Gilig Guru

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 5.004 pengikut lainnya

Puisi tentang Pasangan

“PASANGAN”

Meski sepasang, tapi tetap saja berbeda. Sandal kiri dan kanan, meski kembar, tapi tidak boleh tertukar. Coba saja kalau tak percaya, niscaya jalanmu tak lagi leluasa.

Siang itu pasangannya malam. Masing-masing ada bagiannya. Jika datang waktunya siang, malam mengalah, jadilah pagi. Saat tiba waktunya malam, siang melangah, jadilah senja. Pemandangan di dua waktu ini sungguh menakjubkan.

Matahari dan rembulan lebih jelas lagi perbedaannya. Maka jangan kita membanding-bandingkan. Masing-masing punya peran sendiri. Suatu saat tatkala matahari dan rembulan bertemu menjadi gerhana, mata seluruh dunia tertuju kepadanya.Hadirnya pasangan, genap sudah hidup ini. Tanpa kehadirannya, ganjil rasanya.

Gilig Guru

Ciri Kecanduan HP Berat

Yang dimaksud kecanduan berat disini adalah tidak hanya mempengaruhi gaya hidup, tapi bahkan merubah cara berpikir tentang hidup. Pada kecanduan tahap awal, orang dewasa sekalipun sering meremehkan ini, dimana dunianya sudah beralih dari nyata ke maya. Dia menarik diri dari interaksi sosial, seperti tidak lagi menyukai bermain di luar, atau berkunjung ke rumah teman, melainkan lebih memilih asyik bersama HP nya, meskipun sedang berada di luar atau di tengah-tengah teman. Dia (fisiknya) berada di tengah temannya tapi dia (perhatiannya) tidak hadir di sana.

Pada kecanduan berat, seorang tercandu HP sudah merubah nilai hidupnya mengikuti nilai yang disajikan di dunia maya. Mulai dari cara kerjanya menuntut dirinya ber-multitasking kendati sulit untuk menuntaskan capaiannya. Misalnya, di saat anak disuruh belajar menghafal Al-Qur’an, dia merasa waktunya terbuang sia-sia kalau “cuma” untuk hafalan. Maka dia akan mengerjakan sesuatu yang lain di balik layar (seperti mendownload film, menginstal game, dll), agar saat belajarnya selesai, keinginannya yang lain juga tercapai. Masalahnya bukan terletak pada multi-taskingnya. Melainkan pada hilangnya fokus, dia tidak lagi mengejar target hafalan sekuat tenaga karena harus berbagi konsentrasi. Malah yang lebih parah lagi adalah bila sebenarnya yang lebih diinginkannya adalah yang di balik layar, sementara menghafal hanyalah untuk menyenangkan orang tua atau guru.

Tanpa sadar cara kerja HP bisa mempengaruhi cara kerja kita, misalnya banjirnya informasi melalui internet membuat kita justru tidak bisa mencerna semua informasi itu secara efektif. Yang terjadi justru kita hanya menjadi short-spanned readers, pembaca yang mudah lelah konsentrasinya membaca tulisan panjang. Akhirnya hanya menjadi pembaca judul, mudah terseret oleh click-bait. Dalam jangka panjang orang yang tercandu HP sulit mengerjakan segala hal hingga tuntas. Dia lebih fokus kepada penampilan daripada manfaat. Lahirlah generasi pengejar konten viral. Mereka berdalih, “tapi kan menghasilkan uang banyak…”

Ketahuilah, uang bukan satu-satunya hal yang berharga di dunia ini.

Poster Amal Solih Harian (printables)

SOLIH DI SEKOLAH YA SOLIH DI RUMAH…

Poster ini membantu mengingatkan anak untuk disiplin dalam ibadah dan istiqomah dalam kebaikan. Beberapa kegiatan dicentang harian contohnya:

  • Bangun subuh
  • Sholat 5 waktu
  • Baca buku
  • Bantu-bantu
  • Mengaji
  • TIDAK MARAH

dipantau dalam 30 hari agar membentuk kebiasaan yang permanen sehingga berkelanjutan seterusnya.

Bagi yang mau ngeprint sendiri, silakan download dengan klik BACA BISMILLAH ini ya.

Adapun khusus buat desainer Indonesia, silakan mendownload MASTER FILE CDR nya di link ALHAMDULILLAH ini, ok. Kalau berkenan berinfaq, dengan senang hati kami mendoakan keberkahan Anda sekeluarga dan usahanya. Berikut nomor rekeningnya:

Norek. 713-737-0586

Bank BSI (BSM) atas nama GILIG PRADHANA

Jazakumullah khoiron

Download Gratis Stiker Salam

Semoga Allah menyelamatkan saya dan keluarga saya dari api neraka.

Stiker ini dibuat untuk menyebarkan salam, menghidupkan kembali budaya Islam yang sedikit demi sedikit terlupakan atau ditinggalkan. Semoga dengan kemudahan ini Anda ikut masuk dalam golongan yang menyambut seruan Allah dan rasul-Nya untuk ikut menyebarkan salam.

Silakan diperbanyak untuk kebaikan. Saya hanya mohon didoakan dalam kebaikan.

File berupa PSD. Bagian tulisan merah dapat dihapus. Tapi tolong file mentahnya jangan disimpan di website lain, cukup di komputer Anda saja. Kalau ingin menghubungi bisa ke +628-123-549-5544 (klik di nomor HP untuk mendownload).

Al-Aqsa Infographic

Dialog Iman Ashabul Kahfi

Ilustrasi. dari i.pinimg.com

Dialog iman adalah percakapan yang isinya mengantarkan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam Al-Qur’an terdapat 120 dialog yang menggunakan sekitar 1000 ayat, itu berarti hampir 1/6 kandungan Al-Qur’an adalah ayat dialog. Salah satu contoh dialog dapat diambil dalam surat Al-Kahfi, ketika para pemuda gua baru bangun dari tidurnya yang panjang. Kenapa ini perlu kita renungi?

Tertidur 309 tahun itu aneh. Inilah yang dialami para pemuda yang berjejuluk “Ashabul Kahfi”. Maka ketika Allah mengisahkan momen terbangunnya dari tidur untuk saling bertanya, maka kita akan berharap dialognya luar biasa.

 Al-Qur’an menyebutkan dialog tersebut dalam ayat 19,

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?).”

Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari.”

Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).

  1. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini,
  2. dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik,
  3. maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu,
  4. dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut
  5. dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”
    (Temukan di Al-Qur’an surat Al-Kahfi, surat ke 18 di juz 15)

Ternyata, isinya “hanya” seputar perkiraan lama waktu tidur, yang kemudian dibelokkan kepada topik makanan… Wajar kalau ada yang heran dan bertanya, “Kenapa yang begini masuk dalam Al-Qur’an?”

Mari kita gali apa hikmah dalam dialog “ringan” seperti ini.

Kalau Disebut Al-Qur’an Pasti Itu Penting!

Al-Qur’an adalah kitab suci, bukan sembarang buku. Bayangkan begini, kalau ada nama seseorang masuk ke guiness book of record tentu orang itu luar biasa. Kalau Bill Gates me-mention nama kita dalam cuitan twitternya, yakinlah sebentar lagi bakalan banyak yang mem-follow akun kita.

Coba bandingkan, para pemuda yang tertidur dalam gua ini di-mention oleh Allah! Disorot dalam Al-Qur’an, pasti akan dibaca oleh jutaan manusia hingga hari kiamat. Populeritasnya tak berujung. Pasti ada sesuatu-nya.

Jadi apa yang ditulis dalam ayat, satu huruf sekalipun, pasti memiliki makna yang besar. Bertambah huruf bertambah makna. Apalagi kalau satu rangkaian kisah.

Hikmah Dialog

Rupa-rupanya, orang yang pertama dalam ayat 19 bertanya sesuatu yang tidak begitu penting, yakni “berapa lama tidur?” meski kemudian ditanggapi oleh beberapa orang berikutnya, namun akhirnya diluruskan bahwa “Rabb kalian lebih mengetahui”. Membicarakan masalah lamanya waktu tidur bagi mereka tidak begitu berpengaruh apa-apa, jadi berhentilah berdebat. Sebab ada masalah lain yang lebih mendesak, yakni konsumsi dan keamanan. Di luar sana, tentara kerajaan masih memburu mereka. Sementara kalau terus-menerus bersembunyi di gua, para pemuda itu tidak mungkin bisa bertahan lama. Mereka harus keluar untuk mengumpulkan sumber daya sembari tidak terlalu menarik perhatian meski tetap bersikap simpatik.

Nampaknya Allah hendak mengajarkan agar kita fokus kepada penyelesaian masalah, yang untuk itu perlu pertanyaan yang pas untuk memancing percakapan. Nanti kisah Ashabul Kahfi ini berlanjut kepada pertanyaan gagal fokus orang-orang dan sikap penguasa sesudahnya yang alih-alih membangun keimanan yang kokoh atas ketauhidan ashabul kahfi, malah sibuk membangun bangunan di atasnya.

Hikmah yang kedua, memperjuangkan hidup fi sabilillah itu lebih berat ketimbang mati fi sabilillah. Perlu strategi, kesabaran, dan keistiqomahan menapaki setiap tahapan itu.

Masyaallah, ternyata percakapan ringan para penghuni gua ini bisa digali dan melahirkan sebuah panduan bagi pergerakan dakwah Islam.

Bagaimana rinciannya? Semoga kelak ada tulisan yang menyambungnya.

SEORANG JENDRAL FIRAUN YANG MUSLIM

Dalam surat Ghafir dikisahkan bahwa akhirnya dia angkat bicara. Keputusan Firaun untuk mengulangi pembantaian terhadap anak-anak tidak boleh dibiarkan. Terlebih lagi, modusnya adalah untuk memberi tekanan kepada orang tua yang beriman pada nabi Musa a.s.

Sang Jenderal mengingatkan bahwa dulu Nabi Yusuf a.s. telah diutus untuk bangsa mereka. Kini Musa, a.s. Apakah kerajaan Mesir sedang membuat alasan untuk ditimpakan adzab?

Menarik, bahwa Nabi Yusuf dikisahkan dalam surat ke 12 dan Nabi Musa surat ke 28. Surat Yusuf berisi kisah terbaik, sementara “suratnya” Nabi Musa berjudul Al-Qasas (Kisah). Nabi Yusuf memiliki banyak hubungan kisah yang unik dengan Nabi Musa. Beberapanya:
1. Nabi Musa dibuang ke sungai (air), Nabi Yusuf ke sumur (air).
2. Nabi Musa masuk istana sejak kecil, Nabi Yusuf nanti setelah dewasa.
3. Ibunya Nabi Musa diberi ilham agar menyelamatkan putranya dengan cara yang tidak masuk akal, Ayahnya Nabi Yusuf menyarankan putranya agar selamat melalui cara yang masuk akal. Namun akhirnya, caranya Allah yang berhasil.
Dst.

Menarik, karena sang Jenderal yang menjadi penghubung dua kisah ini ada di surat ke-40. Yakni 12+28.

Ternyata “kelancangan” sang Jenderal tidak menyebabkannya terancam nyawa karena dianggap menentang Firaun yang mengaku tuhan. Justru Sang Jenderal dilindungi Allah swt.

Moralnya adalah: Jihad yang paling afdhol adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang dzalim. Bahkan satu suara saja bisa membatalkan kerusakan besar, atas ijin Allah.

Berbicaralah wahai para pemegang kebenaran! Jangan biarkan kedzaliman melenggang.

SYARIAT INI TERLALU BERAT

“Aku ini hanya manusia biasa, bukan seorang Nabi. Aku tidak harus mengikuti syariat ini, Allah Maha Tahu bahwa aku ini lemah, aku butuh harta, aku butuh wanita, pasti Allah memaafkanku kalau aku sedikit melanggar, karena Allah Maha Pengampun.”

* Justru karena kamu lemah, Allah menciptakan syariat itu. Syariat itu adalah untukmu, bukan cuma untuk Nabi, tapi juga untuk seluruh manusia. Kamu bilang Allah Maha Tahu, tapi kamu menganggap syariat ini tidak cocok untuk manusia sepertimu karena kamu anggap kondisimu khusus? Kamu lebih tahu dari Allah? Kamu mau mengajari Allah tentang agama yang lebih cocok buatmu?

Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?” (QS Al Hujurat ayat 16)


Berdasar Penjelasan dari Ustadz Nouman Ali Khan (Surat Yusuf – part 23b)

Majelis ilmu itu untuk mencerdaskan, bukan memamerkan kecerdasan

Menilai Institusi Pendidikan (Dari Sudut Pandang Tazkiyatun Nafs)

“Ini baik, itu buruk.” Label memudahkan kita membedakan. Tapi ingat, apa tujuannya?

Kita bisa memberikan ukuran benar dan salah terhadap sebuah jalannya pendidikan, tetapi tidak serta merta bisa berhak melabeli sebuah institusi pendidikan.

Dari sekolah, hingga yang paling kecil, keluarga.
Karena ukuran benar dan salah yang kita rumuskan itu dalam tataran konsep, sedangkan bila masuk dalam tataran realitas institusi manapun ada banyak pertimbangan yang kita tidak tahu detailnya.
Maka dari itu, misalnya, tidak pantas melabeli Nabi Nuh alayhi salam sebagai citra “ayah yang gagal mendidik keluarganya”. Dengan alasan yang sama, yang kebanyakan kita tahu hanya anak dan istri beliau pada akhirnya durhaka, sedangkan bagaimana proses pendidikannya selama itu kita tidak tahu.
Kita hanya bisa mengumpulkan potongan-potongan rumusan nilai seperti:
– Jangan mudah marah, tapi ada saat dimana marah itu perlu
– Jangan berbuat kasar, tapi ada pengecualian dimana hal itu tidak disebut kasar
– Berbuat adil, tapi ukuran keadilan itu bisa berubah-ubah menurut situasi dan kondisi
Lagipula melabeli sesuatu harus ditujukan untuk contoh pelajaran. Yakni agar diambil kebaikannya dan tidak diulang kesalahannya. Kalau ditujukan untuk menjatuhkan yang lain dan meninggikan diri sendiri, maka bukankah itu ciri kesombongan. Padahal tidak ada akhir kesombongan kecuali celaka. Hanya karena kecerobohan melabeli.
Naudzubillahi min dzalik.
Hari tasyrik ke-2
2 Agustus 2020