Gilig Guru

Beranda » My Self » Musibah yang Kami Syukuri

Musibah yang Kami Syukuri

Saya berhenti bekerja.

Pengabdian di Al-Furqan sudah sepanjang 1/3 usia saya saat menginjak tahun ke-36 ini. Mulai dari bekerja sebagai guru kursus, tenaga administrasi, guru dengan segala jenjang bertahap yang ditetapkan yayasan, pernah juga menjabat kepala sekolah, hingga hinggap sebagai kepala bagian di jajaran yayasannya sendiri. Tentu tidak mudah memutuskannya lagi berat meninggalkannya.

Sementara hanya itu penghasilan yang saya dapatkan untuk menafkahi keluarga. Meski beberapa bulan sebelum ini memulai wira usaha dalam bidang yang sama sekali baru, bahkan untuk ukuran orang kebanyakan: membuat panah. Mungkin anda akan setuju.

Jadi bayangkan saja bagaimana perasaan kami. 1 September 2015 saya “merdeka” menuju ketidakpastian. Maksudnya, memang benar sekarang saya sendiri yang menentukan kapan bekerja dan kapan libur, menuju kemana dan berhenti dimana, namun di saat yang bersamaan semua pengorganisasian hidup itu bisa menjadi sangat dinamis, mudah berubah, tidak pasti, karena saya bebas. Tentu saja, utamanya dari segi nafkah.

Malam tadi putra kami gempar, urusannya menyangkut hubungan persaudaraan, melibatkan orang lain, dan bahkan mungkin polisi. Dengan bantuan Kung, begitu kami menyebut kakek dari anak-anak, juga Papa, sebutan Om dari anak-anak, akhirnya masalahnya jernih malam itu juga, semoga.

Saya pun duduk berdua dengan istri, mencari hikmah yang Allah maksudkan dengan diijinkan-Nya peristiwa ini terjadi. “Semua perbuatan anakmu tidak lepas dari pendidikanmu,” demikian nasihat Kung.

Segala puji bagi Allah, terima kasih, dimudahkan-Nya kami menemukan mutiara itu:

  1. Berhentinya saya memberikan waktu lebih banyak untuk keluarga. Seandainya masalah ini terjadi saat saya masih bekerja, sangat mungkin kami akan lebih tertekan karena kecapekan.
  2. Kami menyadari cara mendidik selama ini dipengaruhi tekanan kerja, menyebabkan tuntutan berlebihan kepada anak-anak.
  3. Kami berkomitmen untuk membimbing anak-anak dengan lebih menyesuaikan pendidikan menurut jenjang usianya, dan perlahan-lahan membangun akhlak demi menyongsong kemandirian yang tak lama lagi diperlukan mereka.

Walhamdulillahi robbil ‘alamin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 152.220 orang

See me

%d blogger menyukai ini: