Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam

Category Archives: Artikel Islam

Dunia dibanding Surga adalah Sampah

Dunia dibanding Surga adalah Sampah

Yang membuat perumpamaan itu adalah Sahabat Umar bin Khattab. Bagaimana memahaminya?

Waktu anak-anak kita begitu menginginkan mobil-mobilan, sampai rela bergulung-kuming, berok-berok (wah, lama nggak makai istilah ini, artinya meraung-raung), merayu bahkan mengancam nggak sekolah.

Sama halnya sikap kita terhadap dunia. Tidak tertarik pahala karena belum paham atau belum melihat wujudnya.

Setelah dewasa kita beranjak paham, maka saat diberi mobil mainan, malah tidak mau karena sudah punya mobil sungguhan atau menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak membutuhkan mainan itu.

Jadi kalau saat ini kita masih menangisi dunia, bersusah-payah mengejarnya, barangkali iman kita seperti anak kecil, baru percaya setelah melihat.

Semoga Allah membimbing kita dalam hidayah.

Belajar Bertanggung Jawab dari Nabi Musa alayhi salam.

Siapa menyangka pembelaannya kepada kaumnya, bani Israel, atas tentara Mesir, akan berujung kematian? Bukankah itu cuma satu pukulan yang tidak menyengaja untuk menghilangkan nyawa? Satu dasawarsa mengasingkan diri dari kejaran Raja Mesir yang lalim, Tuhan justru menitahkannya kembali ke hadapan ayah angkatnya, Firaun, sosok yang dihutanginya budi sejak bayi? Kemana wajahnya harus disembunyikan? Bukankah tinggalnya Musa a.s. di Madyan justru telah memperbaiki kehidupannya? Kenapa harus mempermalukannya dengan kembali di Mesir? (lebih…)

Kisah Hikmah: Bertanya yang Tidak Menambah Amal

Imam Asy Sya’bi sedang berjalan bersama sang istri pada suatu keperluan, ketika seorang jahil mencoba mengusilinya. “Ya Imam”, kata orang itu, “Siapa nama istri Iblis?”
.
(lebih…)

Pendidikan yang Lebih Penting daripada Al-Qur’an

Menanamkan keimanan lebih penting. Bahkan lebih penting dari menambahkan banyaknya hafalan Qur’an anak kita. Karena tujuan belajar Al Qur’an ialah agar bertambah imannya.

Dalam sebuah seminar bersama ustadz Budi Ashari, lc, beliau menjelaskan tahapan pendidikan yang boleh jadi baru pertama kali didengar oleh banyak Muslim, termasuk saya salah satunya:

عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata:”Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur’an kemudian setelah kami belajar Al Qur’an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur’an dulu sebelum belajar iman”

(Riwayat Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-kabir)

(lebih…)

Mencintai Guru meninggikan derajat seorang murid.  Fanatik kepada guru justru merendahkannya dan merendahkan derajat gurunya.

Sabar, Semua Ada Prosesnya

Janganlah terburu-buru mengharapkan hasilnya. Bahkan Allah sendiri menciptakan alam semesta tidak sekejap mata padahal Dia Maha mampu.

Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍ ۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ

“Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Bagimu tidak ada seorang pun penolong maupun pemberi syafaat selain Dia. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

(QS. As-Sajdah 32: Ayat 4)

Berdakwah itu tugas kita, mendapat hidayah atau tidak itu wewenang Allah ta’ala. Kerjakan saja tugas kita dan serahkan hasilnya kepada Allah. Maksudnya agar kita jangan risau tatkala orang yang kita dakwahi, terutama bila mereka adalah keluarga, istri, dan anak-anak sendiri, tidak kunjung berubah kendatipun telah dinasehati setiap hari, diberikan contohnya, difasilitasi, diingatkan, bahkan ditegur dan diberi sanksi.

Jangan sampai kita terburu-buru.

Maksudnya adalah kecewa dengan apa yang didapati, kemudian berputus asa. Atau melupakan tahapan-tahapan sehingga menghakimi dan memberi sanksi terlalu cepat. Misalnya, mengajak anak sholat. Rasulullah memerintahkan:

(lebih…)

Pemandangan Ngeri di Hari Pengadilan

Meski belum pernah masuk ruang pengadilan, namun rasanya menjadi terdakwa sebuah kejahatan yang terungkap, lalu dipanggil untuk diadili, pastilah membuat diri ketakutan luar biasa. Sedangkan hari itu sekaligus menjadi hari eksekusi. (lebih…)