Gilig Guru

Beranda » Berita » Berita Sekolah » Berkunjung ke Sekolah Dasar di Jepang

Berkunjung ke Sekolah Dasar di Jepang

Bagi yang belum membaca pendahuluannya, silakan baca dulu disini.

Arsitektur sekolah mengambil konsep sebuah rumah; terdapat ?? (genkan) atau ruang transisi, yakni sebuah pintu masuk dimana tamu, guru, dan murid biasanya meletakkan payung mereka, melepas sepatu mereka dan menggantinya dengan sandal hijau atau cokelat (Saya rasa ada memang tidak ada warna lain) untuk berjalan di dalam gedung sekolah, sementara siswa mengganti sepatu “luar” dengan sepatu khusus dalam ruangan (uwabaki) yang selalu kain putih. Genkan, sandal, dan uwabaki ini mewakili pembagian antara “orang luar” dan “orang dalam” tradisi Jepang. Dengan begini bagian dalam sekolah relatif tidak terlalu kotor.

Karena pergantian 4 macam musim, terutama karena musim dingin, saya pikir itulah sebabnya gedung sekolah di Jepang dibangun koridor bukannya teras, yakni lorong sepanjang jalan antar kelas. Sepanjang koridor siswa mereka meletakkan loker, rak sepatu, papan untuk meletakkan karya-karya seni mahasiswa, dan di sekolah-sekolah dasar terdapat tempat cuci tangan bagi siswa untuk mencuci tangan atau kotak makan. Gagasan menempatkan ini di dalam atau sekitar kelas sangat nyaman karena siswa membutuhkan banyak hal-hal, yang tidak dapat mereka bawa semua di tas mereka, atau yang mereka butuhkan dengan segera.

Tata letak kelas di sebagian besar sekolah relatif sama di mana-mana. Saya perhatikan bahwa sekolah Jepang dibuat sederhana, seperti rata-rata sekolah-sekolah Indonesia. Untuk sebagian besar orang Indonesia, kelas mereka tidak terkesan modernitas Jepang. Di depan kelas adalah sebuah papan tulis, kadang-kadang warnanya hijau, tapi saya tidak pernah menemukan sebuah whiteboard seperti yang biasa digunakan di sekolah-sekolah “favorit” di Indonesia. Meja siswa berderet berbaris menghadap papan tulis, dan ada jendela besar di salah satu sisi ruangan dan pintu geser menuju ke lorong di sisi lain.

Di beberapa kelas, bagian lantai di depan kelasnya lebih tinggi agar guru dapat dilihat seluruh siswa. Guru juga memiliki meja kecil atau podium untuk menyimpan barang-barangnya seperti buku. Di beberapa sekolah dasar, wali-kelas memiliki sebuah meja tersendiri di ruang kelasnya.

Siswa biasanya memakai kelas mereka untuk sepanjang hari. Makanya ruangan mereka penuh dengan barang-barang siswa seperti tas, permainan, hasta karya (hasil kerajinan tangan), dll. Dinding penuh ditutupi dengan poster yang menginformasikan beberapa agenda, visi dan misi kelas, daftar piket, dll benar-benar dipersonalisasi dengan sangat menarik.

Gambar terakhir ini bukan vandalisme, melainkan hasil kreasi siswa dalam rangka menyambut hari kesenian di sekolah. Mereka menghias kelasnya menurut tema dan kelompok masing-masing.

Rasanya senang sekali mengunjungi tiap-tiap kelas. Bagaimana perasaan anak-anak SD itu ya?

Berikut video kunjungan saya ke sekolah:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: