Gilig Guru

Beranda » Artikel » Cara (Anakku) Mengusir Setan

Cara (Anakku) Mengusir Setan

Fafa bersembunyi di balik pintu

Fafa bersembunyi di balik pintu

Fatih mengibas-ngibaskan tangan ke udara, seperti mengusir segerombolan lalat. Namun tentu saja itu hal yang aneh karena dia sedang tidur di atas box bayi milik adiknya, lagi pula saat ini adalah malah hari. Oh, awas kalau anda mengira dia sedang tidak waras, anak sulung saya ini sehat wal afiat. Disela-sela aksinya tersebut ia menyeru, “mati, mati, kubunuh kamu… setan!”

Sama penasarannya dengan anda saya tanyakan, “Ngapain, mas?”

“Mengusir setan,” Senyumnya tersipu malu menatap saya.

“Bagaimana bisa?” Saya semakin penasaran.

“Itu lho,” jawabnya sambil mencucu (monyong) dengan menghembus nafas panjang, “tadi dik Fafa menggangguku, aku enak-enak mainan pedang tiba-tiba aku dipukul.”

Saya membayangkan adiknya mungkin sedang berimajinasi —dalam dunianya sendiri— bahwa kakak Fatih tiba-tiba menjadi musuhnya di kerajaan, datang dan mengganggu penduduk kerajaan, dengan perlengkapan perang yang telah disandang kakaknya, Fafa mengendap-endap harus menyerang lebih dulu! BUSH…!  Sesuatu meledak, asapnya menutupi pandangan mata, dan saya kembali di hadapan Fatih anak saya. He he he… Maaf, terkadang saya terlalu menyelami dunia anak-anak saya.

“Terus?” Tanya saya karena tidak bisa menemukan hubungan antara aksi pukul lalatnya tadi. Apakah Fatih juga melampiaskan kemarahannya pada Fafa dengan “membunuhnya” di dalam dunianya sendiri? Ups… tidak jadi, untung saya segera kembali ke dunia nyata.

“Iya terus aku marah. Tapi aku ingat katanya Abi kalau orang marah itu paling mudah diganggu oleh setan. Makanya aku mengusirnya. Sekarang aku ndak marah kok sama Fafa.”

Wah… saya tidak menyangka bahwa ada cara seperti itu. Dan saya bersyukur tadi sepanjang perjalanan pulang dari masjid saya bercerita kepada Fatih tentang bagaimana di akhirat manusia saling menyalahkan dan bagaimana Allah subhanahu wata’ala memberikan balasan bagi orang yang pemaaf. Fatih dan Fafa hari ini beberapa kali terlibat pertengkaran. Dan waktu luang di Ashar tadi saya mengajak Fatih dengan harapan bisa sedikit berjauhan dengan adiknya, sehingga “agenda bertengkar”nya bisa teralihkan.

Apakah semudah itu saya menasehati anak saya? Seolah-olah salah di antara anda—para pembaca— ada yang mengatakan, “Enak sampeyan mas, kalau anak saya sulitnya diberitahu sampai minta ampun.”

Tips saya ini tidak selalu berhasil, halah baiklah saya jujur saja, tepatnya tidak selalu saya jalankan. Yang sering terjadi adalah ketika anak-anak berkelahi, saya datang melihat mana yang benar dan mana yang salah, lalu saya ketok palu memutuskan kamu salah dia benar, kamu dihukum begini dan jangan diulangi lagi, pengadilan pun bubar, namun ada yang tidak mendapat kepuasan. Yang “menang” menjulurkan lidahnya kepada yang kalah, “Weee… aku bilang juga apa!” Kubaca ungkapan itu dari wajahnya. Sementara yang “kalah” matanya mengernyit, pipinya mengembung seperti ikan fugu, dan tangannya mengepal, seperti bergumam, “Awas nanti… tunggu saja!” Wah, bahaya dendam terpendam di dalam sekam nih.

Pendekatan “memberikan pengertian” seringkali lebih berhasil, meski membutuhkan waktu lama. Saya harus menunggu kapan anak-anak “siap mendengarkan”. Anda tahu kan? Saat dimana wajah mereka tidak merengut kepada anda. Maksud saya, meski telinga senantiasa terbuka kadang-kadang hati mereka tertutup. Sehingga yang masuk dari telinga kiri keluar lewat telinga kanan.

Dan pengertian yang paling mudah diterima adalah kisah Nabi. Karena mereka didudukkan di dalam cerita itu sebagai pendengar dongeng mau tidur. Anak-anak tidak merasa sebagai terdakwa meskipun diceritakan tokoh antagonis yang sifat-sifat negatifnya mereka punyai. Anak-anak juga terdorong untuk menjadi tokoh protagonis yang di dalam cerita kita gambarkan begitu menyenangkan dan indah.

Kisahnya seperti ini, “Di akhirat nanti, manusia saling salah-menyalahkan. Tidak ada hubungan teman, saudara, atau ayah dan anak (Tidak ada abi dan umi juga?). Setiap orang berusaha menyelamatkan diri dari neraka dengan cara melempar kesalahannya pada orang lain. Termasuk setan, yang paling banyak dipersalahkan. Tapi setan berkelit. Kata setan, ‘aku kan cuma menggoda, kamu sendiri yang marah terus jahil. Kalau kamu nggak marah dan jahil kan kamu nggak dosa’. Begitu alasan setan. Tentu saja dua-duanya berdosa. Di tempat lain, saat ada dua muslim yang saling menyalahkan, Allah memperlihatkan sesuatu kepada muslim yang didzalimi (maksud didzalimi itu apa, Bi?) yakni di langit atas ditunjukkan sebuah istana yang begitu besar dan indah. Muslim tersebut terkagum-kagum dengan lebar mata dan mulut sama menganganya (terkekeh…). Kata si Muslim, ‘itu punya siapa ya Allah? Malaikat…? Nabi…?’ (punya siapa Bi? Ayolah bi, beritahu aku) Allah berfirman, ‘itu buatmu’, Muslimnya kaget, ‘Ah, masa?’ Allah melanjutkan, ‘Kalau kamu mau memaafkan saudaramu’. Nah… siapa yang mau dapat istana? (Aku! —sambil mengacung) Caranya bagaimana? (Jangan marah! Jangan Jahil!)

Pelajaran selesai. Bandingkan dua paragraf terakhir. Yang sebelumnya pendek dan yang satu ini panjang. Mana yang lebih suka anda baca?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: