Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Memperalat Ketokohan Gus Dur

Memperalat Ketokohan Gus Dur

Pluralisme tidak mampu mencetak kader baru, dan hanya bisa memunculkan ikon lama

Dalam strategi menyusupkan ide-ide pluralisme, kalangan sepilis memilih judul simpatik semacam “toleransi”, “perdamaian”, atau “kerukunan” antar-ummat beragama. Seringkali dikesankan ilmiah melalui lembaga pendidikan Universitas Paramadina, Wahid Institute, Maarif Institute, ICIP atau LkiS. Mahasiswa yang disasar adalah mereka yang gemar berorasi, berdemo di jalan-jalan, namun kurang mendapat sentuhan agama.

Ide-ide pluralisme yang berasal dari Barat, pada dasarnya tidak pernah mendapat tempat di kalangan Muslim, tidak pula dari kalangan Kristen. Pada tahun 2001, Vatikan menerbitkan penjelasan ”Dominus Jesus” yang jelas-jelas menolak pluralisme. Franz-Magnis Suseno mendampratnya sebagai “ide absurd!”, Ulil Abshor Abdalla mencoba menjadi tokoh terdepannya justru kandas tidak kuasa berargumentasi terhadap kritik-kritik yang mempertahankan ide ketauhidan. JIL mencoba menokohkan pemuda-pemuda lulusan Barat lainnya, namun semuanya hanya bisa membebek tokoh-tokoh lama, tanpa melahirkan pemikiran baru.

Kini, sepeninggal mendiang Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, gerakan pluralisme, yang dalam sepak terjangnya di Indonesia selalu menentang syariat Islam ini telah kehilangan tokoh yang bisa menaunginya. Ide-ide pluralisme tidak mampu dipasarkan dengan bebas. Irshad Manji ditolak. Lady Gaga kecut hati. Hampir-hampir tokoh pluralis mati akal untuk mencari celah kelemahan ummat Islam. Fatwa sesatnya paham sepilis yang dikeluarkan MUI rupanya masih terlalu tangguh untuk dipatahkan kelompok semacam JIL dan semacamnya. (Lihat fatwanya klik disini)

Satu langkah yang kemudian menjadi tumpuan penting akhirnya adalah terus-menerus menggantungkan pada ketokohan Gus Dur. Hampir-hampir tidak ada jalan lain selain menggantungkan kepada ikon yang pernah mengundang kontroversi saat menjabat sebagai presiden RI ini. Adalah keluarga Gus Dur sendiri yang masih gencar memasarkan ide Pluralisme. Dengan berusaha dimunculkannya kelompok “Gus Durian”, komunitas “Gitu Aja Kok Repot”, dan sejenisnya yang membanting tulang mencoba menghidupkan paham-paham yang hampir mati kekeringan pendukung.

Gus Dur dikenal dekat dengan tokoh-tokoh non-Muslim

Gus Dur dikenal dekat dengan tokoh-tokoh non-Muslim

Tanpa ideologi yang jelas, gerakan pluralisme di Indonesia kini berubah menjadi paham fasis yang bukannya bebas dan terbuka terhadap segala bentuk ide, malahan membabi-buta menentang segala yang berbau Islam. Mulanya menentang negara Islam, kemudian menjalar menjadi menentang syariat Islam, ekonomi Islam,  bahkan pakaian Islam juga tak luput dari serangan. Ide-ide toleransi diterjemahkan semaunya sendiri menjadi toleransi terhadap kemaksiatan, kritik-kritik terhadap pelaku kekerasan hanya diarahkan kepada golongan yang berseberangan dengannya dan tidak dengan adil mengoreksi kekerasan kelompoknya sendiri, bahkan melalui media-media sekuler seperti Kompas yang memang akomodatif pada kelompok anti-Islam, ide pluralisme begitu serampangan mencela pihak-pihak yang berbeda dengan pemeluknya. Baru-baru ini (10/6) Kompas menerbitkan pernyataan Alissa Wahid yang mencerca banyak pihak tanpa mengindahkan etika jurnalistik.

Akhirnya pengusung pluralisme di Indonesia hanya mampu menjiplak apa yang hanya mampu dikerjakan oleh negara-negara Barat yang memusuhi Islam. Kita bisa melihat bagaimana Amerika Serikat yang begitu munafiknya mencap teroris kepada lawan-lawan ideologisnya, namun di saat yang sama justru menjadi negara teroris terkemuka sedunia. Kalau hanya tuding-menuding yang bisa dilakukan oleh pemeluk paham Pluralisme, maka bisa ditebak bagaimana mereka akan berakhir.

Sebagai penutup, meskipun kebathilan tidak akan diberikan jalan kemenangan oleh Allah swt dan Islam saja-lah yang diridhoi-Nya, kita harus meraih kesempatan untuk dapat menikmati kemuliaan tersebut dengan partisipasi membela agama Allah. Yakni dengan menunjukkan yang sesat itu sesat, dan yang benar itu benar. Sebarkanlah dakwah, dan salinglah  mendoakan!


2 Komentar

  1. siardhi mengatakan:

    Numpang ane share yah mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: