Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Memilihkan Pesantren Buat Anak

Memilihkan Pesantren Buat Anak

Husna, Fafa, dan Fatih bersiap berangkat ke SDIT Luqmanul Hakim

Husna, Fafa, dan Fatih bersiap berangkat ke SDIT Luqmanul Hakim

Umur Fatih, yang lahir pada 2004 sudah menjelang usia SMP. Keinginan kami orang tuanya untuk mengirimkan si sulung ini ke sekolah Islam sangat menggebu-gebu. Besar harapan orang tuanya padanya. Namun pada saat yang sama, kami diterpa kegamangan karena besarnya rasa sayang yang tercurah untuknya. Sudah siapkah Fatih? Sudah siapkah kami, orang tuanya?

Ilmu dan Amal

Banyaknya ilmu tidak serta merta menjadikan kita yakin dan menjadi pengamal ilmu tersebut. Contohnya adalah orang-orang munafiq yang alim lisannya seperti kelompok Sekuler, Pluralis, dan Liberalis (Sepilis). Sebut saja Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Harun Nasution, Nasarudin Umar, dan berderet-deret nama lainnya. Keilmuan mereka bukan menambah semangat untuk menerapkan Islam namun malah menjauhkan dari agama. Atau kita ambil contoh ringan dari keseharian kita, yakni petugas kesehatan baik di Puskesmas maupun Rumah Sakit yang juga perokok.

Kemudian hadirlah ustadz M. Fauzil Adhim yang memberikan penjelasan-penjelasan tugas dan fungsi orang tua. Beliau membagikan kesalahan pengalaman mendidik putra-putrinya dalam hal mengamalkan sholat, bahwa pendidikan sholat baru dimulai pada usia 7 tahun, bukan sebelumnya. Karena memang perintah Nabi demikian.

Lalu apa yang diperintahkan sebelum itu?

  • Memantapkan keyakinan dan kecintaan kepada Allah (Tauhid)
  • Memberikan teladan sholat
  • Membangun kesukaan dan keinginan pada ibadah
  • Memberikan pengalaman sholat yang mengesankan

Cara meyakinkan dan menanamkan kecintaannya adalah dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an yang diturunkan pada fase Makkah, yang berhasil merubah masyarakat Quraisy dari kesyirikan kepada keimanan, adalah ayat-ayat yang meskipun pendek tapi sarat perintah untuk memperhatikan alam semesta.

Memotivasi bukan Memberi Informasi

Ilmu-ilmu yang diberikan kepada anak di usia belia, bukan dalam rangka diwacanakan, sebagaimana kecintaan JIL saat melemparkan kontroversi. Orang-orang munafiq itu gemar menyesatkan manusia dengan perkataannya, namun saat dikecam balik mereka berlindung di balik perkataan “Ini sekedar wacana.” Maksudnya wacana adalah, FYI (For Your Information), mau diterima silakan mau tidak silakan, tidak ada paksaan. (Omong-omong penyebabnya jamaah tertidur saat Khotib berkhutbah adalah karena sekedar berwacana bukan berorasi)

Ilmu-ilmu dalam pendidikan Tauhid adalah untuk menancapkan iltizam, mengokohkan komitmen  sehingga hati itu hidup, mudah tersentuh, mudah tergerak, kendati hanya dengan nasihat yang sedikit. Tidak mudah goyah meskipun banyak rayuan dan tipuan. Hati yang semacam ini siap dengan ilmu yang sebanyak apapun, semakin  bertambah ilmunya semakin tunduk hatinya dan semakin dahsyat amalnya.

Kesiapan Anak

Pada titik ini, kami perlu mengevaluasi pendidikan anak-anak. Sudah siapkah Fatih? itu perlu dilihat dengan bagaimana kecintaannya dia kepada ilmu dan ibadah. Apakah dia membaca atas keinginannya sendiri, apakah dia berdisiplin atas ibadahnya sendiri. Jika belum, maka bukan berarti saya harus langsung mengalahkan rencana memondokkannya, melainkan perbaikan metode pendidikan anak di dalam rumah maupun di sekolah.

Mohon doanya!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,620 orang

See me

%d blogger menyukai ini: