Gilig Guru

Beranda » Artikel » Gara-gara Membicarakan yang Tidak Perlu Dibicarakan Kita Jadi Mengetahui yang Tidak Perlu Diketahui

Gara-gara Membicarakan yang Tidak Perlu Dibicarakan Kita Jadi Mengetahui yang Tidak Perlu Diketahui

Pernahkah kita mendengar diskusi yang seru mengenai apakah hukum sebuah perbuatan? Biasanya pembicaraan mengenai fiqih yang diikuti oleh beberapa orang yang tidak dipimpin oleh salah seorang diantaranya cenderung menjadi dialog lepas (kendali). Dialog akan menjadi tidak terkontrol. Keterpelesetan yang pertama adalah pada saat mengidentifikasi suatu pandangan fiqih dengan kelompok tertentu, maka yang awam akan mulai menyamaratakan semua orang dalam kelompok tersebut. Contohnya, saat membicarakan tentang tahlilan, maka biasanya akan dibayangkan ormas NU. Namanya fiqih, ujungnya seringkali ke hukum perbuatan. Kalau sudah sampai pada kesimpulan bahwa tahlilan itu haram, kemudian bablas sampai menyalahkah-nyalahkan NU, yang itu berarti menyalahkan semua orang NU yang konon 30 juta itu.

Puncaknya, ada oknum (kita istilahkan saja begitu) yang mengatakan, “dasar NU!” seolah-olah setiap orang yang bangga menyematkan identitas NU di dadanya layak untuk dipersalahkan. Stereotip ini menggeramkan! Parahnya di lapangan ternyata juga ada yang lebih membabi buta dalam memukul rata pandangannya.

Apa yang terjadi? Sekarang muncul perlawanan balik. Setiap ada “serangan” bahwa NU adalah ahlul bid’ah, maka mereka ganti dicap dengan “Wahabi”. Kini seolah terjadi debat massal dalam ruang tak terbatas. Yang berdebat tidak saling bertemu tapi saling menyalahkan. Tidak saling kenal tapi bisa saling menelanjangi. Semua aib terbuka, akhirnya masyarakat yang awam yang tidak seharusnya mengetahui menjadi tahu apa yang seharusnya ditutupi. Orang yang baru belajar Islam, yang mengerjakan sholat saja masih perlu dorongan kuat, yang membaca Al-Qur’an saja masih terbata-bata, sudah pandai berbicara mengenai sejarah Wahabi atau fasih mempropagandakan anti bid’ah. Kemungkaran malah bertambah-tambah.

Apa yang harus kita lakukan?

Ingatlah hadits, “Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, membunuhnya adalah kekafiran.” Seburuk-buruknya seorang Muslim, dia adalah saudara kita yang memiliki hak untuk dijaga darahnya (nyawa), hartanya, dan kehormatannya. Bayangkanlah bagaimana sikap anda saat mendapati adik atau kakak anda berbuat kesalahan, apakah akan diteriaki? Di depan umum?

Saat kita membicarakan sebuah kemungkaran, batasilah hanya pada perbuatannya, jangan melebar kepada kelompok mana itu. Ingatlah pepatah, “Jika seseorang berbuat kesalahan, ingatlah kesalahannya, lupakan orangnya.” Yang demikian itu agar yang lain menghindari perbuatan yang salah itu tanpa mengucilkan orang yang berbuat salah, karena tidak ada orang yang bebas dari kesalahan. Kalau setiap kesalahan kita jauhi orangnya, maka yang terjadi adalah perpecahan.

Satu hal lagi terkait menasehati. Ingatlah bahwa sebodoh-bodohnya orang, pasti memiliki satu  atau dua hal yang dia kuasai dengan baik. Orang yang bijak mengenali kepandaian orang lain dan menghargainya bersamaan dengan menasehati kebodohannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: