Gilig Guru

Beranda » Artikel » Hubungan Antara PKn dengan Siroh Nabawiyah

Hubungan Antara PKn dengan Siroh Nabawiyah

Pendidikan Kewarganegaraan atau biasa disingkat dengan PKn adalah pelajaran wajib yang diberikan kepada siswa mulai jenjang sekolah dasar (SD), menengah, hingga perguruan tinggi (PT). Pelajaran ini menggantikan pelajaran serupa dengan nama PMP (Pendidikan Moral Pancasila), yang kemudian dirubah menjadi PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), dan kini menjadi PKn saja.

Apa Isinya?

PKn mengajarkan norma-norma yang umumnya berkaitan dengan keluarga dan kemasyarakatan. Secara berjenjang di tingkat atas nantinya PKn banyak mengulas tentang norma kenegaraan. Pelajaran ini bersifat ideologis, maksudnya mengajarkan norma yang mengatur cara berkeyakinan, berpikir, dan bersikap seseorang. Seringkali norma yang diajarkan dalam pelajaran ini berasal dari satu masyarakat atau kebudayaan asing, sehingga banyak menabrak norma-norma agama Islam yang juga bersifat ideologis. Misalnya paham demokrasi yang disebarkan oleh Amerika Serikat merupakan budaya Yunani kuno, kemudian paham nasionalisme (kebangsaan) yang disebarkan oleh penjajah Inggris merupakan bentuk baru dari sikap kesukuan yang ditanamkan Belanda saat memecah-belah bangsa Indonesia, dan juga paham sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (sepilis) yang juga merupakan budaya Barat.

Hal inilah yang menjadikan pelajaran ini penyimpangan besar dalam ajaran Islam. PKn harus dibersihkan bagi kemurnian pemahaman kaum Muslimin. Hasil dari doktrinasi pelajaran PKn cukup signifikan dalam menjadikan kaum Muslimin di Indonesia bukan hanya sebagai penganut demokrasi, nasionalisme, dan sepilis, bahkan sebagian kaum Muslimin intelektual menjadi corong propagandanya dan menolak penerapan syariat Islam sendiri, dengan anggapan bahwa hukum Demokrasi lebih unggul dari hukum Islam, atau sekurang-kurangnya sama. Buktinya bisa kita lihat begitu rajinnya media massa mematikan semangat kaum Muslimin untuk menegakkan syariat Islam dengan paham sekulerisme dan fitnah terorisme.

Saat tuntutan penegakan syariat Islam semakin membesar, perjuangannya tidak berkutik dalam proses demokrasi, hal ini dikarenakan demokrasi pasti mengikutkan komponen penolakan syariah Islam. Ummat Islam yang telah terdoktrin dengan paham pluralisme akan ditakut-takuti dengan label “intoleran” sehingga tanpa sadar akan mengakomodasi pemikiran kufur yang sebenarnya minoritas.

Bukti lainnya adalah pada saat terjadi konflik antar sesama negeri Muslim, yang paling mengemuka yakni dengan Malaysia atau Arab Saudi. Konsep ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan se-Islam) sama sekali dilupakan dan diganti dengan semangat kebangsaan (nasionalisme), sehingga provokasi untuk mengganyang dan berperang, sangat dominan daripada seruan untuk islah, memperbaiki hubungan.

Banyak kekacauan pemahaman di dalam diri kaum Muslimin disebabkan oleh doktrin-doktrin ideologis yang sejak dini telah ditanamkan secara tersistem melalaui pelajaran PKn ini.

Jalan Keluar

Oleh karena itu aktivis-aktivis Islam berusaha mencari jalan keluar agar dapat menyelamatkan kaum Muslimin dari ghozwul fikri melalui kurikulum pendidikan kufur. Pilihan yang banyak ditempuh oleh ikhwan Salafy misalnya, adalah dengan mendirikan homeschooling, mendidik anak-anak mereka sendiri di rumah, baik dengan bantuan komunitas maupun mandiri. Bahkan tidak sedikit yang dengan bantuan dari Timur Tengah, kemudian mendirikan sekolah-sekolah berbasis Islam, yang tidak mengakomodir pelajaran PKn ini.

Jalan keluar lainnya adalah dengan menggantikan kurikulum dalam mata pelajaran ini dengan Siroh Nabawiyah, sejarah perjalanan kehidupan Nabi Muhammad r. Ini ditempuh karena PKn dan Siroh memiliki beberapa kesamaan, yaitu:

Persamaan
Pendidikan Kewarganegaraan dengan
Siroh Nabawiyah

Keunggulan
Siroh Nabawiyah

  • Mengajarkan norma dalam keluarga, masyarakat, dan bernegara
  • Mengenalkan hukum dan ketatanegaraan
  • Membahas tentang nasionalisme dan demokrasi
  • Lebih lengkap, yakni juga mengajarkan norma terhadap diri sendiri dan terhadap Allah.
  • Disertai dengan penjelasan tashfiyyah bahwa ideologi nasionalisme adalah sempit dan demokrasi adalah pemikiran kufur.
  • Memiliki contoh yang konkrit, yakni Rosulullah, dan sahabat (khulafaurrosyidin)
Keterangan: Berdasarkan pembahasan dari buku karangan Said Ramadhan al-Buthy
  • Puncak keunggulannya adalah bahwa mempelajari Siroh pasti dapat diamalkan dan bermanfaat untuk kehidupan dunia dan juga akhirat.

Dengan pengajaran Siroh Nabawiyah, murid sama-sama mempelajari konsep tata negara. Hanya saja, bila PKn mengajarkan tata negara berdasarkan ideologi Barat, entah itu demokrasi, sosialisme, atau kapitalisme. Siroh Nabawiyah hanya mengunggulkan ideologi Islam, yakni tata negara Khilafah Islam.

Tantangan

Jelas mengganti kurikulum seperti ini akan mendapatkan tentangan dari Barat, karena penanaman ideologi kepada generasi dunia merupakan bagian dari imperialismenya. Negara-negara Barat yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Perancis, Australia, dan tentu saja Israel, merupakan sekutu dalam ideologi ini, meskipun mereka memiliki kepentingan masing-masing.

Negara-negara imperialis tersebut di atas mendapatkan keuntungan dengan dianutnya ideologinya oleh negara dan bangsa lain. Terutama ialah semakin mudahnya mereka melakukan intervensi politik, dan berujung kepada eksploitasi ekonomi. Negara yang menganut demokrasi dapat dipastikan memberlakukan sistem ekonomi kapitalis. Dengan sistem ini, negara Barat lah penguasanya. Justru negara-negara kecil yang mengikutinya, menjadi tak lebih dari sekedar negara boneka yang mengikuti arus kebijakan Barat.

Apa maksudnya?

Kalau ada sekolah yang mengganti kurikulum pendidikannya dari PKn menjadi Siroh, sekolah tersebut tidak cuma akan menghadapi pemerintah, melainkan juga “majikannya” pemerintah, yakni Barat. Resikonya sekolah tersebut akan dicap sebagai sekolah teroris, fundamentalis, radikal, kemudian akan dihentikan bantuannya, diblokir rekeningnya, dimata-matai kegiatannya, difitnah kepala sekolahnya, hingga apapun caranya agar sekolah tersebut kembali mengubah kurikulumnya menjadi PKn atau ditutup.

Oh, mungkin yang terjadi sebaliknya. Strategi soft power yang mulai digemari dalam abad intel ini mengimplementasikan kembali strategi lawas milik penjajah Belanda ke tengah-tengah kaum Muslimin; Devide et Impera, pecah belah. Beberapa orang yang berkedudukan namun memiliki kecenderungan kepada Barat akan disuap, sehingga timbul friksi internal dan perpecahan timbul dari dalam. Apakah sekolah menyeleksi guru dengan ketat? Bisa jadi satu dua guru adalah intel yang disusupkan untuk memantau dan memecahnya juga dari dalam.

Beruntunglah kalau kekhawatiran itu semua tidak terjadi di sekolah Anda. Namun hal tersebut bisa terjadi karena dua hal: (a) Sekolah anda terlalu kecil untuk dikhawatirkan oleh musuh-musuh Islam (b) Sekolah anda sudah lemah, tidak perlu diambil tindakan apa-apa karena sudah pasti akan mengekor kurikulum Barat. Saya berharap ada pilihan ketiga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: