Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Idul Fitri: Hari Kelulusan Ujian Internasional

Idul Fitri: Hari Kelulusan Ujian Internasional

Berangkat Mengaji, foto  oleh Ipoenk Graphic

Berangkat Mengaji, foto oleh Ipoenk Graphic

Bulan Ramadhan adalah masa ujian terpanjang yang diresmikan sebuah lembaga. Setiap hari —tanpa jeda— seluruh kaum Muslimin yang telah mukallaf[i] di dunia harus berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan dan kondisinya untuk berpuasa jasmani dan rohani. Berbekal keimanan dan ketaqwaan, pengawas satu-satunya adalah Allah SWT. Tidak ada yang tahu kecuali kita sendiri dengan Dia Yang Maha Melihat bahwa kita benar-benar berpuasa dengan bersih dan tulus. Poin-poin ujiannya pun tidak ringan, apa yang di luar bulan puasa diperbolehkan, seperti makan dan minum yang halal, serta bercengkerama dengan istri yang tadinya berpahala, namun di siang hari di bulan Ramadhan menjadi haram. Kita benar-benar ditempa untuk menjadikan tangan, lisan, dan perut untuk tunduk patuh kepada hati. Siangnya tegak meski berpuasa malamnya tegak untuk beribadah.

Ramadhan lebih serius dan lebih lama dari UNAS (Ujian Nasional), bahkan ini adalah ujian internasional, adakah ujian lain yang ditempuh lebih panjang dari bulan puasa?

Wajar saja ketika Allah SWT mencanangkan Idul Fitri sebagai hari raya bagi kaum Muslimin. Mengakhiri 29 atau 30 hari berpuasa, kaum Muslimin berbagi zakat guna membaurkan kebahagiaan dengan kaum fakir dan miskin. Kesenangan jasmani bisa kembali menyantap hidangan dan minuman di siang hari, berkumpul bersama keluarga dan istri, serta kesenangan rohani telah terbiasa menahan diri dari hawa nafsu, menjadi gemar beribadah sunnah, hingga mendapat ampunan dari Allah azza wa jalla, semuanya berkumpul di hari yang suci, Idul Fitri.

Namun justru pada hari inilah nampak hakikat amal ibadah kita!

TITIK BALIK

Ibarat ujian sekolah, siapa yang lulus maka yang akan dia hadapi adalah dunia nyata. Dalam dunia nyata ujiannya tidak ada toleransi. Di sekolah, murid yang terlambat atau gagal ujian bisa menempuh ujian susulan atau ujian perbaikan, sedangkan di dunia kerja pegawai yang terlambat atau tidak memenuhi target bisa-bisa akan mendapat sanksi pengurangan gaji atau bahkan pemecatan.

Di dunia militer, saat latihan apa yang diperintahkan oleh komandan masih ada batasannya. Sedangkan di dalam peperangan batas tersebut hanya dua: kemenangan atau kematian.

Maka apakah logis jika seorang prajurit yang telah lulus naik pangkat dalam latihan, kemudian saat diterjunkan ke medan laga malah merasa lebih santai dan mengurangi porsi latihannya?

Demikian pula kaum Muslimin yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan sebenarnya jauh lebih mudah ketimbang puasa di luar bulan Ramadhan, karena di dalam Ramadhan mayoritas Muslim berpuasa, sehingga secara kejiwaan menambah semangat dan memacu untuk berlomba-lomba dalam beribadah. Sedangkan di luar itu, yang berpuasa Senin-Kamis bisa dihitung dengan jari, yang banyak justru yang menggoda untuk bermaksiat. Jangan sampai Idul Fitri menjadi titik kulminasi perjuangan kita, yang seiring berjalannya waktu, hari demi hari ibadah kita kian mengendor dan kehilangan keistiqomahannya. Ibarat murid yang lulus ujian, lalu corat-coret dan konvoi, ternyata berujung menjadi pengangguran. Itu namanya terjebak euforia, kesenangan sesaat. Na’udzubillahi min dzalik.

TIPS MENGHADAPI KELULUSAN

Jebakan euforia itu insyaallah tidak akan mengenai kita kalau:

  1. Setiap hari selama 29 atau 30 hari di bulan Ramadhan kita mengusahakan agar hati berpuasa dengan ikhlas dan mengharapkan ampunan dari Allah. Niat yang ikhlas inilah yang akan menjaga dari setan yang membisikkan, “Bulan puasa sudah berlalu, kamu sudah bersih dari dosa, sekarang saatnya untuk balas dendam makan sepuas hati.”
  2. Berusaha mengerjakan ibadah dengan istiqomah, rutin, dan teratur. Menghapus kebanggaan atas amal-amal yang banyak, baik itu jumlah rokaat sholat sunnahnya, jumlah khataman Qur’annya, jumlah sedekahnya, yang akhirnya kebanggaan itu akan membuat kita merasa cukup beramal sholih.

Akhirnya, semoga ibadah kita hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini!

[i] Mukallaf adalah muslim yang dikenai kewajiban atau perintah dan menjauhi larangan agama (pribadi muslim yang sudah dapat dikenai hukum). Seseorang berstatus mukallaf bila ia telah dewasa dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 152.217 orang

See me

%d blogger menyukai ini: