Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Pendidikan yang Lebih Penting daripada Al-Qur’an

Pendidikan yang Lebih Penting daripada Al-Qur’an

Menanamkan keimanan lebih penting. Bahkan lebih penting dari menambahkan banyaknya hafalan Qur’an anak kita. Karena tujuan belajar Al Qur’an ialah agar bertambah imannya.

Dalam sebuah seminar bersama ustadz Budi Ashari, lc, beliau menjelaskan tahapan pendidikan yang boleh jadi baru pertama kali didengar oleh banyak Muslim, termasuk saya salah satunya:

عن جُنْدُبِ بن عبد الله قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم ونحن فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فتعلمنا الإيمان قبل أن نتعلم القرآن ثم تعلمنا القرآن فازددنا به إيماناً ) رواه ابن ماجة (61) والطبراني في المعجم الكبير (1678) والبيهقي في سننه الكبرى (5075) وهو حديث صحيح

Dari Jundub bin Abdillah beliau berkata:”Dahulu kami ketika remaja bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kami belajar iman sebelum Al Qur’an kemudian setelah kami belajar Al Qur’an bertambahlah keimanan kami. Sedangkan kalian sungguh pada hari ini justru belajar Al Qur’an dulu sebelum belajar iman”

(Riwayat Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-kabir)

Jundub bin Abdillah ini berkata ditujukan kepada generasi tabiut tabiin (setelah tabiin).

Nabi -shalallahu alaihi wassalam- menggambarkan generasi tabiin adalah generasi terbaik setelah sahabat. Artinya, kendatipun baik, tapi masih ada penurunan kualitas. Begitulah para sahabat Rasul menilainya. Karena sahabat adalah generasi yang dididik langsung oleh lisan dan tangan Nabi. Sahabat Jundub menganalisis permasalahannya ialah terletak pada terbaliknya urutan: Belajar Quran lalu Iman.

Bagaimana jika generasi tabiin dibandingkan dengan generasi kita sekarang? Tentunya sangat jauh sekali perbedaanya, generasi tabiin adalah generasi yang amat dahsyat, dan yang lebih penting lagi, di masa mereka Islam bisa memakmurkan bumi.

Penilaian sahabat Nabi ini telak menohok diri kita, yang jauh masanya dari masa kenabian, masa sahabat, dan generasi-generasi mulia. Rupa-rupanya penyebab permasalahannya ialah tidak hanya kita terbolak-balik urutan pendidikannya, bahkan anak-anak kita tidak lagi belajar Qur’an di sekolah, tidak pula belajar Iman dalam hafalan Qur’annya.

Lalu apakah kita perlu menghapus pendidikan Al-Qur’an di usia dini?
Tidak hitam putih begitu. Kini saat anak-anak kecil sudah ramai didorong untuk menghafal Al-Qur’an, target utama pencapaian hendaknya bukanlah banyaknya hafalan, melainkan pemahamannya terhadap apa yang dia hafal.  Yuk kita kembali berkaca.
Abi Abdurrahman As-Sulami berkata, “Para pembaca Al-Qur’an semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah 10 ayat. Mereka  tidak menambahnya sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Al-Qur’an, memahaminya, sekaligus mempraktikkannya.”
Kiranya metode demikian dapat kita jadikan sebagai jalan mendidik Iman sebelum Al-Qur’an. Wallahu a’lam.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 115,548 orang

See me

%d blogger menyukai ini: