Gilig Guru

Beranda » Artikel » Memperkokoh Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

Memperkokoh Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

 

Keluarga bahagia di bawah air terjun kaliurang yang sedang kering airnya.

 

Pendahuluan

Proyek pembentukan karakter:

  • bertujuan yang utama adalah menyiapkan generasi muda dalam kepemimpinan.
  • memprogramkan nilai-nilai Islam agar menjadi bagian dari kepribadian anak
  • mengembangkan konsep diri anak muslim sampai berhasil menyadarkan mereka pada tanggungjawabnya kepada Allah SWT dan kepada sesama muslim

Pahami proses alamiah pembentukan karakter yang bersifat holistik disebutkan dalam
Q.S.: Ibrahim, ayat 24, tentang Metafora / perumpamaan pohon :

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik [*] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

[*] Termasuk dalam “kalimat yang baik” ialah kalimat tauhid, segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. Kalimat tauhid seperti “laa ilaa ha illallaah”.

Bagian dan pendukung pohon

  • Tanah, mewakili lingkungan belajar
  • Bibit, mewakili fitrah dari manusia
  • Akar, bertugas mengambil sari makanan dari tanah
  • Batang pohon, mewakili pengalaman, pengetahuan dan nilai yang dianut seseorang.
  • Cabang pohon dan daun, mewakili “minds-on learning”, dan pencarian “First hand experiences”
  • Bunga, mewakili mekarnya ide-ide baru, dan kreativitas, akan menghasilkan awal mula pertumbuhan tunas baru.
  • Buah, mewakili hasil alami dan merupakan titik kulminasi dari proses pertumbuhan.

Berlandaskan pemahaman di atas, berikut adalah tips sederhana dalam mendidik anak sesuai gender

Tujuh prinsip mendidik anak laki-laki

Prinsip pertama : Jangan coba-coba untuk menghilangkan tingkahlaku lincah dan impulsif mereka, namun nikmati, bentuklah dan perbaiki sikap mereka.

Prinsip kedua : Hindari gejala “sakit hati” bagi anak laki-laki, dengan cara menentang dengan keras premanisme, pemerasan atau kekerasan yang terjadi di sekolah di antara para siswa atau dimanapun. Juga selalu waspada terhadap kekerasan yang diekspos media, serta perhatikan beberapa tanda depresi, menarik diri, dan lesu dari anak laki-laki.

Prinsip ketiga : Tetap dekat pada anak laki-laki secara emosional maupun sebagai pembimbing yang selalu waspada. Komunikasikan peraturan dalam konteks hubungan saling mencintai

Prinsip ke empat:
Untuk membantu anak laki-laki mendapat contoh perilaku gender yang sehat, maka anak laki-laki harus mendapat kasih sayang, perhatian dan dukungan dari ayah. Kalau ayah tidak ada karena sesuatu hal, perannya boleh digantikan oleh tokoh laki-laki dewasa yang kita percaya.

Konsep utama mendidik anak perempuan:

  1. Sebagai orangtua, kita berfungsi sebagai pelatih bukan sebagai juri atau hakim. Sebagai pelatih kita akan memberi semangat, punya pengharapan yang tinggi, kadang-kadang memuji atau memberi masukan, serta pasti membuat aturan atau batasan-batasan. Anak perempuan lebih dapat menerima orangtua yang demikian, karena mereka merasa ‘pelatih’nya ada di pihak mereka dalam tim yang sama. Orangtua yang suka menghakimi akan selalu mengarahkan energi mereka untuk mencari kesalahan anak perempuan, dan mereka akan memberikan hukuman yang sesuai. Orangtua yang bersifat demikian akan dianggap sebagai musuh bagi anaknya karena selalu bersikap negatif terhadap anak perempuannya.
  2. Beri penekanan pada kecerdasan, kerja keras, kemandirian, kepekaan dan keuletan, dalam diri anak perempuan. Kurangi tekanan pada penampilan yang berlebihan. Hubungan yang dibangun berdasarkan penampilan akan melemah seperti wajah yang cantik juga lama kelamaan akan pudar. Namun hubungan yang berdasarkan minat dan nilai-nilai yang sama akan lebih berpotensi untuk menguat.
  3. Gantungkan cita-cita yang tinggi untuk anak perempuan setinggi untuk anak laki-laki. Pasang harapan tinggi terhadap anak perempuan karena anak perempuan punya hak dan kemampuan yang sama untuk menjadi sebaik anak laki-laki.
  4. Ajarkan anak perempuan kompetisi yang sehat. Beri semangat untuk menang, tapi tidak perlu mendorongnya untuk selalu menang. Kemenangan membangun percaya diri, kekalahan membentuk karakter.
  5. Jangan paksa anak perempuan untuk selalu sesuai dengan harapan masyarakat, misalnya: genit, centil, suka bersolek, kurus dll. Banyak anak perempuan yang merasa punya perbedaan saat mencapai masa remaja. Bantu mereka merasa nyaman dengan perbedaannyan. Arahkan energi mereka pada kegiatan positif seperti bermain musik, drama, sains, olahraga, atau kegiatan keagamaan.
  6. Tekankan pada anak perempuan tentang keselamatan diri. Beri tahu anak perempuan apa yang disebut dengan ’orang asing’. Latih anak untuk memahami bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh dilihat atau dipegang orang lain.
  7. Beri motivasi anak perempuan anda untuk membaca kisah wanita-wanita sukses dan para sahabat wanita di jaman Rasulullah. Kebanyakan wanita-wanita yang sukses dalam berbagai bidang terinspirasi pada kisah-kisah tersebut di atas.
  8. Bantu anak untuk merasa nyaman dengan matematika sejak di pra sekolah. Kegiatannya dapat berupa menghitung, mengukur dan menjumlah. Ajari mereka kemampuan spasial melalui pazel, permainan dan kegiatan membangun. Latih juga kebugaran fisik mereka dengan berbagai permainan motorik kasar. Selain itu latih juga keberanian mereka melalui berbagai tantangan
  9. Jangan biarkan urutan lahir menjadi penghalang anak perempuan anda untuk melatih kepemimpinan, tanggungjawab dan memiliki waktu berduaan dengan anda.
  10. Rencanakan bersafar dengan anak-anak perempuan anda, dengan seluruh keluarga, atau ibu –anak perempuan saja, ayah-anak perempuan saja. Perjalanan ke satu tempat membangun semangat bertualang, pengayaan, ikatan keluarga dan rasa percaya diri.
  11. Jadilah contoh bagi anak perempuan bagaimana anda belajar, menggunakan waktu luang dan mengembangkan karir anda. Sesibuk apapun anda, siapkan waktu untuk berbicara dan mendengan anak perempuan anda setiap hari.

Untuk mudahnya memahami saya berikan ilustrasi:

Saat mendidik anak laki2 kita harus berada di belakang mengawasi, dan membiarkan mereka menemukan jalannya sendiri walaupun tetap dalam supervisi. Karena anak laki2 akan menjadi pemimpin di dalam keluarganya nanti… biarkan dia berlatih sejak dini.

Saat mendidik anak perempuan kita berada di sampingnya, sebagai pelatih yang mengarahkan, memberi masukan, membimbing, mungkin malah menuntunnya untuk menemukan jati dirinya, fungsi gendernya dan fungsi sosialnya. Sehingga di masa depan anak perempuan dapat taat pada suaminya yang soleh yang akan memimpinnya dalam rumah tangga.

Semoga bermanfaat, silahkan dibagikan jika dirasa perlu dan bermanfaat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,620 orang

See me

%d blogger menyukai ini: