Gilig Guru

Beranda » Rokok

Category Archives: Rokok

Cara Indonesia Membentuk Budaya

Budaya adalah kebiasaan yang dilakukan dan disepakati banyak orang di sebuah komunitas yang berinteraksi sehari-hari.

Budaya bisa muncul dalam sebuah keluarga, dalam sebuah institusi sekolah, tempat kerja, lingkungan masyarakat hingga sebuah bangsa bahkan lintas negara bila budaya itu dilakukan atas dasar keyakinan beragama. Dalam konteks ini, yang dimaksud budaya bukanlah hasil karsa dan karya manusia, namun semacam penginternalisasian nilai tertentu ke dalam ruang lingkup yang luas (bukan sekedar pribadi/individu-individu)

(lebih…)

Iklan

Semangat Berhenti Merokok!

no smoking ganbatte kudasai

 

(lebih…)

Manfaat Rokok (Humor Mantap Si Juki)

Logis bukan?

Logis bukan?

Iklan lucu untuk Menertawakan Rokok

Sebuah ruang khusus untuk merokok…

Dengan pemandangan mengerikan bila anda tengok ke atas.

Sebenarnya berbagai cara telah ditempuh untuk menghentikan kebiasaan buruk ini. Mulai dari peringatan yang halus hingga larangan keras, yang agama hingga ilmiah juga ada, bahkan kali ini lucu. Namun namanya syahwat (alias nafsu) yang diperturutkan, peringatan dan larangan itu seolah tidak berbekas di hati perokok. Maka untuk melawan itulah ini ketiga kalinya saya menulis sesuatu tentang rokok. Karena memang dakwah tidak boleh mengalah, harus istiqomah.

Di link pertama ini saya sediakan 20 gambar menggugah untuk para perokok seperti contoh di atas. Di link kedua ini ada 35 gambar lucu tentang rokok.

Anda akan lihat banyak orang sebenarnya berusaha menyelamatkan perokok dari rokoknya. Anda juga bisa lihat bahwa usaha-usaha itu serius, dan seringkali tidak gratis. Jadi untuk membayangkan seorang perokok yang seenaknya saja menghembuskan asap di tempat umum, membuat saya (dan banyak lainnya) menahan marah.

Disini saya menghimbau, sisihkanlah uang rokok untuk bersedekah, paling tidak untuk istri atau ibu anda. Dan yang penting, jika terpaksa merokok: BERSEMBUNYILAH! supaya anda tidak terkena dosa jariyah disebabkan orang lain yang terdzalimi mendoakan keburukan dan anak-anak muda yang mungkin mencontoh ajaran merokok.

Merokok Itu Hukumnya Haram

Seringkali mengingatkan orang berhenti merokok amatlah susah, nah berikut ini adalah karya desain digital yang dibumbui humor yang menyindir para perokok. Bila bisa mengingatkan agar berhenti, Alhamdulillah… bila tidak, sedikitnya kita sudah berusaha mengingatkan.

1. Merokok dapat menurunkan berat badan (dengan mengurangi satu demi satu paru-parunya)

2. Merokok dapat memutuskan hubungan sosial (karena perokoknya mati)

3. Sebenarnya sih… kamu dirokok!

4. Ingin melihat bagaimana wajahmu setelah mati?

5. Jagalah kebersihan, jangan buang abu rokok sembarangan…

Masih ada 35 gambar lagi di sini
[*] Sebarkan yuk!

Bodohnya Perokok: Lebih Penting Rokok Daripada Gizi Anaknya

Sabtu, 9 Mei 2009 | 17:06 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati

JAKARTA, KOMPAS.com – Rokok menyebabkan ketergantungan yang menjerat konsumennya tanpa pandang status sosial ekonomi penggunanya. Konsumen rokok tidak lagi mempunyai pilihan untuk menentukan apakah merokok atau menunda rokoknya demi memenuhi kebutuhan makan bagi keluarganya. Akibat ketergantungan pada rokok, kebutuhan asupan makanan bergizi bagi anak balita dalam keluarga miskin seringkali dikorbankan.

Demikian benang merah diskusi terbatas yang diprakarsai Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), Sabtu (9/5), di Kemang, Jakarta. Diskusi bertema Kekurangan Gizi pada Balita dan Konsumsi Rokok Keluarga Miskin ini melibatkan para pakar di bidang kesehatan dan gizi, para pengambil kebijakan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan akademisi.

Dengan sumber daya ekonomi terbatas, 63 persen pria dewasa dari 20 persen penduduk termiskin di Indonesia mengonsumsi 12 persen penghasilan bulanannya untuk membeli rokok yang merupakan pengeluaran kedua setelah padi-padian. Data Susenas 2006 menunjukkan, pengeluaran untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, dua kali lipat pengeluaran untuk ikan, dan 17 kali lipat pengeluaran untuk membeli daging.

Studi pada 175.859 rumah tangga miskin perkotaan di Indonesia selama tahun 1999-2003 mendapati, sebanyak 73,8 persen kepala keluarganya adalah perokok aktif, dengan pengeluaran mingguan untuk membeli rokok 22 persen yang merupakan porsi pengeluaran terbesar di atas beras. “Perilaku merokok kepala keluarga telah menggeser pengeluaran yang seharusnya untuk membeli makanan dan meningkatkan risiko gizi kurang, anak sangat kurus dan anak sangat pendek,” kata Prof Farid Anfasa Moeloek.

Dalam studi sejenis pada 361.021 rumah tangga perkotaan dan pedesaan pada tahun yang sama membuktikan, kematian bayi dan balita lebih tinggi pada keluarga yang orang tuanya merokok daripada yang tidak merokok. Risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar 14 persen di perkotaan dan 24 persen di pedesaan.

Dengan angka kematian balita 162.000 per tahun sebagaimana diungkapkan Unicef tahun 2006, maka konsumsi rokok pada keluarga miskin menyumbang 32.400 kematian tiap tahun atau hampir 90 kematian balita per hari. Dua faktor penyebab langsung kekurangan gizi pada balita adalah asupan makanan dan penyakit infeksi yang dipengaruhi kecukupan pangan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan tidak memadai, kata peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, Rita Damayanti.

Kecukupan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, daya beli keluarga, dan pemanfaatan pangan. Daya beli cenderung hanya dikaitkan dengan tingkat pendapatan tanpa memperhatikan bagaimana keluarga membelanjakan uangnya sehingga uang yang tersedia menjadi tidak cukup untuk membeli makanan bergizi.

Maka dari itu, untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga miskin dan dampak lanjutannya pada status gizi balita tidak cukup hanya dengan memberi tambahan uang (BLT) dan upaya ekonomi produkti lain tanpa intervensi pada pola pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk membeli produk adiktif seperti rokok. “Karena itu, arus-utamakan masalah tembakau pada gerakan sadar gizi dan pencapaian sasaran pembangunan milenium (MDGs),” kata Roy Tjiong dari Hellen Keller International.

Arus-utamakan masalah tembakau pada pedoman hidup bersih dan sehat, jadikan sekolah dan tempat-tempat umum bebas rokok atau kawa san tanpa rokok, lipat gandakan cukai tembakau, dan tegakkan fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang larangan merokok dengan meratifikasi aksesi Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau atau FCTC dan advokasi Rancangan Undang Undang Pengendalian Dampak Tembakau, ujarnya.