Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Perbedaan antara Pluralitas Agama dengan Pluralisme Agama

Perbedaan antara Pluralitas Agama dengan Pluralisme Agama

Pengantar

Sudah pernah dengar istilah Pluralisme Agama dan Pluralitas Agama? Jenis makhluk apa pula itu? Masyarakat awam perlu juga tahu pengertian kedua istilah itu, agar tidak mudah dikibuli oleh lidah yang tidak bertulang. Paling tidak jika ada yang bertanya, kita tidak “asal bunyi” saja. Nah, ada istilah Pluralitas Agama dan ada pula Pluralisme Agama. Ingat, jangan salah menyebutkannya.

Memang, dua istilah ini mendadak jadi kesohor setelah pak SBY menyebutkannya pada pidato pemakaman Cak Dur di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Di bawah ini, ada keterangan yang gamblang (insya Allah) dan memudahkan memahaminya.

Pluralitas Agama

Pluralitas agama adalah sebuah fakta bahwa di suatu negara atau daerah terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan. Definisi ini menggambarkan bahwa kita di Indonesia hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain. Pluralitas agama juga diartikan menerima dan mengakui beragamnya agama. Kita mengakui bahwa di sekeliling kita ada agama-agama lain selain Islam. Pengakuan ini sebatas pada keberagaman agama, bukan kebenaran agama lain. Dalam bahasa yang sederhana dan gampang, pluralitas agama punya pengertian bahwa di sekitar kita ada pemeluk agama lain selain agama kita.

Pluralisme Agama

Pluralisme agama adalah paham yang mengajarkan bahwa semua agama itu sama. Karena itu, kebenaran setiap agama adalah relatif. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, agama lain adalah salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.

Pluralisme Agama berasumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Menurut penganut paham ini, semua agama (bisa jadi) punya jalan yang berbeda-beda tetapi menuju Tuhan yang sama. Mereka menyataka bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak. Karena kerelatifannya itu, maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain? atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.

Mereka kaum pluralis, pluralisme agama tidak sekadar mengakui keberadaan berbagai agama. Bahkan lebih jauh mereka menganggap bahwa semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ‘porsinya’ tidak sama. Semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun ‘resepnya’ berbeda-beda. Dengan kata lain, menurut mereka, ada banyak jalan menuju Tuhan.

Di Indonesia pluralisme kerap dipadankan dengan inklusifisme. Inklusifisme sama bahyanya. Ia mengajarkan bahwa agama Anda bukanlah satu-satunya jalan keselamatan. Tidak boleh Anda menganggap penganut agama lain bakal menjadi penghuni neraka.

Penutup

Nah, kita sudah tahu, bukan, makna pluralitas agama dan pluralisme agama? Sekarang kita harus punya sikap: menolak pluralisme agama, tapi mengakui pluralitas agama. Kita harus yakin bahwa cuma orang Islam yang pasti bakal masuk surga (dengan memenuhi semua persyaratan untuk masuk surga tentunya) sedangkan pemeluk agama lain pasti masuk neraka.

Meskipun demikian, karena mengakui pluralitas agama, kita tetap bersikap baik dan toleran kepada pemeluk agama lain. Kita tidak boleh menyakiti, tidak menghina, tidak menzolimi mereka, dengan tetap mengacu pada aturan-aturan dalam Islam.

Bagi pemeluk agama lain, seperti Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan lain-lain, silakan meyakini bahwa cuma pemeluk agama Anda yang pasti masuk surga dan pemeluk agama lain akan masuk neraka. Akan halnya untuk urusan duniawi yang tidak berhubungan dengan prinsip keyakinan agama, sama-sama kita toleran, saling menghagai dan menghormati. Ini cukup fair, bukan? Dalam urusan perbuatan yang sifatnya umum, berlomba untuk melakukannya adalah hal yang perlu dilakukan. Orang Islam berlomba berbuat baik. Penganut agama lain, silahkan juga melakukannya, asal tidak ada “buntut”nya.

Seorang Muslim jangan tersinggung jika ada pemeluk Kristen, Katolik, hindu atau Budha, mengklaim cuma agamanya saja yang benar. Begitu juga dengan pemeluk agama lain, jangan tersinggung jika seorang Muslim mengatakan cuma Agama Islam yang benar. Untuk masalah keyakinan, bisa saja akan terjadi dialog agama. Islam membolehkan seorang Muslim melakukannya dengan cara yang baik dan santun, disertai dengan hujjah yang kuat.

Majelis Ulama Islam dalam fatwanya Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tanggal 29 Juli 2005 Tentang Pluralisme, Liberalisme Dan Sekularisme Agama, telah menetapkan bahwa pluralisme agama sebagaimana dimaksud di atas adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Jadi, kita mengakui pluralitas agama dan menolak pluralisme agama.

Iklan

3 Komentar

  1. Andik Cahyono berkata:

    Sayang sekali kalo sampai ada ulama yg malah mendakwahkan pluralisme yach? malah skrg masuk dalam pelajaran agama loh. Apa yg bs dilakukan para guru?

  2. annas berkata:

    mukin perselisihan pendapat yang ada di karenakan perbedaan pendefinisian pluralitas dan pluralisme.
    meneurut saya secara bahasa, pluralitas dan pluralisme berasal dari kata dasar yang sama, shg artinya sama.
    Cuma dimasyarakat diartikan sbg TOLERANSI BERAGAMA, dan satunya mengartikan SEMUA AGAMA ITU SAMA.

    • Mahbub berkata:

      Perbedaan ini bukan cuma per definisi. Tapi sudah masalah keyakinan. Kalau seperti ini khan sudah menyangkut hal yang fatal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 115,454 orang

See me

%d blogger menyukai ini: