslinya di FB, tapi ogah mempopulerkan orang bodoh). Yakni tuduhan bahwa Al-Qur’an mengadopsi Taurat. Dia menulis begini:

“Kisah Nabi Nuh yg di Qur’an itu tidak selengkap & sedetil di Kitab Kejadian. Ini bisa dimaklumi karena Qur’an hanya mengadopsi sebagian dari Taurat.”

  1. Pemilihan diksi “mengadopsi” menunjukkan penulis tidak mengakui Al-Quran sebagai firman Allah. Sekaligus menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai penulis Al-Qur’an. Orang yang begini tidak lagi disebut Muslim. Tinggal menunggu dia mengaku saja.
  2. Meskipun terdapat kesamaan, tapi juga terdapat perbedaan. (Supaya mudah dibaca saja di sini: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5832028/persamaan-al-quran-injil-zabur-taurat-dan-perbedaan-antar-kitab-samawi)
  3. Kesamaan dalam kitab samawi itu ditampilkan lagi dalam Al-Quran tujuannya untuk (1) memperingatkan & menekankan, (2) mengoreksi yang salah, (3) menyempurnakan yang benar.

Si Rahayu menulis,
Berapa ukuran kapalnya?
Berapa lama kapal mengapung selama banjir ?
Kamu tau ada berapa jumlah spesies mamalia?

Kenapa Al-Qur’an tidak detail?

  1. Al-Qur’an bukan kitab sejarah, melainkan kitab hikmah. Bukan book of science, yet the book of signs. Lha meskipun dirinci apa ya kamu bisa sebutin nama-nama hewan yang jumlahnya banyak seperti ditulis si Rahayu itu? Kenapa nggak disebutin sekalian satu per satu?
  2. Al-Qur’an menyebutkan fakta ilmu pengetahuan (bukan yang masih teori ya) dan fakta sejarah (bukan yang simpang siur) itu beberapa saja, tidak semua. Itupun dipilih yang menurut Allah paling penting saja. Lha wong jumlah Nabi ada ratusan ribu, dalam Al-Qur’an hanya dipilih beberapa, itupun tidak disebutkan jumlah pastinya. Apalagi kok jumlah hewan.
  3. Tujuannya adalah agar fokus ke hikmah, pelajarannya apa. Tidak berdebat masalah yang tidak penting. Misalnya dalam surat Al-Kahfi ayat 22, Allah menegur orang yang berdebat mengenai jumlah pemuda yang tidur dalam gua. Ada yang bilang 3, 5, atau 7…
    Allah berfirman, “Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit.” Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka.

Kalaupun tahu jumlahnya, tempatnya dimana, waktunya kapan, terus apakah bisa menambah amal ibadahmu?

“Pancasilais Munafik”

(Buya Hamka dalam buku Dari Hati Ke Hati, artikel “Pancasilais Munafik”, 259-260)

Bertahun-tahun lamanya dasar negara Pancasila itu dipermainkan diujung bibir namun dimuntahkan dari hati. Dipidatokan untuk orang banyak, tetapi dilanggar dalam perilaku sehari-hari.

Merekalah yang sebenarnya menghancur-leburkan Pancasila dengan memakai kekuasaan yang ada di tangan mereka.

Kelima sila itu dilanggar satu demi satu, dengan tidak lagi mengingat hari esok, karena mereka merasa bahwa mereka akan berkuasa buat selamanya.

Mereka melanggar sila pertama, dasar yang suci-sakti, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, baik secara sembunyi2 karena takut dibenci orang banyak, maupun cara terang2an dengan membungkam mulut orang yang berani berkata “salah” (kritis, pen).

Kita namai orang-orang ini “Pancasilais Munafik”

Sehingga terbaliklah keadaan. Orang yang sungguh percaya kepada Tuhan, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya dipandang “anti-Pancasila”, dicap reaksioner atau “kontra-revolusioner” (kalau saat ini mungkin “anti-kebhinekaan”, radikal, dll, -pen)…