Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Pendidikan » Seri Pendidikan Islam: Format Pendidikan Dasar

Seri Pendidikan Islam: Format Pendidikan Dasar

Format pendidikan yang berciri khas Islam adalah hal yang diidamkan oleh banyak orang namun sedikit sekali yang bisa merumuskannya. Dalam tulisan ini saya mencoba memberikan beberapa contoh pemikirannya.

Pendidikan Islam salah satunya bertujuan menyiapkan santri untuk menghadapi kehidupannya. Memang tidak mungkin untuk membuatnya siap dengan segala solusi terhadap permasalahan yang mungkin akan ditemuinya nanti, namun paling tidak ustadz memberikan ilmu pengetahuan yang paling banyak dibutuhkan oleh santri seusianya.

Memenuhi Kebutuhan

Misalnya untuk santri usia pra-akil baligh, dimana kebutuhannya masih berpusat pada dirinya sendiri, maka pelajaran membaca, menulis, mendengar, dan berbicara adalah pokok. Lebih detail lagi, ustadz hendaknya melatih santri untuk mengungkapkan perasaannya dengan baik dan santun. Sebab santri yang tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya mungkin akan mencari jalan lain seperti berbuat nakal atau emosional. Dalam hal materi bacaan, ustadz bisa menyediakan banyak buku-buku cerita dan ensiklopedi yang menyediakan banyak gambar ilustrasi dan sekaligus memuaskan keingintahuan santri.

Membangun Kemandirian

Pelajaran-pelajaran lainnya bisa diarahkan untuk membangun kemandirian santri. Misalnya pelajaran kesehatan, mengajari santri untuk mengobati dirinya sendiri tatkala terluka, melatih membersihkan sendiri tempat makannya, hingga menelpon ambulans apabila ada keadaan darurat. Ada sebuah kata mutiara dalam bahasa Jepang yang ditanamkan sejak usia balita, “Jibun no koto jibun de shio” yang artinya lakukanlah urusanmu sendiri.

Untuk mengharapkan hasil kerja yang orisinil, dilakukan oleh santri sendiri (tanpa bantuan wali murid), maka hendaknya ustadz tidak memberi tugas yang sulit dikerjakan. Di samping itu, ustadz perlu menyampaikan betapa pentingnya santri memberikan pendapat dari sudut pandangnya sendiri. Misalnya saat menjawab, “hewan apa yang paling kecil?” ustadz harus siap dan menyiapkan santri yang lain akan jawaban berbeda dari keumuman menjawab “semut.”

Mendorong Kreativitas

Di samping itu setiap pelajaran yang ada hendaknya mendorong kreativitas dengan menanamkan santri untuk menghargai originalitas hasil kerja. Oleh karena itu meski kelihatannya sepele membiasakan santri untuk mengapresiasi karya orang lain sebenarnya adalah penting. Misalnya ustadz memilih tugas akhir berupa presentasi, kemudian audiens diminta untuk tenang dan menyimak, kemudian memberi tepuk tangan, menyalami, dan memuji. Apresiasi semacam ini akan cepat mendorong kreativitas selanjutnya.

Menanamkan Kejujuran

Yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan kejujuran. Di usia SD santri paling mudah untuk menanamkan kejujuran dibandingkan masa selanjutnya. Oleh karena itu ustadz hendaknya menaruh perhatian yang besar untuk mempertahankan ini. Tentu saja peran lingkungan—terutama keluarga—sangat besar pengaruhnya. Pendidikan ini tidak bisa diberikan berupa satu mata pelajaran khusus yang diisi dengan kuliah. Kejujuran adalah pembentukan sikap dan oleh karenanya harus diberikan secara integral melalui semua mata pelajaran.

Cara menyampaikannya bisa dengan penekanan bobot nilai saat ujian. Ustadz bisa lebih menghargai hasil ulangan yang dikerjakan secara mandiri dan jujur ketimbang yang mencontek atau bekerja sama. Dalam mendukung hal ini adalah lebih tepat bila ujian akhir tidak ditujukan untuk mengeliminasi santri, melainkan sekedar mengetahui pencapaian akhir santri. Dengan begini baik santri maupun ustadz tidak terbebani akan target kelulusan.

Satu catatan yang perlu diperhatikan adalah untuk selalu mengukur kemampuan santri. Inilah yang membuat ustadz berada pada posisi dilematis, keinginan untuk memberi pendidikan yang terbaik bisa jatuh pada memaksa santri untuk belajar terlalu banyak sehingga membuatnya tertekan. Di satu sisi pendidikan idealnya menyenangkan bagi santri. Namun jangan sampai pendidikan hanya melulu menjadi permainan yang tidak berhasil mencapai tujuannya.

Iklan

2 Komentar

  1. Ari Kurnianingsih berkata:

    Subhanallah sangat bagus, secara konsep sgt bagus.. yg cukup sulit adalah menemukan guru2 yg memahami hal ini secara komprehensif agar dapat menuangkannya dlm proses mendidik.. Krn butuh perjalanan pemahaman yg cukup bagus yg sejalan dengan keimanan utk bs menerapkannya.. Saya tunggu detail gambaran kurikulumnya.. 🙂

  2. gilig berkata:

    Untuk selanjutnya saya tertarik untuk menyumbangkan ide ini ke SDIT di Hidayatullah di Jember.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 115,548 orang

See me

%d blogger menyukai ini: