Gilig Guru

Beranda » Artikel » Politik

Category Archives: Politik

Cara Melawan Penjajahan

Di masa penjajahan masjid dan pesantren tetap boleh berdiri. Tak ada larangan orang shalat berjamaah ataupun mengadakan pengajian. Tadarus dan khutbah bebas hambatan. Ibadah berjalan lancar. Persis seperti jaman kita sekarang ini.

(lebih…)

Iklan

“Golput Jangan Protes”

Sebagai Muslim yang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, termasuk dalam pengambilan kebijakan pemerintah, kita terbiasa untuk memberikan nasihat, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama. Namun tak diduga, ada pihak yang mengatakan “Kamu golput, kok protes?” Mari kita simak perumpamaan berikut ini:

Seorang muslim masuk ke minimarket. Ketika didapatinya toko itu menjual miras, dia menasihati pelayannya agar berhenti memampang miras.

Mungkinkah si pelayan menampik, “Anda bukan karyawan, bukan pemilik, bukan pula pemegang saham, tidak perlu protes”

(lebih…)

Demokrasi tidak pernah Islami, dan Islam tidak akan Demokratis

Demokrasi hanyalah ilusi

Demokrasi hanyalah ilusi

SERUPA tapi TAK SAMA

  1. Kafir Quraisy sama-sama beribadah menyembah Allah, namun mereka juga menyembah berhala. Apakah sama dengan Islam?
  2. Kafir Quraisy sama-sama beribadah di dalam Ka’bah, namun mereka meletakkan banyak berhala di sekelilingnya. Apakah sama dengan Islam?

[*] Kalau Kafir Quraisy mengakui hanya Allah sebagai sesembahan dan Muhammad SAW sebagai Nabi, maka mereka tidak lagi disebut Kafir atau Musyrik.

 

  1. Demokrasi sama-sama bermusyawarah, namun yang dibahas juga masalah yang sudah harga mati dalam agama Islam. Apakah sama dengan musyawarah?
  2. Demokrasi sama-sama memilih pemimpin, namun kriterianya boleh saja Muslim boleh saja Non-Muslim. Apakah sama dengan Islam?

[*] Kalau Demokrasi mengakui hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dasarnya, maka tidak lagi disebut demokrasi.

(lebih…)

Membela Demokrasi atau Memanfaatkan Demokrasi?

Dewan Perwakilan Rakyat: Demokratis.

Dewan Perwakilan Rakyat: Demokratis.

Mohon maaf bila sering membahas topik DEMOKRASI. Ini semata-mata sayangnya kami terhadap saudara semuslim, agar tidak terjatuh berulang kali pada dosa yang samar.

Ustadz Felix Siauw memberi inspirasi, banyak tanya yang beredar terdengar benar, padahal:

(lebih…)

Berhala Dulu dan Berhala Sekarang

Ketundukan kepada Allah termasuk dalam hukum-Nya

Ketundukan kepada Allah termasuk dalam hukum-Nya

Seperti halnya orang-orang Quraisy para penganut berhala marah saat Nabi Muhammad SAW mendakwahkan tauhid, demikian pula saat ini para penganut Demokrasi [*] marah saat ummat Islam mendakwahkan tauhid.

(lebih…)

Bagaimana Harokah Mengikuti Pemilu – Agar Tidak menimbulkan Perpecahan

Partai Islam haruslah berasas Qur'an dan Sunnah

Partai Islam haruslah berasas Qur’an dan Sunnah

Sejujurnya, saya hormat kepada teman-teman & saudara-saudara saya dalam partai dakwah Islam yang dengan memilih ijtihad berpolitik melalui demokrasi kemudian telah berikhtiar dengan terjun mengambil resiko dalam pemilu demi menegakkan Islam yang kaffah di Indonesia. Mereka adalah Muslim-muslim pemberani, yang mau tak mau siap berkorban, baik harta maupun perasaan, menghadapi cemoohan, hujatan, bahkan putus pertemanan dari kawan-kawan dan saudara. Pesan saya: *Janganlah membalasnya dengan perbuatan yang sama, jawablah dengan perbuatan yang lebih baik.*

InsyaAllah pengorbanan mereka tak sia-sia di sisi Allah Sang Maha Mengetahui. Mengingat jikalau mereka beramal ikhlas dan sesuai dengan ijtihad, maka salah atau benar tetap berpahala, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenarannya. Menang atau kalah menjadi tidak terlalu penting, sepanjang perjuangan itu didasari niat yg ikhlas, yg tak menyimpang dari apa yg digariskanNya melalui ajaran Rosulullah SAW.

Saya pribadi belum tentu seberani dan sebaik mereka dalam menyumbang ikhtiar bagi perbaikan ummat Islam. Namun perkenankan saya menyampaikan pentingnya hal berikut ini, agar kelak tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu. (lebih…)

Hukum Demokrasi Tidak Memberi rasa Keadilan

Hakim G Todd Baugh mengaku bahwa keputusannya "Tidak Legal" Lho kok?

Hakim G Todd Baugh mengaku bahwa keputusannya “Tidak Legal” Lho kok?

Pemerkosaan gadis berusia 14 tahun, yang menurut hukum Demokrasi di Amerika disanksi 15 tahun penjara (Bandingkan dengan Islam yang dihukum mati), namun ternyata hanya dikurung 31 hari. Hal ini mengakibatkan korbannya bunuh diri. Silakan baca beritanya di sini, atau saya kopikan di bawah:

LOS ANGELES – A U.S. judge was blocked Friday from increasing the controversial one-month prison term he imposed on a teacher convicted of raping a 14-year-old student.

Montana’s Supreme Court said Judge G. Todd Baugh could not annul the 31-day sentence he imposed on teacher Stacey Rambold for raping schoolgirl Cherice Moralez, who later committed suicide. But the top tribunal did not rule on the sentence itself, which is expected to be appealed in a higher court and changed to at least two years behind bars.

Baugh, who apologized after his ruling last month sparked protests nationwide, had planned a district court hearing for Friday afternoon to voi

d his sentence. In a court order last week, he said his sentence was “illegal” because it ignored the compulsory minimum sentence of two years in prison.

Baugh sentenced Rambold to 15 years in prison for sexual intercourse without consent after he admitted raping Moralez, but suspended all but 31 days of the sentence. Critics slammed the leniency of the sentence and the judge’s comments in court that Moralez was “older than her chronological age” and “as much in control of the situation” as the now 54-year-old teacher.

Moralez killed herself at the age of 17. Her mother said she believed the rape contributed to her suicide.