Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » “Golput Jangan Protes”

“Golput Jangan Protes”

Sebagai Muslim yang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, termasuk dalam pengambilan kebijakan pemerintah, kita terbiasa untuk memberikan nasihat, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama. Namun tak diduga, ada pihak yang mengatakan “Kamu golput, kok protes?” Mari kita simak perumpamaan berikut ini:

Seorang muslim masuk ke minimarket. Ketika didapatinya toko itu menjual miras, dia menasihati pelayannya agar berhenti memampang miras.

Mungkinkah si pelayan menampik, “Anda bukan karyawan, bukan pemilik, bukan pula pemegang saham, tidak perlu protes”

Ini bukan protes, ini nasihat. Yang merupakan kewajiban baginya untuk terus didakwahkan setiap melihat kemungkaran.  Sedangkan demokrasi adalah sebuah kemungkaran (penjelasannya tidak dibahas dalam kesempatan ini), sehingga memilih dalam pemilu yang demokratis sama saja dengan melegitimasi (merestui) kemungkaran tersebut. Adalah tidak mungkin bila kita hendak merubah lembaga kemungkaran (misalnya bank ribawi, pabrik miras, atau rumah bordil) kita harus masuk di dalamnya terlebih dahulu.

Mari kita masuk ke dalam perumpamaan yang lain. Misalnya ada Bank Ribawi. Agar banknya berubah bagaimana caranya?

  1.   Ada yang berusaha melamar menjadi pegawai, dengan tujuan kalau dia terpilih menjadi manajer dia akan merubahnya menjadi Bank Syariat. Dia mengajak teman-temannya ramai-ramai menjadi pegawai karena menurutnya, semakin banyak orang baik dalam pabrik itu akan semakin baik pula bank-nya.
    Resikonya, sebelum dia diangkat menjadi manajer kemungkinan besar dia harus menjalankan segala aktivitas riba yang ditentangnya sendiri. Kalaupun ketika akhirnya menjadi manajer, jikalau dia menyuarakan perubahan, belum tentu bawahannya akan menerima bila selama ini tidak ada usaha menasihati mereka, malah bisa menjadi bumerang: “Selama ini kamu hidup dari Riba dan sekarang menolaknya?”

  2.   Ada yang berusaha menghubungi kantornya, menasehati pimpinannya, menasehati karyawannya, mengadakan pengajian, membagi-bagikan buku, namun dia tidak mau masuk menjadi pegawainya selama bank tersebut masih menggunakan sistem ribawi yang dianggapnya haram.
    Resikonya, pendidikan selalu memakan waktu yang lama… Nabi Muhammad membutuhkan waktu 23 tahun untuk berhasil. Nabi Nuh membutuhkan lebih dari 950 tahun dan tidak berhasil,

Cara apa yang menurutmu paling baik dan kenapa?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: