Gilig Guru

Category Archives: Puisi

Puisi Pemimpin Kafir

Kenapa diungkit-ungkit, kalau cuma 1 kesalahan?
Tidak bisakah kalian memaafkan?
 
Dosa yang “cuma” satu itu adalah Sang Maha Esa dipersekutukan
Lancang saya memaafkan jikalau Allah sendiri tidak berkenan.
Untuk apa dipuji segala yang mereka anggap kebaikan
Jikalau seluruh negeri remuk redam di ujung kemarahan Tuhan?
Iklan

Puisi: Terima kasih ya Allah, Aku Pelupa

Terima kasih ya Allah, Aku Pelupa

(lebih…)

(Berima) Pacar Berciuman Tidak Berdosa Menurut Nasrani?

Belajar di masa kecil agar menjadi panduan di masa dewasa

Belajar di masa kecil agar menjadi panduan di masa dewasa

Di dalam Islam, perbuatan manusia itu dihukumi oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an adalah firman Allah SWT sedangkan As-Sunnah adalah sabda Nabi Muhammad SAW. Maka dari itulah sejak dini kaum Muslimin belajar untuk membaca dan menghafal kitab suci, agar kelak ketika dewasa setiap perbuatannya selalu dalam bimbingan wahyu ilahi.

Berpacaran misalnya, tentu merupakan trend yang disukai setiap Wawan dan Wati, melihat muda-mudi di sekolahnya berjalan berduaan bergandengan tangan layaknya Mami-Papi bisa membakar nafsunya untuk ikut-ikutan seperti acara di televisi.

(lebih…)

Sekelupas Puisi Demokrasi dan Khilafah

Pilihan Cita-cita

Daripada berebut kursi Demokrasi
Sampai tak lepas dari caci-maki,

Ayo giatkan dakwah khilafah
Sambil menjalin ukhuwah Islamiyyah

Sama-sama terjal mendaki
Namun berbeda nilai di hadapan Allah

Harta Suami dan Istri

Sekaya-kayanya istri dia TIDAK wajib menafkahi suaminya
Semiskin-miskinnya suami dia WAJIB menafkahi keluarganya

Begitulah Islam mengatur keadilan
Sehingga saat kau pahami warisan
Bagi laki-laki 2 bagian
Dan 1 saja buat perempuan

Kamu pahami sepenuh hati

Berbeda-beda Akhirnya Satu Jua

Syahdan di sebuah negara Demokratik
Seorang presiden baru dilantik
Di gedung DPR, ke atas mimbar dia naik
Dengan gagah berwibawa dengan berpekik
“Mari Perangi Korupsi!”

Semua terbengong
Kemudian riuh melolong

(lebih…)

Loudspeaker Tetanggaku

Aku sudah gugup saat dia menyiapkan
Seperangkat pengeras suara di depan
Rumahnya yang bersebelahan dengan jendela
Yang tepat di bawahnya aku mencoba pejamkan mata

Percikan “Tes… Tes…” nya bergetar di kaca
(lebih…)