Gilig Guru

Beranda » Artikel » Pendidikan Berkarakter Itu Nol Besar

Pendidikan Berkarakter Itu Nol Besar

Gaung pendidikan berkarakter memang cukup efektif mengingat perubahan kurikulum terjadi relatif serentak di —hampir dapat dikatakan— seluruh sekolah dari pusat hingga ke daerah. Inilah dampak positif kebijakan yang tersistem. Namun sebuah kebijakan, apalagi yang revolusioner, tidak dapat berjalan begitu saja tanpa dikawal. Dalam tema pendidikan berkarakter, sudah jamak dimaklumi bahwa kondisi karakter bangsa Indonesia sedang terpuruk. Musibah ini tidak hanya terjadi pada generasi mudanya, bahkan juga menjangkiti guru, malahan sampai kepada pejabat di dinas pendidikan. Singkat kata, untuk menggambarkan karakter bangsa kita dekade ini adalah: korup.

Merubah mental korup tentu tidak hanya memasang spanduk “mari kita perangi korupsi!” Namun kita perlu mengenali apa saja bentuk korupsi, siapa pelakunya, bagaimana sanksinya, dan yang terpenting adalah menegakkan hukumnya! Demikian juga menjadikan pendidikan sebagai instrumen pembaik karakter, tentu sangat naif bila cuma merubah judul dalam kurikulum, silabus maupun RPP dengan penambahan satu kata: berkarakter. Sekali lagi perlu dilengkapi dengan definisi berkarakter, contoh-contohnya, teladannya, demikian pula hadiah atau hukuman, dan lagi-lagi implementasinya dalam sekolah. Sebagian besar yang dibutuhkan dalam pendidikan berkarakter itu harus ada di dunia nyata, bukan di atas kertas, dan kita —dengan berat hati— hampir-hampir tidak memilikinya.

Itulah alasan saya mengatakan bahwa pendidikan berkarakter itu nol besar. Di kalangan akademisi, definisi “berkarakter” masih terjadi tarik ulur. Bagi ummat Islam, tolok ukur karakter tidak lain adalah Al-Qur’an dan Hadits. Namun ini masih acap diremehkan oleh kalangan sekuler. Berulang kali tokoh-tokoh liberal memprotes masuknya nilai-nilai Islam ke dalam ranah pendidikan. Misalnya, saat diajarkan tentang materi jihad yang merupakan salah satu kewajiban dalam Islam, dicurigai sebagai penyusupan ide teroris. Padahal bab jihad telah ada dalam kitab-kitab hadits ternama sejak awal ditulisnya. Sebaliknya, ide demokrasi yang sejatinya merupakan konsep ilusi yang gagal di negara besarnya, malah dijadikan acuan wajib dalam pendidikan berkarakter.

Begitupun saat memperdalam contoh-contoh sikap berkarakter yang sulit ditemukan teladannya. Ketika kita hendak mengulas karakter yang jujur, bekerja keras, bekerja sama, contoh yang disodorkan kebanyakan adalah cerita fiktif. Cara seperti ini tentu tidak akan benar-benar membentuk karakter. Disinilah pentingnya memperbanyak gambaran mengenai akhlak mulia Rosulullah saw beserta para sahabatnya, yang juga penting untuk diinternalisasi oleh segenap guru maupun karyawan sekolah.

Itulah sebabnya di sekolah kami, SMK Al-Furqan Jember, pendidikan adab menjadi awal kegiatan sekolah. Akhlak adalah problem yang tidak dihiraukan dalam pendidikan Barat, sekulerisasi adalah penyebabnya. Guru dibina untuk dapat berperilaku Islami, karena mereka tidak hanya akan mempertanggungjawabkan dirinya, namun juga anak didiknya di hadapan orang tua maupun Allah ta’ala.

(Bersambung InsyaAllah…) 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: