Gilig Guru

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.003 pengikut lainnya

Download Gratis Stiker Salam

Semoga Allah menyelamatkan saya dan keluarga saya dari api neraka.

Stiker ini dibuat untuk menyebarkan salam, menghidupkan kembali budaya Islam yang sedikit demi sedikit terlupakan atau ditinggalkan. Semoga dengan kemudahan ini Anda ikut masuk dalam golongan yang menyambut seruan Allah dan rasul-Nya untuk ikut menyebarkan salam.

Silakan diperbanyak untuk kebaikan. Saya hanya mohon didoakan dalam kebaikan.

File berupa PSD. Bagian tulisan merah dapat dihapus. Tapi tolong file mentahnya jangan disimpan di website lain, cukup di komputer Anda saja. Kalau ingin menghubungi bisa ke +628-123-549-5544 (klik di nomor HP untuk mendownload).

Al-Aqsa Infographic

Dialog Iman Ashabul Kahfi

Ilustrasi. dari i.pinimg.com

Dialog iman adalah percakapan yang isinya mengantarkan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam Al-Qur’an terdapat 120 dialog yang menggunakan sekitar 1000 ayat, itu berarti hampir 1/6 kandungan Al-Qur’an adalah ayat dialog. Salah satu contoh dialog dapat diambil dalam surat Al-Kahfi, ketika para pemuda gua baru bangun dari tidurnya yang panjang. Kenapa ini perlu kita renungi?

Tertidur 309 tahun itu aneh. Inilah yang dialami para pemuda yang berjejuluk “Ashabul Kahfi”. Maka ketika Allah mengisahkan momen terbangunnya dari tidur untuk saling bertanya, maka kita akan berharap dialognya luar biasa.

 Al-Qur’an menyebutkan dialog tersebut dalam ayat 19,

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?).”

Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.”

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).

  1. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini,
  2. dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik,
  3. maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu,
  4. dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut
  5. dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”
    (Temukan di Al-Qur’an surat Al-Kahfi, surat ke 18 di juz 15)

Ternyata, isinya “hanya” seputar perkiraan lama waktu tidur, yang kemudian dibelokkan kepada topik makanan… Wajar kalau ada yang heran dan bertanya, “Kenapa yang begini masuk dalam Al-Qur’an?”

Mari kita gali apa hikmah dalam dialog “ringan” seperti ini.

Kalau Disebut Al-Qur’an Pasti Itu Penting!

Al-Qur’an adalah kitab suci, bukan sembarang buku. Bayangkan begini, kalau ada nama seseorang masuk ke guiness book of record tentu orang itu luar biasa. Kalau Bill Gates me-mention nama kita dalam cuitan twitternya, yakinlah sebentar lagi bakalan banyak yang mem-follow akun kita.

Coba bandingkan, para pemuda yang tertidur dalam gua ini di-mention oleh Allah! Disorot dalam Al-Qur’an, pasti akan dibaca oleh jutaan manusia hingga hari kiamat. Populeritasnya tak berujung. Pasti ada sesuatu-nya.

Jadi apa yang ditulis dalam ayat, satu huruf sekalipun, pasti memiliki makna yang besar. Bertambah huruf bertambah makna. Apalagi kalau satu rangkaian kisah.

Hikmah Dialog

Rupa-rupanya, orang yang pertama dalam ayat 19 bertanya sesuatu yang tidak begitu penting, yakni “berapa lama tidur?” meski kemudian ditanggapi oleh beberapa orang berikutnya, namun akhirnya diluruskan bahwa “Rabb kalian lebih mengetahui”. Membicarakan masalah lamanya waktu tidur bagi mereka tidak begitu berpengaruh apa-apa, jadi berhentilah berdebat. Sebab ada masalah lain yang lebih mendesak, yakni konsumsi dan keamanan. Di luar sana, tentara kerajaan masih memburu mereka. Sementara kalau terus-menerus bersembunyi di gua, para pemuda itu tidak mungkin bisa bertahan lama. Mereka harus keluar untuk mengumpulkan sumber daya sembari tidak terlalu menarik perhatian meski tetap bersikap simpatik.

Nampaknya Allah hendak mengajarkan agar kita fokus kepada penyelesaian masalah, yang untuk itu perlu pertanyaan yang pas untuk memancing percakapan. Nanti kisah Ashabul Kahfi ini berlanjut kepada pertanyaan gagal fokus orang-orang dan sikap penguasa sesudahnya yang alih-alih membangun keimanan yang kokoh atas ketauhidan ashabul kahfi, malah sibuk membangun bangunan di atasnya.

Hikmah yang kedua, memperjuangkan hidup fi sabilillah itu lebih berat ketimbang mati fi sabilillah. Perlu strategi, kesabaran, dan keistiqomahan menapaki setiap tahapan itu.

Masyaallah, ternyata percakapan ringan para penghuni gua ini bisa digali dan melahirkan sebuah panduan bagi pergerakan dakwah Islam.

Bagaimana rinciannya? Semoga kelak ada tulisan yang menyambungnya.

SEORANG JENDRAL FIRAUN YANG MUSLIM

Dalam surat Ghafir dikisahkan bahwa akhirnya dia angkat bicara. Keputusan Firaun untuk mengulangi pembantaian terhadap anak-anak tidak boleh dibiarkan. Terlebih lagi, modusnya adalah untuk memberi tekanan kepada orang tua yang beriman pada nabi Musa a.s.

Sang Jenderal mengingatkan bahwa dulu Nabi Yusuf a.s. telah diutus untuk bangsa mereka. Kini Musa, a.s. Apakah kerajaan Mesir sedang membuat alasan untuk ditimpakan adzab?

Menarik, bahwa Nabi Yusuf dikisahkan dalam surat ke 12 dan Nabi Musa surat ke 28. Surat Yusuf berisi kisah terbaik, sementara “suratnya” Nabi Musa berjudul Al-Qasas (Kisah). Nabi Yusuf memiliki banyak hubungan kisah yang unik dengan Nabi Musa. Beberapanya:
1. Nabi Musa dibuang ke sungai (air), Nabi Yusuf ke sumur (air).
2. Nabi Musa masuk istana sejak kecil, Nabi Yusuf nanti setelah dewasa.
3. Ibunya Nabi Musa diberi ilham agar menyelamatkan putranya dengan cara yang tidak masuk akal, Ayahnya Nabi Yusuf menyarankan putranya agar selamat melalui cara yang masuk akal. Namun akhirnya, caranya Allah yang berhasil.
Dst.

Menarik, karena sang Jenderal yang menjadi penghubung dua kisah ini ada di surat ke-40. Yakni 12+28.

Ternyata “kelancangan” sang Jenderal tidak menyebabkannya terancam nyawa karena dianggap menentang Firaun yang mengaku tuhan. Justru Sang Jenderal dilindungi Allah swt.

Moralnya adalah: Jihad yang paling afdhol adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim. Bahkan satu suara saja bisa membatalkan kerusakan besar, atas ijin Allah.

Berbicaralah wahai para pemegang kebenaran! Jangan biarkan kedzaliman melenggang.

SYARIAT INI TERLALU BERAT

“Aku ini hanya manusia biasa, bukan seorang Nabi. Aku tidak harus mengikuti syariat ini, Allah Maha Tahu bahwa aku ini lemah, aku butuh harta, aku butuh wanita, pasti Allah memaafkanku kalau aku sedikit melanggar, karena Allah Maha Pengampun.”

* Justru karena kamu lemah, Allah menciptakan syariat itu. Syariat itu adalah untukmu, bukan cuma untuk Nabi, tapi juga untuk seluruh manusia. Kamu bilang Allah Maha Tahu, tapi kamu menganggap syariat ini tidak cocok untuk manusia sepertimu karena kamu anggap kondisimu khusus? Kamu lebih tahu dari Allah? Kamu mau mengajari Allah tentang agama yang lebih cocok buatmu?

Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS Al Hujurat ayat 16)


Berdasar Penjelasan dari Ustadz Nouman Ali Khan (Surat Yusuf – part 23b)

Majelis ilmu itu untuk mencerdaskan, bukan memamerkan kecerdasan

Menilai Institusi Pendidikan (Dari Sudut Pandang Tazkiyatun Nafs)

“Ini baik, itu buruk.” Label memudahkan kita membedakan. Tapi ingat, apa tujuannya?

Kita bisa memberikan ukuran benar dan salah terhadap sebuah jalannya pendidikan, tetapi tidak serta merta bisa berhak melabeli sebuah institusi pendidikan.

Dari sekolah, hingga yang paling kecil, keluarga.
Karena ukuran benar dan salah yang kita rumuskan itu dalam tataran konsep, sedangkan bila masuk dalam tataran realitas institusi manapun ada banyak pertimbangan yang kita tidak tahu detailnya.
Maka dari itu, misalnya, tidak pantas melabeli Nabi Nuh alayhi salam sebagai citra “ayah yang gagal mendidik keluarganya”. Dengan alasan yang sama, yang kebanyakan kita tahu hanya anak dan istri beliau pada akhirnya durhaka, sedangkan bagaimana proses pendidikannya selama itu kita tidak tahu.
Kita hanya bisa mengumpulkan potongan-potongan rumusan nilai seperti:
– Jangan mudah marah, tapi ada saat dimana marah itu perlu
– Jangan berbuat kasar, tapi ada pengecualian dimana hal itu tidak disebut kasar
– Berbuat adil, tapi ukuran keadilan itu bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi
Lagipula melabeli sesuatu harus ditujukan untuk contoh pelajaran. Yakni agar diambil kebaikannya dan tidak diulang kesalahannya. Kalau ditujukan untuk menjatuhkan yang lain dan meninggikan diri sendiri, maka bukankah itu ciri kesombongan. Padahal tidak ada akhir kesombongan kecuali celaka. Hanya karena kecerobohan melabeli.
Naudzubillahi min dzalik.
Hari tasyrik ke-2
2 Agustus 2020

Renungan “Ya Abati”

Kisah Yusuf (Dalam Al-Qur’an surat ke-12) dimulai dari fragmen anak yang memulai percakapan dengan ayahnya. Sebuah teladan yang harus diupayakan orang tua agar menjadikan dirinya tempat yang paling nyaman bagi anak untuk diajak berbicara tentang hal apa saja, kapan saja, tanpa harus ditanyai oleh ayahnya atau ibunya. Jangan sampai mereka menginginkan ayah ibunya untuk berada di luar kegiatan pribadinya, tidak “mengganggu” hubungannya dengan teman-temannya.

Sebaliknya, anak muda… hormati orang tuamu sebagai sahabat pertamamu yang kamu ajak mengobrol sebelum teman-temanmu. Jangan sampai mengatakan “Ayah tidak akan mengerti aku,” atau “Ayah tidak pernah mau mendengarkanku,” hanya karena ayahmu kurang memperhatikanmu suatu hari.

Catatan QS Ar-Ra’d 6

images (11)Orang kafir meminta bukti kenabian berupa adzab/siksaan lebih dulu daripada kebaikan. Bahkan menantang dengan kedurhakaan. Padahal mereka sudah diberi bermacam-macam contohnya.

Sementara, tidak ditunjukkannya siksa itu sebenarnya bentuk kasih sayang dari Tuhan. Dan atas sikap yang tidak berterima kasih bahkan dzalim itu Allah masih berkenan menunggu taubat mereka untuk diampuni.

Bagaimana menasihati teman yang sedang dirundung masalah?

DITIMPA MASALAH

Pernahkah Anda mengeluh, kenapa suamiku atau istriku seperti ini? Atau anak yang tidak beradab, teman yang bicaranya menyakitkan, tetangga menyebalkan, dan orang-orang di dekat kita lainnya seolah tidak berhenti menimbulkan masalah pada diri kita?

Tentu saja pernah, karena mereka bukan malaikat, tapi bukan pula setan.

Mereka ada dalam hidup Anda karena Allah yang mengaturnya. Semua bukan kebetulan. Allah pertemukan mereka dengan Anda untuk sebuah rencana, dan rencana Allah pasti terlaksana! Dialah sebaik-baik pembuat rencana.

Dan rencana Allah pasti baik, Dia tidak pernah dan tidak akan berbuat dzalim pada hamba-Nya.

Dia tahu, dan percaya, Anda bisa membantu mereka keluar dari masalahnya. Tidak ada orang yang suka dirinya bermasalah. Apa anak Anda suka menjadi nakal? Tidak, itu hanya caranya mendapatkan sesuatu yang tidak dia ketahui caranya yang lebih baik. Apa tetangga Anda suka memiliki sifat kalau berbicara menyakitkan? Pasti tidak, itu karena ada kesalahan yang ingin dia ubah namun tidak tahu cara menyampaikan yang lebih santun.

Kalau Anda ditakdirkan mendengarkan mereka, berarti Anda berkesempatan membantu mereka.

“Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman”. (Riwayat Muslim)

Kalau Anda lari, kesempatan akan hilang, namun permasalahan hanya akan berganti. Di tempat baru, Allah akan berikan masalah yang lain. Karena sebenarnya masalah itu hanyalah cara Allah menguji kita.

Hidup itu ujian, maka hidup penuh masalah. Namun bila cara pandang anda digeser, hidup itu ladang amal, maka masalah adalah kesempatan Anda beramal.

Wallahu A’lam