Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Bagaimana Harokah Mengikuti Pemilu – Agar Tidak menimbulkan Perpecahan

Bagaimana Harokah Mengikuti Pemilu – Agar Tidak menimbulkan Perpecahan

Masukkan alamat email anda

Bergabunglah dengan 5.003 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 130,742 hits

Follow me on Twitter

Iklan
Partai Islam haruslah berasas Qur'an dan Sunnah

Partai Islam haruslah berasas Qur’an dan Sunnah

Sejujurnya, saya hormat kepada teman-teman & saudara-saudara saya dalam partai dakwah Islam yang dengan memilih ijtihad berpolitik melalui demokrasi kemudian telah berikhtiar dengan terjun mengambil resiko dalam pemilu demi menegakkan Islam yang kaffah di Indonesia. Mereka adalah Muslim-muslim pemberani, yang mau tak mau siap berkorban, baik harta maupun perasaan, menghadapi cemoohan, hujatan, bahkan putus pertemanan dari kawan-kawan dan saudara. Pesan saya: *Janganlah membalasnya dengan perbuatan yang sama, jawablah dengan perbuatan yang lebih baik.*

InsyaAllah pengorbanan mereka tak sia-sia di sisi Allah Sang Maha Mengetahui. Mengingat jikalau mereka beramal ikhlas dan sesuai dengan ijtihad, maka salah atau benar tetap berpahala, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui kebenarannya. Menang atau kalah menjadi tidak terlalu penting, sepanjang perjuangan itu didasari niat yg ikhlas, yg tak menyimpang dari apa yg digariskanNya melalui ajaran Rosulullah SAW.

Saya pribadi belum tentu seberani dan sebaik mereka dalam menyumbang ikhtiar bagi perbaikan ummat Islam. Namun perkenankan saya menyampaikan pentingnya hal berikut ini, agar kelak tidak terjadi perdebatan yang tidak perlu.

PENYEBAB PERPECAHAN UMMAT ISLAM SAAT PEMILU:

1. Tidak memahamkan bahwa demokrasi adalah sistem kufur yg haram mengimani, menerapkan dan mendakwahkannya.

Padahal kekufuran demokrasi itu sangat jelas dan nyata, yaitu meletakkan kedaulatan membuat hukum berada ditangan lembaga legislatif sebagai manusia yg sangat terbatas dan memiliki sejuta kekurangan dan kelemahan, yang dikuasai oleh hawa nafsunya.

Padahal hak membuat hukum adalah milik Alloh SWT. Dan siapa saja org yg tidak memutuskan perkara sesuai hukum yg telah diturunkan Alloh maka dia adalah kafir, zalim atau fasik, tdk ada kata shaleh. Hukum demokrasi adalah hukum hawa nafsu dan jahiliah. (lihat QS Almaidah ayat 44, 45, 47, 48, 49 dan 50).

2. Menganggap bahwa penyebab berkuasanya orang-orang non muslim dalam lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif, adalah golputnya sebagian kaum Muslim dari partai-partai Islam.

Padahal penyebab hakikinya adalah akibat diterapkannya sistem demokrasi yg kufur, dimana hukum-hukumnya adalah produk hawa nafsu jahiliah dan berpihak kepada kemaksiatan dan kemunkaran, dan ditentukan oleh org2 kafir, zalim dan fasik yg mayoritas. Meskipun seluruh kaum muslim tdk ada yg golput, kalau demokrasi masih diterapkan, pasti kaum kuffar atau antek-anteknya akan mengalahkan dan menguasai kaum muslim. Tengok saja sejarah masa lampau, sejarah kaum muslim yg dipimpin oleh Serikat Islam, Masyumi dan seterusnya, hingga kemenangan Al Ikhwan di Mesir.

3. Tidak memahamkan bahwa demokrasi adalah senjata bagi kaum kuffar untk menghancurkan Islam dan kaum Muslim dan memecah-belahnya. Demokrasi membuat Islam dan non-Islam bisa duduk sederajat dalam parlemen. Demokrasi bisa membuat sesama Islam saling mempertajam perbedaan karena prinsip kebebasan membuat masing-masing membawa uukuran menurut hawa nafsunya. Demokrasi bisa melegalkan perbuatan meninggalkan hukum Islam, Al-Qur’an dan As-Sunnah.

4. Tidak memahamkan bahwa tujuan dari berkuasanya kaum Muslim itu bukan murni mendapat kekuasaan, tetapi untuk menerapkan sistem pemerintahan Islam, yaitu Khilafah (atau istilah lain yang sesuai untuk itu), untuk menerapkan hukum-hukum Islam yg telah dibuat dan diturunkan oleh Alloh SWT, untuk menjamin kesejahteraan dan keamanan seluruh umat manusia, tanpa melihat yg muslim dan non muslimnya, dan untuk kebaikan kaum muslim dari dunia sampai akhirat.

Kalau sekedar berkuasa, tapi tidak menerapkan sistem dan hukum Islam, maka tidak ada bedanya antara penguasa muslim dan non muslim, dalam hal perbuatan, bahkan wujuduhu ka’adamihi / keislamannya sama dengan kenon-islamannya. Na’udzubillahi min dzalik!

Justru penguasa muslim yg tidak menerapkan sistem dan hukum Islam itu lebih buruk dari pada penguasa kafir yg menerapkan sistem dan hukum kufur. Dan mereka lebih berbahaya terhadap Islam dan kaum Muslim daripada mereka, karena ummat akan menganggap apa yang kufur menjadi “islami” karena yang menerapkan adalah penguasa Muslim.

Renungan:
Dari Abu Umamah ra berkata: “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW: “Apakah dosa itu?”. Nabi bersabda: “Ketika ada sesuatu yang meragukan jiwamu, maka tinggalkanlah ia!”. Laki-laki itu bertanya lagi: “Lalu apakah iman itu?”. Nabi bersabda: “Ketika kamu disusahkan oleh keburukanmu dan dibahagiakan oleh kebaikanmu, maka kamu adalah orang yg beriman”.
(Almundziri berkata: HR Imam Ahmad dengan sanad shahih).

MENGAMBIL DEMOKRASI SEBAGAI JALAN DARURAT, KAMI HORMATI. NAMUN MENGANGGAPNYA SEBAGAI JALAN ISLAMI TERMASUK KEGAGALAN PROSES TARBIYYAH, TATSQIF DAN TA’LIM.

Jadi kenyataannya, sebuah harokah dapat saja berijtihad terjun dalam sebuah kancah demokrasi yang haram, tentu bila ijtihadnya itu adalah dari seorang mujtahid. Dan untuk menghindari perpecahan dengan harokah lain yang bersikukuh tidak mau terjun dalam demokrasi, adalah tetap dengan menyampaikan hal-hal di atas. Sedikitnya sebagaimana yang dirilis oleh Wahdah Islamiyah,

Mengikuti pemilu adalah salah satu contohnya. Kami berkeyakinan bahwa mengikuti pemilu dan masuk ke dalam parlemen bukanlah jalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, para sahabatnya serta generasi as-Salaf as-Shaleh dalam menegakkan dien ini dan melakukan perubahan menuju kehidupan yang diridhai Allah Ta’ala. Akan tetapi, saat ini khususnya kita di Indonesia tengah diperhadapkan pada sebuah realitas bahwa sebuah kekuatan besar secara terbuka maupun tersembunyi tengah merencanakan upaya besar untuk  menghalangi da’wah Islam dan mendatangkan kerugian bagi kaum muslimin. Dan salah satu celah yang mereka tempuh adalah melalui berbagai kebijakan dan keputusan yang bersifat politis. Dengan kata lain, perlu ada dari kaum muslimin yang dapat menghalangi berbagai upaya tersebut, yang tentu saja salah satunya -secara terpaksa- dengan menempuh jalur politis.

Wallohu a’lam bish showab.

Catatan: Bila ada yang mengira ini adalah pemikiran HTI, saya mengajak anda membaca pernyataan jubir salafi. Mungkin ada lagi yang bertanya, “Lalu kenapa ada Salafi yang mengikuti pemilu? dan malah terjun di dalamnya?” Mereka menjawabnya secara mendasar bahwa wajib mendukung partai yang dikenal memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Sedangkan PKS memberikan definisi baru bagi demokrasi yang berbeda dengan masyarakat dunia pada umumnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 130,742 orang

See me

%d blogger menyukai ini: