Gilig Guru

Beranda » Artikel » Politik » Mencairkan Kebekuan Pemeluk Pancasila

Mencairkan Kebekuan Pemeluk Pancasila

Pancasila adalah ideologi terbuka, oleh karena itu salah BESAR apabila ada yang memaksakannya, sampai-sampai mengklaimnya sebagai harga mati. Bangsa Indonesia harus terbuka kalau ingin keluar dari permasalahan kontemporer. Pemaksaan ideologis yang dilakukan baik secara sistematis oleh negara dan aparatnya, maupun secara psikologis melalui opini media massa, sebenarnya malah menjauhkan Pancasila dari masyarakat. Masyarakat kita menginginkan sesuatu yang alamiah, bukan didoktrin. Inilah jawaban dari pertanyaan kenapa semakin banyak orang yang —jangankan menghayati— menghafal bunyi Pancasila saja sudah tidak sanggup. Pancasila hanya dijejalkan secara dogmatis, dan semua yang berbeda dengan Pancasila dianggap menentang, subversif, dan ujung-ujungnya dijerat dengan pasal Anti-Terorisme.

Apakah kekerasan satu-satunya jalan yang dikenal untuk mempertahankan Pancasila? Kenapa masyarakat selalu disuguhi tontonan “kegagahan” polisi, tentara, dan intelijen dalam melumpuhkan warga sipil yang berpaham berbeda? Tidak sanggupkah negara ini mendidik, bukan membedil, masyarakatnya dengan cara yang santun dan berbudaya menuju cita-cita kemakmuran yang pasti diidamkan oleh semua ideologi di dunia.

Satu-satunya negara yang berideologikan Pancasila adalah Indonesia. Sementara di negara lain berkembang begitu banyak ideologi. Warga Indonesiapun tak terhitung yang keluar negeri, belajar di sana, dan pulang membawa pemikiran baru yang kaya. Adalah sebuah keniscayaan bila terdapat pergesekan nilai-nilai ideologi dari masyarakat kita sendiri. Hal ini justru perlu dimanfaatkan untuk berdialog mencari titik temu guna merumuskan ideologi yang lebih besar lagi.

Kecurigaan terhadap ideologi trans-nasional, adalah bentuk kepicikan wawasan, sekaligus kelemahan diri karena tidak mampu menampilkan ideologi yang lebih baik dari apa yang dibawa dari luar negeri. Bila kita yakin Pancasila lebih baik, tentu tidak perlu khawatir akan berpindahnya orang dari kesetiaan pada Pancasila kepada yang selain Pancasila. Namun bila kenyataan menunjukkan semakin banyak orang yang meninggalkan Pancasila, berarti inilah saat untuk introspeksi diri, sudah waktunyakah kita berubah? Ataukah kita memutuskan untuk menjadi jiwa-jiwa yang beku, yang anti perubahan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: