Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Seandainya Kartini Masih Hidup, Dia akan Berjilbab

Seandainya Kartini Masih Hidup, Dia akan Berjilbab

Sudah saatnya kita berhenti memperingati tanggal 21 April dengan lomba berkebaya, mengenakan konde, dan berpawai diarak berkeliling kota. Terlalu jauh wanita Indonesia melupakan esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini, sampai-sampai budaya menulis yang ditinggalkan oleh pahlawan Indonesia ini, tergantikan oleh budaya fashion dan hura-hura.

Kentalnya Sekat Kasta Dalam Budaya Hindu Jawa

Meski dikenal “harum namanya” Kartini tidak lepas dari kontroversi penulisan sejarah yang sumber utamanya justru dari penjajah kolonial Belanda. Padahal mereka tentunya memiliki kepentingan yang terangkum dalam 3G, gold, gospel, glory; yakni mengeruk kekayaan tanah air, menyebarkan agama Nasrani, dan memperluas wilayah penaklukan. Oleh karena itulah, mengenal Kartini harus membaca juga lingkungan dan budaya dimana dia dilahirkan.

Kartini tumbuh besar di lingkungan ningrat yang kental dengan adat feodalisme Hindu-Jawa, sekalipun RA Kartini adalah puteri seorang Bupati Jepara, sulit bagi wanita di jamannya untuk meraih kesempatan bersekolah lebih tinggi. Masyarakat masih terkotak-kotak dalam budaya kasta, yang merupakan sisa-sisa ajaran Hindu dan dimanfaatkan oleh pemerintah Kolonial Belanda guna mencegah persatuan bangsa jajahannya.

Garis keturunan ayah Kartini, RM Adipati Ario Sosroningrat yang memiliki hubungan silsilah dengan Hamengkubuwana VI. Ayah Kartini mulanya adalah seorang Wedana di Mayong yang ketika hendak menjadi bupati di Jepara terhalang peraturan Penjajah Kolonial Belanda yang membuatnya berpoligami dengan R.A. Woerdjan (Moerjam) yang merupakan keturunan langsung raja Madura. Lantaran kedudukannya ini Kartini mendapatkan perlakuan istimewa sebagaimana adat Jawa, namun tidak disukainya, sebagaimana pada kesempatan lebaran atau tahun baru dimana orang berkumpul untuk mengucapkan selamat,

“Ya Allah, alangkah malangnya; saya akan sampai disana pada waktu puasa lebaran (dan) tahun baru, di saat-saat keramaian yang biasa terjadi setiap tahun sedang memuncak. Sudah saya katakan, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya ijinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih sayang dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 25 Agustus 1903)

Bahkan siapa ibunya tidak disebutkan jelas dalam buku “Door Duisternis tot Licht, Gedachten van RA Kartini” yang disusun oleh Mr. JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan Pemerintah Hindia-Belanda. Buku ini kemudian diterjemahkan oleh Balai Pustaka dan Armijn Pane dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Berbagai kejanggalan dalam penyusunan buku tersebut oleh pemerintah kolonial Belanda menimbulkan dugaan adanya  rekayasa karena sebagian besar naskah aslinya tidak diketahui keberadaannya, selain Abendanon sendiri berkepentingan mendorong politik etis.

Kejanggalan Beberapa Ide dalam “Buku” Kartini

Salah satunya adalah surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar (seorang aktivis gerakan partai sosial SDAP), “Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?” Surat ini —kalaupun memang benar ditulis Kartini— mempersoalkan suaminya, atau laki-laki yang menikah tanpa rasa cinta yang berkeadilan, lalu menyalahgunakan kebolehan berpoligini dalam Islam, yang sebenarnya juga merupakan tradisi lama dalam ajaran Hindu dan agama lainnya. Oleh kalangan feminis, surat ini diplintir menjadi dalil kritik Kartini kepada poligami. Aneh bin ajaib, sebab baik ayah maupun suami Kartini menikah lebih dari sekali. Disamping tidak ada lagi surat yang membicarakan soal kedudukan wanita selepas pernikahannya, bahkan kepada sahabat-sahabat Belandanya, Kartini mengaku bahagia ditengah tiga selir (yang bernasib sama seperti Ngasirah, ibunya) dan tujuh anak mereka.

Poligami bukanlah hal yang tabu di masyarakat kala itu, kecuali dari budaya Nasrani yang dibawa oleh penjajah Belanda. Sehingga kalaupun memang terdapat penolakan, bisa diartikan bahwa Kartini banyak dipengaruhi oleh cara berpikir penjajah Barat, atau pemahaman mengenai Islamnya masih campur aduk. Tentu saja umat Islam harus bertabayyun kepada Kartini, apakah benar ini merupakan kutipan dari surat aslinya yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda?

Simaklah tulisan Kartini lainnya yang bertolak belakang dengan paham Feminisme, “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”. (Surat kartini kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900) dan juga “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901)

Dakwah-dakwah Tauhid Kartini

Yang justru tenggelam adalah bagaimana Kartini berusaha mengenalkan agama Islam. Di tengah keterbatasan pengetahuannya mengenai agama rahmat ini dia menulis, kepada Nyonya van Kol, pada tanggal 21 Juli 1902, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai”. Beb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 152.218 orang

See me

%d blogger menyukai ini: