Gilig Guru

Beranda » Pelajaran » Bahasa Indonesia » Cerpen Awal Berdirinya Khilafah

Cerpen Awal Berdirinya Khilafah

Ini bukan tulisan saya, tapi tulisan aktivis HTI. Saya menyimpannya disini karena daya imajinasinya yang tidak malu-malu, membuat saya berpikir, “Ah, kenapa tidak?”

Dikarang se-ngarang-ngarangnya Oleh: Prof. Fahmi Amhar

Presiden memecah kebekuan dengan bertanya ke Menlu. “Bagaimana pendapat Menlu, apakah kalau sistem ekonomi, khususya sistem perbankan dan moneter, diubah ke syariah, tidak akan ada protes dari luar negeri?”.

Menlu menghela nafasnya sejenak. Kemudian katanya, “Bapak Presiden, kalau ini terjadi seperti enam tahun yang lalu seperti di Brunei, atau 40 tahun yang lalu di Iran, barangkali kita harus bersiap menghadapi embargo. Pengalaman Iran, embargo itu malah jadi berkah, karena mereka lantas menjadi mandiri dalam ekonomi dan teknologi.”

Menristek menimpali, “Betul, saya mendengar ucapan langsung itu dari Presiden Ahmadinejad sewaktu memberi kuliah umum di UI, waktu itu saya masih mahasiswa S2 di sana. Justru karena embargo, Iran memiliki kemandirian dalam teknologi ruang angkasa dan pembangkit tenaga nuklir”.

Menlu meneruskan, “walaupun embargo mungkin baik bagi kita, tetapi kalau mental masyarakat tidak siap, dan budaya gotongroyong kita masih rapuh, itu bisa sangat berbahaya. Namun demikian, untuk saat ini kita tidak perlu khawatir ada embargo, karena Amerika Serikat dan sekutunya pasti sedang sibuk menghadapi perang dengan China atau Russia”.

Presiden menoleh ke Menhan. “Bagaimana pendapat Menhan?”.

Menhan tampak serius, “Menurut hemat saya, untuk saat ini ketahanan masyarakat kita cukup kuat terhadap ancaman dari luar. Yang perlu diwaspadai justru ancaman dari dalam, terutama keinginan beberapa bagian negeri ini untuk merdeka. Justru di sinilah saya melihat, selama ini isu penerapan syari’at Islam bukan sebagai separatisme, sehingga tidak menjadi ancaman real, namun entahlah kalau itu untuk mengganti sistem pemerintahan itu sendiri”.

 

Presiden mengangguk-angguk. “Oh ya, betul, apakah penerapan syariat Islam ini tidak berarti melanggar konstitusi?, Bagaimana pendapat ketua MK?”.

Setelah membetulkan letak kacamatanya, Ketua MK menjawab, “Bapak Presiden, MK hanya bisa mengadili sebuah UU yang bertentangan dengan konstitusi. Tetapi kalau MPR sendiri ingin mengubah konstitusi itu, maka itu menjadi sebuah kenyataan tata negara yang baru, dan pasti itu tidak melanggar konstitusi, apalagi Pasal 37 UUD 45 mengijinkan perubahan konstitusi itu”.

Ketua MPR tiba-tiba tunjuk tangan, “Bapak Presiden dan Bapak Ketua MK, mohon ijin, Di pasal 37 UUD 45 amandemen, itu ada ayat yang menyebutkan bahwa MPR tidak akan mengubah pembukaan UUD 45, karena itu berarti akan membubarkan negara!”.

Ketua MK yang sebelumnya Profesor Hukum Tata Negara dan pengacara terkenal itu menjawab, “Bapak Ketua MPR tidak usah khawatir. Nanti, di Sidang MPR, agendakan saja pertama-tama untuk mencabut ayat itu. Begitu ayat itu dicabut, maka MPR jadi berhak merubah seluruh UUD 45, bahkan menggantikannya dengan UUD yang sama sekali baru. Saya jamin, negara ini tidak akan bubar karenanya, karena dalam sejarah kita sudah pengalaman berganti konstitusi beberapa kali”.

Ketua MPR jadi mengangguk-angguk. Tapi dia masih melanjutkan, “Tapi nanti bagaimana dengan seluruh UU turunannya? Ini pekerjaan rumah yang sangat besar! Dan saya tidak yakin apakah fraksi-fraksi di DPR akan mendukung perubahan ini. Kalau partainya pak Ustadz barangkali mendukung. Bagaimana dengan partai yang lain, terutama partai-partai nasionalis?

Seorang ketua umum partai nasionalis pemenang pemilu angkat bicara, “Bapak Presiden, Bapak Ketua MPR, dan hadirin semuanya, partai saya sering dicap abangan. Saya sendiri juga jarang sholat, paling seminggu sekali Jum’atan, kadang juga lupa. Tetapi Bapak-bapak sekalian, jelek-jelek gini, kalau Islam dihina, saya ikut marah, kalau saya sampai disuguhin babi, bisa saya gorok leher orang itu. Dan saya yakin, konstituen saya juga orang Islam. Bahkan saya setuju dengan penelitian dari UIN itu, saya yakin, konstituen sayapun mendukung penerapan syariat!”.

Pernyataan ketua umum partai juara satu pemilu itu mengejutkan semua yang hadir, bahkan Presiden ikut terkejut Presiden tidak berasal dari partai tersebut.

Presiden lalu berkata, “Waduh, kalau partai yang sering dianggap paling abangan saja seperti itu, apalagi partai saya. Tinggal satu lagi ini, bagaimana pendapat Panglima TNI?”

Panglima TNI dengan wajah sekeras baja, berkata dengan suara berat. “Bapak Presiden, apa yang baik bagi rakyat, baik bagi TNI. Kalau MPR sebagai representasi rakyat menetapkan perubahan konstitusi dan menjadikan syariat Islam sebagai sumber aturan di negeri ini, TNI siap membackup, TNI siap mengorbankan jiwa raga kami untuk membela negeri ini, bahkan kami yakin, anggota kami akan lebih bersungguh-sungguh, karena kini mereka yakin, membela negeri syariah itu kalau mati akan mati syahid!”.

Tanpa disangka-sangka, beberapa tokoh yang hadir di ruangan itu, hampir tanpa sadar berteriak, “Allahu Akbar !”.

Presiden tampak sumringah, “Baik kalau demikian, saya minta Ketua MPR, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya segera mengadakan Sidang Istimewa dengan satu agenda perubahan konstitusi, yaitu adopsi syariat Islam ke dalamnya. Dan saya minta, para pemilik media massa untuk mendukung upaya ini dengan berita yang positif, yang menumbuhkan optimisme di hati rakyat, karena ini bukan untuk kepentingan siapa-siapa, tetapi untuk seluruh rakyat Indonesia”.

Ketua DPR bertanya, “Bapak Presiden, MPR terdiri dari DPR dan DPD. Kami siap mengadakan SI. Tetapi apa Bapak Presiden sudah memiliki bahan, apa yang harus kami putuskan nanti? Apa tidak perlu membuat Badan Pekerja dulu untuk menyiapkan rancangan perubahan konstitusi ataupun konstitusi baru itu?”

Presiden terdiam mendengar pertanyaan itu.

Tiba-tiba seseorang yang duduk paling belakang tunjuk tangan.
Presiden berkata, “Siapa itu?”
Orang itu menjawab, “Saya Pak, dari Pasar MInggu”.
Presiden, “Oh dari BIN ya. Ada masukan apa Pak?”.
Orang itu lagi, “Kalau jadi seperti itu Bapak nanti tidak lagi kami panggil Presiden”
Presiden heran, “Kenapa?”
Orang itu, “Nanti Bapak kami panggl Khalifah, Amirul Mukminin”.
Presiden, “Kata siapa?”
Orang itu, “Kata draf konstitusi syariah yang ada di saya Pak.”
Presiden, “Dapat dari mana kau?”
Orang itu, “Ini saya dapat waktu saya menyamar jadi peserta Konferensi Islam dan Peradaban oleh HTI tahun 2014”
Presiden, “HTI ??? apa ya, koq sepertinya pernah dengar, tapi di mana ???”

Presiden agak lupa, itu adalah pembuat buletin Jum’at yang terselip di dalam Qur’an yang dia baca sehabis tahajud itu.

Tidak penting apakah tahun 2020 itu HTI masih ada atau tidak. Tetapi dakwah yang dilakukan para aktivits HTI hari ini insya Allah telah menyebar ke mana-mana. Ke sudut-sudut yang tak pernah kita duga. Allah-lah pemilik hidayah. Dia memberi petunjuk kepada siapapun yang Dia kehendaki.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 152.217 orang

See me

%d blogger menyukai ini: