Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Khilafah atau Tauhid dulu?

Khilafah atau Tauhid dulu?

Pertanyaan ini belum pernah saya dapati hingga saat seseorang yang gencar menyuarakan Khilafah “dihadang” oleh seorang Salafy dengan pertanyaan sebagaimana judul di atas. Pertanyaan tersebut dilakukan di tengah-tengah status facebook yang kontan mengundang komentar-komentar dari orang lain. Sayangnya pertanyaan tersebut seperti diajukan tidak memandang konteks pembicaraan.

Bayangkan, seandainya ada orang yang sedang berjualan obat, dia mengemukakan khasiat dan keampuhan obat tersebut, lalu datanglah seseorang yang bertanya, “Mana yang lebih dulu, berdoa atau berobat?”

Contoh lainnya, bila ada seorang ustadz berdakwah tentang pentingnya zakat, bagaimana tata cara pelaksanaannya, hukum-hukum seputar zakat, dan berusaha mengumpulkan dana zakat untuk disalurkan kepada ummat Islam yang dhuafa, lalu ada yang bertanya, “Lebih dulu mana, bersyahadat atau membayar zakat?”

Tidak diragukan lagi tauhid adalah pondasi agama seseorang, sebagaimana syahadat adalah amalan ibadah yang pertama sebelum yang lain, dan keyakinan kepada Allah itu mengawali usaha mencari kesembuhan. Jadi pertanyaan di atas adalah pertanyaan retoris, tidak membutuhkan jawaban. Namun apabila dilontarkan pada saat yang tidak tepat akan membuat orang awam berprasangka sinis terhadap syariat Khilafah.

Dalam kasus syahadat atau zakat, misalnya, syahadat memang yang pertama, namun bukan berarti orang tidak boleh berdakwah tentang zakat. Sebagaimana tauhid memang pondasinya, namun apakah berarti mendakwahkan khilafah harus ditinggalkan? Berdoa harus, berobat itu hak tubuh, dua-duanya tetap bisa dijalankan tanpa perlu meremehkan salah satu di antara keduanya.

Pertanyaan tersebut hanya pantas diajukan dalam 2 konteks,

(1)    Bertanya kepada guru, dalam konteks benar-benar bertanya, manakah yang menjadi prioritas yang tepat bagi pribadi penanya.

(2)    Mengingatkan seorang saudara yang terlupa, telah meninggalkan pondasi agama. Misalnya terhadap seorang syabab yang hanya mengurusi politik dan lalai menjalankan sholat.

Baca juga tulisan saya “Manakah Jamaah yang Paling Benar?”


1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 152.220 orang

See me

%d blogger menyukai ini: