Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Islam » Mensinergikan Visi Pendidikan dengan Aksi (Guru)

Mensinergikan Visi Pendidikan dengan Aksi (Guru)

QS Adz Dzariyat ayat 56. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Begitulah kehendak Allah swt dalam penciptaan manusia yang berarti seluruh kehidupan kita ditujukan tidak untuk selain dari pengadian kepada-Nya. Bukan untuk mengejar kekayaan, jabatan, kenikmatan, kepandaian, bahkan bukan pula untuk kebahagiaan manusia itu sendiri, sebab ada yang lebih tinggi yang harus kita capai; yakni ridho Allah. Bersama ridho Allah maka segala kebaikan yang diinginkan manusia akan diberikan-Nya. Jadi ibarat pepatah, menanam padi akan tumbuh gulma, menanam gulma takkan tumbuh padi. Cari ridho Allah, kau akan menemukan segala bentuk kenikmatan. Namun carilah kenikmatan, kau tidak akan menemukan ridhonya Allah.

Bagaimana deklarasi niat ini dapat kita satukan dalam setiap amalan keseharian seorang guru? Bahwa kita mengajar untuk Allah, memberi nilai karena Allah, meluluskan siswa dengan berharap ridho Allah?

Tujuan Pendidikan Islam

Mengajar untuk Allah, apapun pelajarannya, adalah mengajar dengan niat:

  1. mendekatkan siswa kepada Allah,
  2. mendidiknya bertaqwa,
  3. mendorongnya memberikan manfaat bagi sesama.

Yang tidak diharapkan adalah:

  1. semakin pandai semakin jauh dari Allah; sehingga muncul kesombongan atau kegersangan. Misalnya dengan menganggap ilmunya adalah hasil dari usahanya, atau ilmunya tidak menenangkan jiwanya.
  2. sekular; menganggap kehidupan bisa diatur hanya dengan ilmu pengetahuan, tanpa perlu taat pada syari’at Islam.
  3. kehilangan gairah belajar, karena tidak terbit keinginan menolong dirinya sendiri atau lingkungannya. Atau kalaupun muncul gairah tersebut, orientasinya hanya pada diri sendiri.

Banyak kita temui sarjana-sarjana dengan karakter yang tidak diharapkan. Mereka atheis, sekular, dan apatis. Itulah jawaban dari pertanyaan,

Kenapa di daerah kampus, yang merupakan lingkungan akademis, banyak penuntut ilmu, justru banyak terjadi kemaksiatan?

Bukan Sekedar Menempel Ayat

Menjadikan siswa dekat kepada Allah tidak hanya harus dilakukan oleh guru agama, melainkan oleh semua guru secara simultan. Dari setiap pelajaran yang didapatkan siswa, mereka teringat kepada Allah dan tugas kemanusiaannya.

Caranya tidak dengan sekedar menempel ayat, seperti mencari apa dalilnya demokrasi dalam Al-Qur’an atau bagaimana Islam mengajarkan bekerja keras meskipun dalam sistem ekonomi ribawi, sebab demokrasi dan riba bertentangan dengan syariat Islam, yang jika dicarikan dalilnya malah akan memlintir ayat.

Matematika, IPA, teknik komputer dan yang semacamnya adalah pelajaran yang paling sulit untuk dihubungkan ke ranah agama. Ini karena Al-Qur’an memang bukan book of science tapi book of signs. Maka tidak perlu memaksa memasukkan dalil dalam pelajaran seperti itu.

Menjiwai Al-Qur’an

Guru fisika saat masuk kelas, mempraktikkan struktur atom, sifat-sifat periodik, dan ikatan kimia, kemudian  menunjukkan apa kegunaannya dalam dunia nyata, seperti batere, aki, dan sumber energi lainnya, sekaligus membedakan dengan penggunaan-penggunaan yang buruk seperti bom atom. Dengan demikian ilmu pengetahuan akan terarah kepada pemanfaatan demi kebaikan manusia, tidak semata-mata untuk berkembangnya ilmu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: