Gilig Guru

Beranda » Artikel » Artikel Pendidikan » Mengajarkan Semangat Bekerja pada Anak

Mengajarkan Semangat Bekerja pada Anak

[bermain+bersama.jpg]

Bermain dengan hasil kerja sendiri lebih dinikmati

Anak-anak saya membuka mainan yang dibeli dengan hasil keringatnya sendiri. Si sulung membeli permainan merakit rel kereta api seharga 300 ribu rupiah, adiknya membeli brick seharga 120 ribu rupiah. Uang tersebut mereka kumpulkan selama berbulan-bulan menabung dari pekerjaannya.

Bekerja?

Anak sulung saya sebenarnya masih belum genap 6 tahun, sementara adiknya barusan melewati hari lahirnya yang ke-4. Namun itu tidak menghalangi semangat mereka untuk bekerja. Sebagai keluarga Muslim, kami dituntut untuk mendidik anak-anak dengan semangat bekerja keras. Maka saya dan istri menanamkan semangat itu dalam kegiatan sehari-hari.

Kami mengawalinya dengan sebuah kisah-kisah Nabi saw dan para sahabat yang penuh dengan perjuangan. Lalu melalui sebuah hikmah, kami tawarkan pada mereka, “mulai sekarang, bila kalian beramal sholih, akan Ayah beri bintang!” seru saya bersemangat, dan mata anak saya pun membelalak, girang. Ya, orang tua harus menjadi motivator yang bersungguh-sungguh supaya anak ikut merasakan semangatnya.

Saya tempelkan dua lembar kertas di dinding, masing-masing satu untuk anak saya. Dengan dua kolom bertanda “bintang” dan “bom”. Aturannya sederhana, 1 perbuatan baik, akan diganjar bintang. Sebaliknya 1 perbuatan nakal, akan diganjar bom. Aturan itu ditempel di dinding sehingga mereka bisa melihat hasilnya sendiri. Ha-ha-ha… anda tentu bisa menemukan cara yang lebih baik dari ide sederhana ini.

Orientasi

Begitulah anak-anak saya kemudian menjadi lebih terarah dalam bermain, lebih mudah saya mintai tolong, karena mereka punya semacam rumus di dalam kepalanya, bahwa apa yang mereka lakukan pasti akan ada imbalannya.

Pernah sih saya memberi imbalan berupa uang, lengkap dengan celengan untuk menyimpan koin-koin. Namun kemudian saya tidak menyukainya karena anak-anak kadang-kadang tidak sabar dan merengek, “uang… minta uang…” Nah, sejak diganti bintang, paling mereka mengeluh, “lho, kenapa bintangku sedikit…?” dan itulah kesempatan baik untuk memberikan penjelasan tentang ayat Allah:

Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).[QS Ali Imron surat 3 ayat 25]

Anak saya, dan saya yakin anak anda juga, sangat suka mendapatkan penjelasan dari setiap aturan. Dia tidak begitu saja menerima aturan tanpa tahu alasannya. Namun setelah dia tahu, maka dia akan konsisten dengan aturan tersebut sehingga bahkan saya pun akan ditegurnya bila melanggar. Saya belajar darinya bahwa orang tua harus yang pertama dan teguh dalam menjalankan aturan. Ini adalah masalah kepercayaan.

Jangan anggap remeh anak-anak. Meski tidak mudah bagi mereka untuk mengerti penjelasan orang dewasa, namun kepercayaan yang mereka rasakan, karena telah dianggap cukup dewasa untuk mengetahui sebuah alasan, dapat cukup memotivasi untuk bersikap lebih dewasa menurut ukuran mereka.

Konsistensi itu Sulit

Istri saya bilang, “instant change is easy, constant change is difficult.” Pada hari pertama kami memulai sistem penggajian dengan bintang ini semuanya berjalan mulus. Anak-anak membantu bekerja dengan penuh harapan dan semangat. Tapi tidak untuk lama, karena pertambahan nilai tidak secepat semangat mereka. Dari hari ke hari mereka hanya bisa menambah 25 bintang. Mereka ingin lebih.

Maka si Sulung membawa pensil dan menuliskan sendiri bintangnya, disusul dengan adiknya. Kecurangan terjadi. Saya nyatakan mereka berdua didiskualifikasi dan sistem bintang dihapus total. Melihat kesungguhan saya, akhirnya anak-anak menyesal dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Anak Muslim Bekerja Keras

Satu permasalahan selesai, muncul yang lain. Kita memang menduga akan banyak permasalahan baru sebagai batu ujian bagi orang tua. Untuk menghadapi itu semua, orang tua perlu memperhatikan bahwa mereka harus konsisten dengan aturan yang dibuatnya sendiri, dan ikut melestarikannya. Jangan sampai orang tua menjadi malas bekerja, karena jika demikian anak-anaknya tidak akan bergerak sama sekali.

Sistem Penilaian

Sekedar ingin berbagi bagaimana kami memberikan bintang dan bom kepada anak-anak, inilah pertimbangan kami.

  1. Amal sholih pada umumnya mendapatkan 1 bintang, seperti memaafkan, meminta maaf, membuang sampah di tempatnya, dan sebagainya.
  2. Amal sholih yang membutuhkan kerja lebih keras, mendapatkan lebih banyak bintang, seperti merapikan mainan, rak sepatu, mengepel, dan semacamnya.
  3. Amal sholih yang dituntut di dalam Islam, mendapatkan paling banyak bintang, seperti mengaji dan berangkat sekolah. Si Sulung mengusulkan pelangi (setara 25 bintang), lalu saya menambah matahari (50 bintang). Kadang-kadang saya memberi matahari saat si Sulung memijati saya sampai tertidur… he he he.

Sedangkan sebaliknya:

  • Amal buruk pada umumnya kami beri 1 bom, yang dengan demikian akan dikurangkan dari jumlah bintangnya. Membentak, menangis histeris, merengek, balasannya 1 bom.
  • Amal buruk yang keterlaluan, seperti memukul saudaranya, kami beri bom lebih, atau bahkan “petir” (5 bom). Ide petir ini  uniknya muncul dari si Sulung sendiri.

Kapan Bisa Fleksibel

Tentu saja tidak selamanya Kami ketat dalam penilaian. Seringkali karena mereka begitu bersungguh-sungguh dalam bekerja, sehingga kami lipatgandakan nilainya. Di saat lain, mereka mau berbagi dengan saudaranya, sehingga kami hapus bom di daftarnya. Lalu kami beritahukan itu. Dengan mata girangnya mereka bertanya, “Ha, kok bisa?” Saya jawab, “Ya, bisa. Ini bonus.” ya, memang bonus karena diluar aturan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: