Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » (Tidak Mungkin) Menikmati Demokrasi Tanpa Sadar (Kecuali Orang Awam)

(Tidak Mungkin) Menikmati Demokrasi Tanpa Sadar (Kecuali Orang Awam)

Banyak yang mengira sama dengan Islam

Banyak yang mengira sama dengan Islam

[ Ada yang bermonolog, bahwa kalau kita hidup di negara demokrasi, maka meskipun berjuang menegakkan Islam dan menentang demokrasi sejatinya dianggap ikut menikmati kebebasannya. ]

Segera saya teringat Nabi Musa alayhi salam, yang berdakwah memerangi tirani Fir’aun sementara beliau hidup dalam istananya. Saya juga teringat nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wa salam, yang berdakwah memerangi paganisme Quraisy sementara beliau hidup di Makkah. Saya juga teringat para sahabat yang hijrah dan bernaung di bawah pemerintahan Najasy.

Apakah mereka juga dikatakan menikmati kekufuran sistem yang berlangsung di tempat kelahirannya? Bukankah mereka berdakwah dan tidak mengambil bagian dalam sistem yang membesarkannya itu? Ataukah ada bagian sirah yang saya lewatkan?

Saya yakin bahwa yang menikmati demokrasi bukanlah (1) orang yang memperjuangkan Islam menegakkan Khilafah tanpa kompromi dengan demokrasi, bukan pula (2) orang yang memanfaatkan demokrasi tapi untuk menggantinya dengan Islam, melainkan (3) orang yang membela demokrasi bahkan menggunakan dalil naqli untuk membenar-benarkannya.

—–

Status ini saya buat tanpa menyebut identitas, melainkan hanya esensi, karena penyebutan identitas tidak lain hanya akan mengarah kepada ghibah dan ashobiyah. Mari kita cari kebenaran dan menerimanya dari mana pun datangnya.

Sayang sekali saya harus melontarkan ini, karena monolog di atas dilandasi karena yang penulisnya di web tidak berkenan “berdebat” yang bagi saya seolah tidak berkenan “menerima masukan”.  Kalau ingin tahu sumbernya, carilah dengan judul yang sama tanpa kalimat yang di dalam kurung. Lalu di sebuah situs resmi bergambar sama, maka akan tertera berderet alasan yang tidak satu pun dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah.

Saya berharap agar penulisnya dan pengikutnya menerima kenyataan bahwa ada cara berpikir lain yang argumentatif.

Wallahu a’lam bish showab, kebenaran hanya dari Allah, bukan dari saya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,620 orang

See me

%d blogger menyukai ini: