Gilig Guru

Beranda » Jepang » Kepercayaan

Category Archives: Kepercayaan

Budaya Jepang: Menjajah Wanita

Perempuan semi-telanjang dalam bangunan patung di Jepang. Yang lebih parah dari ini banyak!

Perempuan semi-telanjang dalam bangunan patung di Jepang. Yang lebih parah dari ini banyak!

(lebih…)

Iklan

Petualang Dakwah Mampir ke Hiroshima

Segelintir jamaah sholat Subuh, bersama ikhwan Indonesia, Afghanistan, dan Mesir

Segelintir jamaah sholat Subuh, bersama ikhwan Indonesia, Afghanistan, dan Mesir

3 hari ini kami mendapatkan suasana masjid yang berbeda. 4 pria berjenggot panjang, memakai gamis, berkopyah, menyertai ibadah subuh yang biasanya hanya dipenuhi oleh jamaah Mahasiswa dari Indonesia dan Afghanistan. Mereka ternyata berasal dari Semarang. Jauh-jauh ke Hiroshima hanya untuk mampir dan mengajak orang meramaikan masjid dan banyak mengingat Allah. Mereka ikut sholat berjamaah 5 waktu dan meramaikan kegiatan bakda sholat dengan kultum yang sangat mudah dicerna. Ya, mereka berasal dari Jamaah Tabligh.

Ini bukan kali yang pertama saya melihat kiprah mereka. Namun untuk sampai ke Jepang bukanlah hal yang mudah, sedikitnya tidak murah. Masjid As-Salam adalah kota ke-10 yang mereka kunjungi dari 3 bulan program khuruj yang mereka tradisikan. Salah seorang anggotanya menyampaikan bahwa mestinya mereka melakukannya 4 bulan, namun visa Jepang hanya mengijinkan sampai 3 bulan saja.

(lebih…)

Pertanyaan tak terjawab bagi penganut demokrasi

Sebelum menganggap bahwa cita-cita ummat Islam untuk menyatukan dunia dalam satu kepemimpinan adalah ilusi, mari kita mencoba menjawab pertanyaan ini:

  1. Sebutkan 1 negara penganut demokrasi yang paling ideal supaya semua orang yang mendebat demokrasi harus merujuk pada negara tersebut!
  2. Sebutkan 1 orang tokoh penganut demokrasi yang paling baik pemikirannya supaya menjadi patokan bagi semua orang yang ingin mendebatnya!
  3. Sebutkan 1 buku konsep demokrasi yang bisa dijadikan rujukan bagi seluruh orang di dunia.

Setelah menjawab, bersiaplah untuk mengupas jawaban itu satu persatu.

Bila pertanyaan tersebut diajukan pada 1000 orang penganut demokrasi, saya yakin akan ada 1000 jawaban berbeda. Bila itu yang terjadi, sudah jelas bahwa demokrasi hanya ada dalam mimpi para penganutnya, yang hanya akan saling klaim dan selalu menuding kepada yang lain dengan demonologi yang tidak ilmiah.

Masalah Kristen: Patung itu Haram tapi Disembah

Setelah membaca kontroversi patung Yesus di Italia, mestinya kita bertanya sudahkah Kaum Nasrani mengetahui perintah ini dalam Al-Kitab?

Haruslah engkau memusnahkan sama sekali patung-patung berhala buatan mereka, dan tugu-tugu berhala mereka haruslah kauremukkan sama sekali. (Keluaran:23)
12:1. “Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi.
12:2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun.
12:3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.
12:4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. (Ulangan:12)

Jika perintah ini dilaksanakan sejak jaman Nabi Isa a.s, tentu tidak perlu ada penyembahan terhadap berhala.

DEBAT DENGAN KRISTEN
Suatu saat saya terlibat debat, tentang pembuatan patung Yesus dan penempatannya dalam gereja. Dijawab bahwa kaum Nasrani tidak menyembah patung itu, melainkan hanya untuk membayangkan Tuhan sehingga membantu konsentrasi dalam berdoa. Sebagai balasan atas pertanyaan saya mereka melontarkan bahwa Ummat Islam sendiri menyembah batu (di Ka’bah).

Saya jawab, bahwa batu (hajar aswad) di dalam Ka’bah adalah untuk mempersatukan arah kiblat sholat ummat Islam sedunia. Sebagaimana Umar ra. ketika menciumnya dia berkata, “Kau hanyalah batu biasa, yang tidak bisa memberi manfaat atau mudharat padaku. Seandainya aku tidak melihat Nabi menciummu, akupun tidak akan menciummu.” Batu itu pun ditemukan secara kebetulan oleh Ismail as tatkala diperintah ayahnya, Nabi Ibrahim, untuk mencari penutup Ka’bah. Tidak ada perintah untuk menyembahnya.

Bahkan siapa saja yang melakukan sholat tidak akan terlintas bayangan batu tersebut di dalam hatinya (silakan dicoba ditanyakan). Ummat Islam tidak perlu dan tidak boleh membayangkan Tuhan, lagipula tidak akan mungkin bisa (Jika manusia bisa menggambarkan Penciptanya, berarti Dia bisa dijangkau akal, padahal batas langit saja masih belum terjangkau akal). Meski begitu banyak dari Muslim yang bisa sholat dengan khusyu’. Mestinya kaum Nasrani belajar beribadah kepada kaum Muslimin.

Percakapan Antar Agama (1)

Karena ini tidak resmi, jadi mungkin tidak bida dikatakan dialog, yah?
Bersama temanku dari Laos (Buddha), Thailand (Buddha), dan Filipina (?) Kami berdiskusi sampai tengah malam, mengobrolkan konsep masing-masing agama dan teori Darwin.

Aku: Kamu percaya reinkarnasi?
Teman Laos (TL) : Ya
Aku: Kalau begitu, apa kamu tahu dulu jadi apa?
TL: (tersenyum) Tidak, aku tidak tahu…
Aku: Kamu menyembah tuhan atau leluhur?
TL: Dewa
Aku: Kamu memiliki satu dewa atau banyak dewa?
TL: Banyak dewa
Aku: Siapa yang paling kuat?
TL: Semuanya sama
Aku: Bisakah manusia menjadi dewa?
TL: Bisa
Aku: Bisakah dewa menjadi manusia?
TL: Aku tidak tahu
Aku: Kamu punya kitab suci?
TL: Tidak, kami tidak punya
Aku: Kalau begitu, bagaimana kamu mempelajari agamamu?
TL: Kami belajar dari kehidupan
Aku: Bagaimana kalau tiap orang memiliki kesimpulan yang berbeda dari kehidupannya?
TL: Aku tidak tahu…
Aku: …

Dalam hati, aku bergumam… aku salah orang nih (dalam bertanya).




Materialisme Jepang

Saat terbaring sakit di rumah sakit aku bertanya pada Gunung Tinggi-san, karyawan administrasi universitas. Dia yang mengantarkanku kesini. “Boleh aku bertanya hal pribadi?” Tentu saja kami berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

“Sure” Jawabnya ramah, seolah menyukainya.

“Apa agamamu?” Reaksinya seolah ia tidak mengira akan ditanya tentang hal ini. Dalam penjelasannya Si Gunung Tinggi tampak tidak begitu yakin bahwa “I’m a shintoist”, ketika kutanya kenapa, dia menjelaskan bahwa keyakinan itu turun-temurun, sehingga menjadi tradisi, warisan, kebudayaan, identitas, namun dirinya sendiri belum mendeklarasikannya. Kadang-kadang dia juga pergi ke kuil Budha, sebagaimana orang Jepang pada umumnya, mereka mencampuradukkan agama dan ikut merayakan pernikahan di gereja, meski tidak mempraktikkan ajaran Kristen.

Adalah menarik saat dia menjelaskan tentang tabu, kalau ia menikah pada hari baik ia akan berdoa “Ya Tuhan, Engkau sungguh benar, aku sangat berterima kasih padaMu”. Sedangkan bila ternyata pilihan harinya buruk, maka ia akan tetap menikah dan berdoa, “Ya Tuhan, kali ini Engkau salah, dan aku tidak akan percaya lagi padaMu.”

Aku tertawa sampai menangis.
Tuhan dimarahi? gebleg banget Jepang ini.