Gilig Guru

Bagaimana menasihati teman yang sedang dirundung masalah?

DITIMPA MASALAH

Pernahkah Anda mengeluh, kenapa suamiku atau istriku seperti ini? Atau anak yang tidak beradab, teman yang bicaranya menyakitkan, tetangga menyebalkan, dan orang-orang di dekat kita lainnya seolah tidak berhenti menimbulkan masalah pada diri kita?

Tentu saja pernah, karena mereka bukan malaikat, tapi bukan pula setan.

Mereka ada dalam hidup Anda karena Allah yang mengaturnya. Semua bukan kebetulan. Allah pertemukan mereka dengan Anda untuk sebuah rencana, dan rencana Allah pasti terlaksana! Dialah sebaik-baik pembuat rencana.

Dan rencana Allah pasti baik, Dia tidak pernah dan tidak akan berbuat dzalim pada hamba-Nya.

Dia tahu, dan percaya, Anda bisa membantu mereka keluar dari masalahnya. Tidak ada orang yang suka dirinya bermasalah. Apa anak Anda suka menjadi nakal? Tidak, itu hanya caranya mendapatkan sesuatu yang tidak dia ketahui caranya yang lebih baik. Apa tetangga Anda suka memiliki sifat kalau berbicara menyakitkan? Pasti tidak, itu karena ada kesalahan yang ingin dia ubah namun tidak tahu cara menyampaikan yang lebih santun.

Kalau Anda ditakdirkan mendengarkan mereka, berarti Anda berkesempatan membantu mereka.

“Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. (Riwayat Muslim)

Kalau Anda lari, kesempatan akan hilang, namun permasalahan hanya akan berganti. Di tempat baru, Allah akan berikan masalah yang lain. Karena sebenarnya masalah itu hanyalah cara Allah menguji kita.

Hidup itu ujian, maka hidup penuh masalah. Namun bila cara pandang anda digeser, hidup itu ladang amal, maka masalah adalah kesempatan Anda beramal.

Wallahu A’lam

Bagaimana cara mengatasi pencurian oleh anak

Dia Mencuri

Stok hadiah kelas tiba-tiba raib, hanya tinggal bungkusnya. Padahal baru kemarin hanya berkurang sedikit. Sulit menganggap tidak ada yang mengambilnya tanpa ijin.

Namun seorang guru tidak boleh bersuudzon. Maka kami tempelkan pengumuman ini di dinding kelas.

Keesokan harinya, dibelikanlah sebungkus permen yang sama dan dibagikan ke seluruh santri.

Dia menolak sambil tertunduk bersenyum malu. Itu caranya mengaku dan meminta maaf. Kami pun mendoakannya dengan tulus, semoga Allah mengabulkan.

CAROK TA?

CAROK TA?

Di lingkungan Madura, tantangan duel boleh jadi akan ditemui sehari-hari. Seolah kejantanan dibuktikan dengan pertandingan satu lawan satu. Tak terkecuali pula anak-anak.

Maka tatkala dua anak mulai beradu mulut, misuh-misuh, dan menantang carok, sudah wajib Anda sebagai orang tua melerai.

Sebungkus permen kerap efektif. Panggilah teman-temannya. “SIAPA MAU PERMEN!?”

Anak-anak pun mulai bergerombol, mengulurkan tangan meminta. Ini saat yang tepat masuk ke hati, karena mereka siap mendengarkan.

“Siapa anak yang kuat?”

Jawabnya beragam.

“Aku!”
“Anak yang besar.”
“Yang nggak gembeng (nangisan).”

Maka luruskanlah, “anak yang kuat itu…” sambil mengusap ubun-ubun anak yang tadi saling bertengkar, “yang marah, tapi bisa menahan amarahnya. Dia bisa membalas, tapi memilih memaafkan.”

Anak-anak mungkin tidak akan langsung paham. Tapi bagilah permen-permen itu. Setidaknya, mereka pantas merayakan tidak-jadinya-teman-mereka-berkelahi. Semoga kelak mereka akan mengenang nasihatmu, yang manis, semanis permen yang Anda bagikan untuk mereka.

Sedekah ke Anak

Sedekah ke Anak

Usai sholat berjamaah dia usap kepala anaknya, lalu tangannya menyelip sebentar ke saku, mengambil sisa lembaran disana, dan menggulungnya seraya menggegamkannya ke jemari sang anak.

“Kenapa?” Tatap anaknya. Memang tidak biasa ayahnya memberi uang seusai sholat. Dibisikkannya “Ayah sayang kamu.”

Kalau jawabannya adalah, “karena sholatmu bagus,” atau “karena kamu sholat berjamaah,” saya akan memperkirakan anaknya akan menjadikannya rumus: mau dapat uang? = $holat.

Alhamdulillah anak laki-laki itu menerima dengan kedua tangannya yang kemudian diangkat untuk berdoa dan bersyukur.

Saat ayahnya melangkah keluar masjid, ternyata sang anak berbelok, membelakanginya sambil berusaha memasukkan lembaran itu ke kotak infaq.

Begitu selesai, anak laki-laki itu menghambur ke ayahnya dan memeluk lengannya. “Padahal,” katanya, “Aku ingin beli-beli…”

Hehehe.
Barokallahufiikum.

Dunia dibanding Surga adalah Sampah

Dunia dibanding Surga adalah Sampah

Yang membuat perumpamaan itu adalah Sahabat Umar bin Khattab. Bagaimana memahaminya?

Waktu anak-anak kita begitu menginginkan mobil-mobilan, sampai rela bergulung-kuming, berok-berok (wah, lama nggak makai istilah ini, artinya meraung-raung), merayu bahkan mengancam nggak sekolah.

Sama halnya sikap kita terhadap dunia. Tidak tertarik pahala karena belum paham atau belum melihat wujudnya.

Setelah dewasa kita beranjak paham, maka saat diberi mobil mainan, malah tidak mau karena sudah punya mobil sungguhan atau menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak membutuhkan mainan itu.

Jadi kalau saat ini kita masih menangisi dunia, bersusah-payah mengejarnya, barangkali iman kita seperti anak kecil, baru percaya setelah melihat.

Semoga Allah membimbing kita dalam hidayah.

Humorku: Jarang Tersenyum?

Dia sakit, bawaannya manyun. Langkahnya gontai, bibirnya kering, matanya sayu.

“Mau ini?” Saya menawarinya satu kresek pembagian qurban Idul Adha.

“Apa ini?” Tanyanya.

“Mantan sapi.”

“Astagfirullah…” spontannya tak tahan tersenyum.

Belajar Bertanggung Jawab dari Nabi Musa alayhi salam.

Siapa menyangka pembelaannya kepada kaumnya, bani Israel, atas tentara Mesir, akan berujung kematian? Bukankah itu cuma satu pukulan yang tidak menyengaja untuk menghilangkan nyawa? Satu dasawarsa mengasingkan diri dari kejaran Raja Mesir yang lalim, Tuhan justru menitahkannya kembali ke hadapan ayah angkatnya, Firaun, sosok yang dihutanginya budi sejak bayi? Kemana wajahnya harus disembunyikan? Bukankah tinggalnya Musa a.s. di Madyan justru telah memperbaiki kehidupannya? Kenapa harus mempermalukannya dengan kembali di Mesir? (lebih…)