Gilig Guru

Beranda » Artikel » Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Abu Bakar Kompleks SMP-SMK Al-Furqan

Naskah Khutbah Jum’at di Masjid Abu Bakar Kompleks SMP-SMK Al-Furqan

Sholatlah sebelum engkau disholati

Mendamba Mati “Khusnul Khotimah”

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innā lillāhi wa innā ilayɦi rāji’ŭn” (sesungguhnya kita semua milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kita semua akan kembali.

 

Innalillahi wa inna ilayhi rooji’uun, ucapan yang diajarkan oleh Allah kepada kaum Muslimin saat menghadapi segala musibah, termasuk kematian. Ini adalah ungkapan keimanan, bagian dari kesabaran dalam hati.

Hari ini seorang ustadz yang terkenal meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tunggal, tidak dinyana, mengejutkan banyak orang, mengingat usianya yang masih muda yakni 40 tahun. (beritanya)

Memang kematian tidak banyak yang menyangka, namun pasti terjadinya, sayang banyak pula yang lupa, sehingga kita perlu mengingatkannya.

Mengingat Mati,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

 “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Orang yang tidak ingat dia akan mati, tidak akan ingat akhirat. Dia akan terlena dalam kesenangan atau kemaksiatannya. Orang yang punya uang tidak akan mau berbagi dengan yang membutuhkannya, orang yang santai tidak akan mau belajar dan beramal, orang yang cantik akan mempertontonkan kecantikannya, orang yang dikuasai nafsu akan mengumbar hawa nafsunya.

Tapi semua akan mati, dan itu hanya awal dari kehidupan baru yang lebih berat. Di akhirat setiap diri kita ditanyai rincian amalan kita dan dimintai pertanggungjawabannya.

Maut Terjadwal namun Rahasia,

Kematian itu sudah ditentukan sebagaimana kelahiran manusia. Tidak ada yang tahu siapa, kapan, dimana, dan bagaimana-nya kecuali hanya ALLAH swt. Tidak ada rumus mengetahui bocorannya, tidak ada kiai, dukun, atau paranormal yang tahu. Tidak disusun berdasarkan abjad maupun nomer absen. Allah merahasiakannya agar kita berusaha setiap saat.

{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ}

Artinya: “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34).

{وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا} [المنافقون : 11]

Artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Munafiqun: 11).

Mari kita renungkan betapa banyak contoh yang Allah berikan agar kita waspada, namun sedikit yang mencerna. Banyak peringatan tapi tidak dihiraukan.

Ingat Cita-citamu, Dengan mengingat mati menambah semangat beribadah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” HR. Ibnu Hibban

Ingatlah ibumu, bila beliau sudah meninggal maka tentu kita merindukannya di tengah-tengah kita. Bahkan seandainya diijinkan hidup kembali, pastilah kita mau melakukan apa saja untuk menebusnya. Kita mau menggantikan pekerjaan rumahnya, menyapu, memasak, mencuci, melakukan tugas yang membuat punggungnya nyeri, menggantikan sakit yang membuatnya mengeluh, menjaganya seperti beliau terjaga untuk kita di malam hari. Namun kini beliau telah tiada, apa yang bisa kita janjikan itu tidak lagi berguna. Yang berguna hanyalah kesholihan kita, yang mendorong kita untuk berdoa untuknya.

Lalu bagi yang masih memiliki ibu dan bapak, tidakkah kita lihat betapa irinya mereka yang sudah tidak memiliki salah satu atau keduanya? Betapa beruntungnya kita namun dimana rasa syukur kita?

Ingat Mati Ciri Orang Cerdas, Marilah mengingat mati, karena mengingat mati adalah ciri mukmin yang cerdas berakal, mari perhatikan riwayat berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbaik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Ibnu Majah).

Kenapa cerdas? Karena kematian yang kita tuju, membutuhkan bekal yang banyak. Siswa yang menghadapi ujian nasional sudah bersiap setahun sebelumnya, latihan, ujian try-out, les, stress, berjaga malam hari, menambah ibadah, berpuasa, meminta maaf orang tua, semua demi lulus ujian nasional.

Sedangkan untuk kematian, tidak ada latihan mati, try-out, sebab itu tidak perlu dilatih. Yang perlu dilatih adalah bagaimana menghadapi saat menjelang kematian, agar mati kita mati khusnul khotimah, dan bagaimana menghadapi setelah kematian, agar kita bisa tidak dipersulit oleh dosa-dosa kita selama di dunia.

Wallahu a’lam bish showab

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


Ya Rabb kami, berilah ampunan kepada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu sebelum kami, dan janganlah Engkau membiarkan ada kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.”

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan segala tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: