Gilig Guru

Beranda » Berita » SMA Tatsuno, Sekolah "Sangar" di Prefektur Nagano yang Kreatif

SMA Tatsuno, Sekolah "Sangar" di Prefektur Nagano yang Kreatif

Siswa sekolah menengah di Jepang

Siswa sekolah menengah di Jepang

Setiap hari Selasa malam, dari jam 6.00 hingga jam 8.30 waktu Nagoya (16.00~18.30 WIB), saya mengikuti kelas khusus untuk syakai jin (orang yang sudah bekerja). Kelasnya sebenarnya berupa seminar kecil yang diikuti para guru SMA yang sedang mengikuti in-service training di Meidai, pun diikuti oleh mahasiswa program Master. Tema yang dibicarakan dalam course ini sangat menarik, karena membahas realita sekolah-sekolah di Jepang.

Pekan ini kami mengundang kepala sekolah SMA Tatsuno, yang berada di Nagano-ken (nama prefektur) untuk menjelaskan lebih lanjut tentang sekolah yang dipimpinnya, yang pekan sebelumnya sudah kami mencari data-data dan diskusikan di kelas yang sama. Nagano selama ini dikenal seantero Jepang sebagai prefektur yang sangat kreatif dalam pengembangan pendidikan terutama primary dan secondary education.

SMA tersebut terletak di kota Tatsuno (bagian Selatan Nagano, distrik Kami-ina), yang merupakan satu2nya SMA negeri di wilayah tersebut. Hampir 50 % lulusan SMP Tatsuno lebih memilih untuk melanjutingkatan SMA-nya di kota lain. Fakta ini mendorong kepala sekolah SMA untuk mensurvey anak dan juga ortu-nya untuk menjawab pertanyaan: Mengapa mereka tidak mau bersekolah di SMA Tatsuno? Hasil angket sungguh mencengangkan, sebagian responden mengatakan bhw mereka tidak tahu model pendidikan seperti apa yang dikembangkan di SMA tersebut, shg siswanya mempunyai perilaku yang buruk, seperti buang sampah sembarangan, melanggar lampu merah, berkata kasar, dan lain-lain. Hasil angket ini kemudian di bahas di forum siswa (semacam rapat OSIS), dan dalam rapat tersebut pun terlontar pendapat polos siswa SMA yang mengatakan bahwa warga setempat pun tidak peduli dengan mereka. Akhirnya disepakati untuk mengundang warga, orang tua untuk membagi ide seperti apa sebenarnya SMA yang mereka inginkan. Dari hasil forum tersebut, akhirnya disepakati untuk membentuk forum rutin membicarakan masalah sekolah dan kota.

Di dalam SMA Tatsuno sendiri, siswa bersepakat untuk memperbaiki diri, salah satunya membuat aturan dan ajakan untuk mematuhinya. Barangkali ini yang sangat patut diacungi jempol di dalam kultur Jepang, mereka sangat patuh dan disiplin jika sudah ada ketetapan terhadap suatu aturan. Forum siswa telah berlangsung sebanyak 26 kali sejak tahun 1998, dan hasil yang dicapai menjadi sorotan para pemerhati pendidikan di Jepang karena berhasil mengangkat status SMA Tatsuno sebagai SMA favorit di Nagano.

Adapun warga, mereka sangat menaruh perhatian dengan perilaku siswa sehari-hari, tidak segan menegur bahkan memuji yang karenanya siswa merasa `ada yang menghargai mereka`. Warga pun yang sebagian besar orang-orang berusia lanjut pun merasa dihargai karena pendapat mereka didengar dan jasa mereka masih dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Timbal balik ini berlangsung hingga saat ini, beberapa warga yang memiliki keahlian, bersedia menjadi volunteer untuk mengajari anak2 SMA suatu keterampilan. Salah satu kebijakan SMA Tatsuno adalah memperkenankan siswanya untuk bekerja part time (arubaito) sepulang sekolah (arubaito dibolehkan oleh sebagian SMA2 di Jepang, terutama yang ada di countryside-hal yang sama saya jumpai di Souya, Hokkaido). Keputusan ini tentu saja diamini oleh orang tua yang sangat keberatan dengan biaya yang pun harus mereka keluarkan untuk keperluan anak muda Jepang: HP, CD, iPod, komik, dan lain-lain.

Kerjasama sekolah tidak hanya dengan warga, tapi berlanjut ke pemerintah. Di Jepang SD dan SMP dikelola oleh Board of Education (kyouikuiinkai) yang ada di distrik, tapi SMA dikelola oleh kyouikuiinkai di tingkat prefektur. Pihak kyouikuiinkai pun diundang dalam Forum Siswa, dan mereka pun dibuat tercengang dengan ide-ide cemerlang yang datang dr siswa dan warga. Dengan jalan ini mereka menjadi lebih tahu dengan kondisi sebenarnya di sekolah yang biasanya mereka hanya dapatingkatan dalam pertemuan-pertemuan kepala sekolah.

Di dalam sekolah sendiri, reformasi pun diadakan. Dalam salah satu angket yang disebarkan kpd siswa didapati adanya ketidakpuasan siswa terhadap cara mengajar guru. Hasil angket didiskusikan dalam Forum Siswa. Guru mengkritik siswa yang nilai2 ujiannya jelek, dan ketidakseriusan mrk dalam belajar, siswa pun balik mengkritik: `Sensei no jugyou wa omoshirokunai` (Pelajaran anda gak menarik !). Yang sangat menarik adalah kesepakatan siswa u menyerahkan PR setiap hari. Semula para guru tidak mewajibkan adanya PR karena dianggap akan membuat siswa tertekan, tapi leader dari forum mengatakan bahwa: shukudai ga hitsuyou (PR itu penting!). Kesepakatan ini membawa dampak yang sangat bagus, ketika pertama kali disurvey th 2003, ada 65% siswa yang menjawab bahwa `mereka sama sekali tidak belajar di rumah`. Tahun 2004, untuk pertanyaan yang sama, hanya 35% siswa yang menjawab `ya`.

Kalau di Indonesia, guru biasanya menjelaskan apa tujuan mempelajari sesuatu di awal tahun ajaran, misalnya apa tujuan belajar biologi, matematika, dan lain-lain, atau malah kadang2 tidak ada penjelasan sama sekali karena dianggap sudah tercantum di buku2 pelajaran. Di SMA Tatsuno, siswa menerima buku panduan silabus yang menerangkan semua mata pelajaran sejak kelas 1 hingga kelas 3, apa tujuan, target, metode pembelajaran, jam belajar dan lain-lain (seperti silabus di Indonesia). Model ini sebenarnya meniru apa yang diterapkan di Perguruan Tinggi, mahasiswa selalu menerima buku Panduan Mata Kuliah. Beberapa mata ajaran SMA di Jepang adalah mata ajaran pilihan, sehingga model ini layak untuk dipakai.

Tidak hanya kegiatan belajar mengajar, tapi kepala sekolah pun menyebar angket tentang pendapat siswa sehubungan dengan fasilitas sekolah, kota, dan lain-lain. Salah satu yang dikritik adalah jadwal kereta JR yang sehari-hari dipakai siswa untuk berangkat ke sekolah. Tahun 2004, JR memenuhi permintaan mereka untuk membuat rute baru agak mereka tidak terlambat sampai di sekolah.

Suatu kerjasama yang sangat baik antara sekolah, masyarakat dan pemerintah telah ditampilkan oleh salah satu SMA di pelosok Jepang.

*bahasa diedit oleh redaksi

Iklan

1 Komentar

  1. jeprie berkata:

    bagus sekali. bukan sekadar berwacana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 119,234 orang

See me

%d blogger menyukai ini: