Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Petualang Dakwah Mampir ke Hiroshima

Petualang Dakwah Mampir ke Hiroshima

Segelintir jamaah sholat Subuh, bersama ikhwan Indonesia, Afghanistan, dan Mesir

Segelintir jamaah sholat Subuh, bersama ikhwan Indonesia, Afghanistan, dan Mesir

3 hari ini kami mendapatkan suasana masjid yang berbeda. 4 pria berjenggot panjang, memakai gamis, berkopyah, menyertai ibadah subuh yang biasanya hanya dipenuhi oleh jamaah Mahasiswa dari Indonesia dan Afghanistan. Mereka ternyata berasal dari Semarang. Jauh-jauh ke Hiroshima hanya untuk mampir dan mengajak orang meramaikan masjid dan banyak mengingat Allah. Mereka ikut sholat berjamaah 5 waktu dan meramaikan kegiatan bakda sholat dengan kultum yang sangat mudah dicerna. Ya, mereka berasal dari Jamaah Tabligh.

Ini bukan kali yang pertama saya melihat kiprah mereka. Namun untuk sampai ke Jepang bukanlah hal yang mudah, sedikitnya tidak murah. Masjid As-Salam adalah kota ke-10 yang mereka kunjungi dari 3 bulan program khuruj yang mereka tradisikan. Salah seorang anggotanya menyampaikan bahwa mestinya mereka melakukannya 4 bulan, namun visa Jepang hanya mengijinkan sampai 3 bulan saja.

Yang lebih mengesankan lagi adalah tidak seorang pun dari ke-empatnya bisa berbicara bahasa Inggris, apalagi bahasa Jepang. Sehingga tatkala di antara jamaah ada yang berkewarganegaraan selain Indonesia, mereka meminta ketua HICC (Hiroshiima Islamic Culture Center) untuk mendampingi menerjemahkan ke bahasa Inggris. Dan mereka juga tidak mengenal Jepang. Ketika ditanya rute selanjutnya ke mana, mereka tidak menyebut nama kota, melainkan jarak; “150 km dari sini.”

Di antara pesan-pesan yang perlu saya catat disini adalah:

  1. Menegakkan sholat menurut tertibnya, yakni tertib waktu (di awal waktu), tertib tempat (di masjid), dan tertib cara (berjamaah).
  2. Membawa sifat sholat ke luar, yakni pada saat sholat kita mengingat Allah, di luar sholat pun banyak-banyak mengingat Allah. Salah satu caranya adalah dengan berdzikir. Kemudian pada saat sholat kita mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, di luar sholat pun kita berusaha menyebarkan salam dan bersikap manis kepada sesama Muslim, dimana Rosulullah berpesan bahwa senyum kepada saudara akan dicatat sebagai ibadah shodaqoh.
  3. Meneladani Rosulullah dan meneruskan perjuangan beliau, yakni memikirkan ummat dan beramal untuk mengajak ummat kepada Allah.

Usai berpisah dengan mereka kami pun pulang. Macam-macam pikiran melintas di benak saya, menyemangati untuk berdakwah lebih “bermujahadah”, bersungguh-sungguh. Bahwa keberadaan saya untuk belajar dan  bekerja, hanyalah penopang untuk tugas utama setiap Muslim: Menghamba kepada Allah dengan meneladani Rosulullah SAW.

Ada catatan-catatan lain yang juga ingin saya tuangkan disini. Ketika seorang teman kami yang lain mengoreksi beberapa kesalahan di dalam penyampaian kultum jamaah tabligh tadi, bahwa di antara hadits yang dikutip secara tidak langsung terdapat yang dhaif, bahwa berdakwah itu baik, namun tidak boleh berdusta atas nama Rosul (maksudnya menyampaikan sesuatu dan mengatakan bahwa itu berasal dari Rosul, padahal bukan). Saya sangat menyayangkan bahwa pengetahuannya yang baik itu tidak disampaikan saat bertatap muka dengan yang bersangkutan, dan ini saya katakan kepadanya.

Saya ingin mengingat-ingat hal penting ini:

  1. Jika saya menemukan kesalahan seseorang, saya juga harus bisa menemukan kebaikannya. Agar saya bersikap adil. Tidak terbutakan oleh buruk sangka.
  2. Jika saya bisa bertatap muka, sebisa mungkin koreksi yang saya lakukan adalah langsung kepada yang bersangkutan, tidak menyampaikan kesalahannya kepada orang lain.
  3. Jika saya hendak menasehati yang lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama, maka sebisa mungkin saya menyamarkan identitasnya agar orang tidak mengingat namanya, namun mengingat kesalahannya.

Pengecualian untuk yang terakhir ini bisa dibaca dalam kaidah beramar ma’ruf dan bernahi munkar.

Saya tuliskan semua ini agar kelak saya sendiri mengingat pelajaran berharga ini, dan semoga para pembaca pun bisa ikut mengambil hikmahnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: