Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Merazia Minuman Keras Ilegal

Merazia Minuman Keras Ilegal

Benar-benar terkesan heroik, tatkala polisi men-sweeping warung remang-remang dan menyita puluhan botol minuman keras ilegal dan oplosan, kemudian mereka memajangnya secara publik untuk diwartakan di media massa saat memusnahkannya.

Apa yang berubah? Tidak ada. Miras berganti nama. Warung remang-remang berganti minimarket. Itu sudah cukup membodohi polisi sehingga kita tak pernah mendengar berita pihak berwajib merazia miras di minimarket. Tunggu, tidak mungkin. Tidak mungkin polisi sebodoh itu mengabaikan beredarnya miras-miras itu bersama menjamurnya minimarket.

Memang mereka tidak bodoh. Justru itulah cara negara memainkan ekonomi kapitalis. Menjadikan miras sebagai komoditi pajak. Negara sedang memainkan sebuah drama kucing-kucingan, polisi melawan penjual miras ilegal, mendudukkan ummat Islam sebagai penonton. Mirasnya dirazia, penjualnya didenda, polisinya menang, penontonnya bertepuk tangan.

Tunggu, ceritanya salah. Bukankah miras itu haram jadah dalam Islam? Bahkan khamr (bahasa Arab dari miras) adalah induknya kemaksiatan. Bahkan Rosulullah saw pernah mencambuk peminumnya, Umar bin Khathab pernah membakar tokonya, sahabat pernah membuang semua persediaannya. Bukankah dulu khamr ya khamr, tidak ada yang ilegal karena tidak ada yang legal. Semuanya haram.

Jadi kenapa yang dirazia hanya yang ilegal? Kenapa penjualnya hanya didenda? Kenapa peminumnya hanya dipenjara? Itupun kadangkala. Ternyata, semua ini hanyalah masalah pajak. Miras yang terdaftar tidak dirazia. Penjual miras yang membayar izin tidak disita. Peminum yang cukup umur tidak dipenjara. Semua bisa kalau duit berkuasa.

Jadi, polisi tidak bodoh. Negara apalagi. Yang bodoh adalah kita, dibodohi oleh sistem demokrasi yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah swt. Dibodohi dan kita diam saja. Merasa semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Hukum Allah diganti dan kita pun menuruti.

QS Al Ahzab ayat 36: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata

*Kalau masih belum paham letak hubungan demokrasi dengan kamuflase ini, tunggu seri berikutnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: