Gilig Guru

Beranda » Pendidikan » Sekolah

Category Archives: Sekolah

Berkunjung ke Ponpes Tahfidz Hamalatul Qur’an Yogya

DSCF3456

Beginilah suasana perpustakaan pondok. Koleksinya belum begitu banyak, dan sebagian besar adalah buku diktat sekolah. Tidak saya temukan buku ensiklopedi atau majalah. Untuk sebuah ponpes yang ditujukan bagi siswa SMP-SMA, buku yang disediakan tergolong dewasa. (lebih…)

Iklan

Cara Jepang Menanamkan Moral di Pelajaran

Keberangkatan saya ke Jepang kali ini adalah untuk mencari jawaban pertanyaan besar:

Memang benar Jepang itu negara non-Islam, tapi kenapa masyarakatnya bisa lebih bersih dan berdisiplin bila dibandingkan dengan Indonesia, yang mayoritas Muslim?

Tentu saja pertanyaan di atas adalah awam, karena terlalu umum dan terlalu dangkal relevansinya untuk mengkaitkan kebersihan dan kedisiplinan langsung dengan agama, sebab masih banyak faktor yang perlu dipertimbangkan seperti budaya, ekonomi, dan pendidikan. Lagipula pertanyaan tersebut hanya berasal dari sample yang belum terukur kevalidannya. Kasarnya, pertanyaan di atas adalah goblok-goblokan. 

Saya bersama rekan Teacher Training (2014) mengunjungi sebuah SMP

Saya bersama rekan Teacher Training (2014) mengunjungi sebuah SMP

Namun bahwa Jepang memiliki citra positif di mata orang Indonesia, itu memang sudah umum diakui. Mempelajari hal tersebut perlu dilakukan, tidak peduli apa agamanya.  Anda setuju? (lebih…)

Memilihkan Pesantren Buat Anak

Husna, Fafa, dan Fatih bersiap berangkat ke SDIT Luqmanul Hakim

Husna, Fafa, dan Fatih bersiap berangkat ke SDIT Luqmanul Hakim

Umur Fatih, yang lahir pada 2004 sudah menjelang usia SMP. Keinginan kami orang tuanya untuk mengirimkan si sulung ini ke sekolah Islam sangat menggebu-gebu. Besar harapan orang tuanya padanya. Namun pada saat yang sama, kami diterpa kegamangan karena besarnya rasa sayang yang tercurah untuknya. Sudah siapkah Fatih? Sudah siapkah kami, orang tuanya?

Ilmu dan Amal

Banyaknya ilmu tidak serta merta menjadikan kita yakin dan menjadi pengamal ilmu tersebut. Contohnya adalah orang-orang munafiq yang alim lisannya seperti kelompok Sekuler, Pluralis, dan Liberalis (Sepilis). Sebut saja Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Harun Nasution, Nasarudin Umar, dan berderet-deret nama lainnya. Keilmuan mereka bukan menambah semangat untuk menerapkan Islam namun malah menjauhkan dari agama. Atau kita ambil contoh ringan dari keseharian kita, yakni petugas kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit yang juga perokok.

(lebih…)

Integrated Subject – Inquiry Learning

KELAS 5 ITU hanya diisi sekitar 30 siswa, diawali sang sensei yang menempelkan topik di papan tulis. [magnetboard ini benar-benar praktis! kapan ya Indonesia mengganti blackboard dan whiteboardnya dengan ini] kemudian meminta siswa membaca keras materi yang akan dipelajari hari ini. Siswa masing-masing berdiri dan membaca keras, dan suasana seperti sarang lebah.

Kata profesor, membaca keras dilakukan agar siswa “bangun”. Kadang-kadang transisi antar pelajaran mengalir kurang berirama sehingga siswa masih terbawa pelajaran sebelumnya, tidak siap menerima pelajaran baru, atau singkatnya gak ngeh.

Tema pelajaran bahasa Jepang kali ini adalah peran lebah dalam penyerbukan bunga, hmm… kurang lebih begitu lah, ya. Ampuni bahasa Jepang saya. Setelah itu sensei memberikan kesempatan siswa untuk menggarisbawahi bagian dari naskah bacaan itu yang dianggap penting bagi siswa.

Kira-kira begini, sebagian siswa menganggap bahwa kita perlu menjaga kelestarian lebah sehingga nantinya lebah itu dapat membantu penyerbukan. Siswa yang lain menganggap kita perlu membantu penyerbukan bunga itu secara langsung. Yang lain menganggap bagian yang penting adalah menjaga lingkungan secara keseluruhan, supaya baik lebah dan bunga dapat terjaga kelestariannya. Katakanlah dari masing-masing pendapat itu diwakili oleh sebuah kelompok, maka sensei mencatat pendapat masing-masing kelompok tersebut. Setelah itu beliau membagikan kertas dimana masing-masing siswa menjelaskan pendapatnya tadi. Setelah 10 menit berlalu, beberapa siswa diminta untuk menyampaikan apa yang telah dituliskannya.
Singkat cerita, tahapan pembelajaran metode ini adalah:

  1. Mengemukakan pendapat pribadi
  2. Mendiskusikan dalam kelompok
  3. Mempresentasikannya

Metode pembelajaran yang disebut dengan Inquiry Based-Learning dimana sistem pembelajaran harus didasarkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para murid, dan guru pada sistem ini memiliki tugas tidak memberikan pengetahuan namun dia memfasilitasi anak untuk dapat menemukan pengetahuan itu sendiri. Sehingga guru menjadi seorang fasilitator dibandingkan sebagai sumber pengetahuan. (Ghifti, 2009)

Gambar disamping menunjukkan sang sensei tengah memandu siswa merumuskan analisisnya. Sensei sangat supportive dan friendly terhadap siswa, sehingga mereka bekerja sama seperti teman.

Keceriaan yang Takkan Kau Lupa di SD

Kali ini saya datang lagi ke 小学 SD Yashiro sekitar 5 menit naik mobil bersama teman Laos diantar oleh istri Sensei-nya. Ya, selama ini aku menumpang ke kelas teman-temanku untuk bisa nyelonong ke program kunjungan sekolah mereka. Kami diberitahu bahwa di kelas 5 yang akan kami singgahi nanti, mereka akan belajar bahasa Jepang bertopikkan sejenis bunga yang pengembangbiakannya membutuhkan lebah tertentu.

Tur Sekolah
Sejenak, Sensei mengajak kami berkeliling sebelum kelas dimulai. Di sekolah ini, sepatu harus diganti sandal yang sudah disediakan oleh sekolah di genkan (dekat pintu masuk). Maka di ruang tengah ratusan sepatu siswa disimpan rapi dalam lemari. Ruang tengah ini merupakan muara ke pintu keluar menuju lapangan bermain. Ide menggunakan sandal di dalam gedung sekolah ini tidak saya mengerti betul manfaatnya. Sementara saya menganggapnya untuk membuat semirip mungkin dengan kebiasaan di rumah di Jepang. Kalau ternyata memang begitu, boleh juga untuk mengadaptasikannya di Indonesia dengan lepas sepatu -kemudian nyeker- di sekolah. Hitung-hitung menjaga kebersihan.

Kami naik ke lantai 2 dan 3, menengok kondisi kelas per kelas. Di sepanjang lorong, keceriaan tidak pernah pudar. Dinding dan kaca semuanya berhias kreasi siswa. Sensei menjelaskan bahwa di bulan Oktober nanti akan ada lomba musikal yang diikuti oleh seluruh siswa. Sehingga kelas 1 hingga kelas 6 dicampurbaurkan untuk dibagi menjadi beberapa tim dengan komposisi sama. Tim ini merancang bendera tim (gambar kanan, teman saya sedang menunjuk salah satu bendera kelas), sorak yel-yel, dan drama musikal, bahkan sampai menjahit sendiri kostumnya. Saya sudah membayangkan saat event berlangsung, pasti para penjual es dan jajanan berkerubung di pagar sekolah memanfaatkan keramaian.

Kegiatan yang Integral
Sekolah ternyata memiliki sebuah kebun yang disitu murid diajari untuk ikut bercocok tanam, memanen hasilnya, memasak, dan menyajikannya untuk orang tua. Dalam pelajaran ini ilmu alam, bahasa, dan ilmu sosial diajarkan sebagai satu pendidikan life skill.

Wah, sayangnya kelas sudah akan dimulai… jalan-jalannya besok lagi ah!

Melatih Berpikir Ala 小学 

Beginilah Sekolah Jepang
Bersama teman dari Brunei, saya mengunjungi sebuah SD di daerah Kato-shi, Jepang. Sebuah kota kecil 50 km dari Kobe, yang kalau ditanyakan ke orang Jepang sekalipun mereka tidak banyak yang tahu.

Sekolah itu terkesan kecil dan sepi. Beberapa anak yang mungkin pulang lebih awal terlihat bermain diluar, memanggul tas kotak yang khas SD di Jepang, mengenakan boots karena hari itu gerimis mulai pagi. Saat masuk ke dalam, bukan main, semua kesan itu hilang. Lorong sekolah penuh dengan murid-murid yang mengepel lantai, menyapu, menata lemari, mengelap jendela, mereka sibuk sekali. Beberapa mahasiswa yang magang membantu dan memberi instruksi pada mereka. Rupanya sebagian waktu istirahat tiap hari adalah untuk piket. (Gambar disamping adalah suasana seusai piket)

Jangan tanya caranya mereka menyapu! Baiklah, kalau memaksa, mereka tidak-membiarkan-debu meski dibalik lemari! Oke, mungkin saya berlebihan, tapi kalau melihat sendiri, pasti kita akan malu.

Bel Masuk
Suasana kelas saat pelajaran dimulai sangat ceria, dalam ruangan yang sangat luas Saya bisa melihat ke luar dari jendela tingkat dua yang besar di seluruh dinding, sehingga lapangan bermain sekolah bisa dinikmati dari sini. Meja guru yang berada di belakang kelas seolah membuat guru akan betah berada di sana daripada di ruang guru. Lebih jauh ke belakang, bermacam-macam prakarya siswa, sehingga saya juga mengira kelas itu sekaligus laboratorium IPA mereka.

Ueda-sensei memulai pelajaran Matematika hari itu dengan sebuah pertanyaan 6 x ロ = 24 (tepatnya saya tidak begitu paham karena -tentusaja- disajikan dalam 日本語 bahasa Jepang medok). Kemudian menempelkan tiga jawaban yang sudah disiapkannya dari rumah.

Pilihan Jawaban

  • Soal A: 4 kantong, masing-masing di dalamnya dimasukkan 6 permen. Berapa jumlah semua permennya?
  • Soal B: Tiap anak membawa 6 permen. Ketika semuanya dikumpulkan, permennya berjumlah 24. Berapa anak yang berkumpul?
  • Soal C: 6 anak membawa permen, yang waktu mereka menghitung jumlah permennya, semuanya 24, berapa permen masing-masing anak itu?

Sensei menyuruh mereka membaca soal nyaring lalu mencatat. Setelah masing-masing siswa menyalin ke bukunya, sensei menanyakan pilihan dari A-B-C yang paling mewakili soal tadi. Kelas segera terpecah menjadi 3 pendapat, kira-kira 1/3 meyakini A, 1/3 memilih B, dan sisanya C. Ini yang mencengangkan… ketika sensei bertanya kenapa, siswa berebut mengacungkan tangan. Seorang anak laki-laki ditunjuk, ia berdiri dan ber-argumentasi!!! (Oh ya, apa saya lupa menyebut kalau mereka siswa kelas 3 SD?)

Tak mau kalah dengan kelompok A, anak laki-laki lain dari pemilih B menyusul berdiri dan ikut mengemukakan bagaimana jawabannya lebih mendekati kebenaran. Seorang anak perempuan kelihatannya tidak serius dengan pelajaran, ia memperhatikan kami -para peneliti- yang berdiri tenang, mencatat, serius di belakang kelas. Kehadiran para peneliti ini agak mencolok, karena jumlahnya saya hitung 1, 2, 3, ..10, 20, …25! Dua puluh lima orang peneliti, dari mahasiswa, peserta training, sampai professor ikut nimbrung di kelas yang diikuti 30 siswa SD itu.

Ee… Anak perempuan itu berdiri, maju ke depan kelas, menerangkan jawabannya, membuat coretan-coretan di papan tulis menunjukkan poin argumentasinya. Saya ternganga. Anak lain berkacamata melawan argumentasi itu dengan menceritakan soal sambil menggambar 6 bulatan besar masing-masing diisi 4 bulatan kecil menunjukkan 6 anak dengan 4 permen. Apresiasi kelas yang cukup positif saya yakin sudah melejitkan kepercayaan diri pada penjawab-penjawab itu. Masih ternganga… anak SD-kah mereka? tanya saya retoris, tak dapat dipercaya!

Ketiga jawaban tersebut adalah benar. Sensei sedang mengeksplorasi pendekatan yang dipakai oleh siswa. Seolah terbangun dari tidur, saya membandingkan bahwa metode hafalan yang selama ini saya ajarkan sebenarnya sudah kuno:

Pendidikan kuno hanya mementingkan HASIL, Pendidikan Modern juga mementingkan PROSES.

Hikmah buat Saya
Mungkin itu sebabnya di Indonesia kemampuan untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, dan toleransi menerima perbedaan pendapat juga tumpul. Keesokan harinya, saya memberi PR bagi murid bahasa Inggris saya, yang ditanyakan oleh orang tuanya, “Kenapa jawaban dalam PR ini benar semua?” Saya menjawab sambil berfilosofi untuk diri sendiri, “Bahasa adalah keahlian berkomunikasi, penting bagi anak untuk memilih ekspresi mana yang paling bisa mengungkapkan pendapat pribadinya. Benar dan salah itu nanti.”

Santri Pondok Putri

Recalling their names, one by one, just like my own daughters. I wish, I do really wish, that someday I could come back home to see each one of them, all of them, together, playing in our school again. Allah, grant my prayer…