Gilig Guru

Beranda » Berita » Cara Jepang Mengatasi Dilema Kependudukan

Cara Jepang Mengatasi Dilema Kependudukan

https://i2.wp.com/www.jplnet.com/venustransit/wakkanai%20map300.jpg
Lokasi Wakkanai

Sumber: Berguru

Pengalaman gakkai di Wakkanai, Souya, salah satu wilayah paling Utara Hokkaido, terbayang kembali ketika suatu hari dalam salah satu seminar `kyoudou` (seminar yg modelnya spt kolokium di IPB- presentasi rencana penelitian) yg diadakan setiap hari Rabu pagi, seorang mhswa, Sayaka Sato san mengangkat topik `kosodatte undou` (children raising).

Pemerintah Jepang saat ini mengalami dilema dalam masalah kependudukannya. Populasi penduduk muda menjadi menurun drastis dalam dekade ini, karena keengganan wanita dan laki-laki muda Jepang untuk menikah. Kalaupun mereka menikah, mereka hanya menginginkan 1 atau 2 anak. Kelihatannya biaya hidup, termasuk biaya pendidikan membuat yang masih pasangan muda berpikir panjang untuk punya anak atau yang lajang untuk segera menikah. Masalah lain adalah semakin senangnya wanita jepang bekerja dan aktif di luar rumah, sehingga masalah pengasuhan anak menjadi beban jg dalam benak mereka yg menggiringnya kpd keengganan untuk berkeluarga.

Untuk mengantisipasi masalah ini pemerintah Jepang memfasilitasi berbagai program pun iklan dan pembelajaran tentang demography pada para siswa di sekolah maupun media massa. Termasuk membentuk beberapa children care centre atau woman centre yang disponsori oleh pemerintah kota. Bidang ini sebenarnya menjadi tanggung jawab Menteri Kesejahteraan, tapi di beberapa wilayah, pemerintah tidak berbuat banyak, sehingga warga dengan inisiatif sendiri memulai usaha tersebut.

Kota Wakkanai mempunyai sistem yg sangat bagus untuk masalah ini. Ada beberapa program yang dikembangkan oleh pemerintah setempat dan didukung oleh warga dan sekolah, di antaranya Family support, soudan centre (Biro konsultasi). Family support adalah salah satu program yg bertujuan untuk membantu okaasan (ibu2) yg hendak melakukan aktivitas luar rumah dalam waktu tertentu, misalnya belanja, ke pesta, rapat, dll, dan untuk hal itu mereka perlu menitipkan anak kepada seseorang yang dipercaya. Lembaga family support memfasilitasi hal ini, dengan menampung orang2 (ibu2) juga yang bersedia menjadi ibu asuh dan untuk ini mereka harus mengikuti training, mematuhi beberapa aturan pengasuhan, dan mereka pun dibayar. Hal ini menunjukkan kerjasama antar anggota masyarakat yg sangat baik.

Biro konsultasi dibentuk untuk membantu sekolah, guru, orang tua bahkan siswa yg menghadapi kendala dalam kehidupan sehari2nya. Konsultasi berlangsung via telpon melalui free dial, atau langsung bertatap muka. Lembaga ini dikelola oleh mantan kepala sekolah, guru or tenaga berpengalaman lainnya. Pun dimanfaatkan oleh warga setempat. Bahkan bagi keluarga yg tidak mampu menyekolahkan anak pun memanfaatkan lembaga ini.

Hal lain yg cukup menarik adalah `anshin boushi` yaitu program penggunaan topi berwarna kuning oleh anak2 sehingga mereka dg mudah dikenali oleh warga, dijaga dan diawasi. Dg kata lain pengasuhan anak, pemeliharaan anak tdk lagi menjadi beban ortu saja, tapi warga pun terlibat untuk berperan serta.

Hanya saja yg masih dipertanyakan, budaya Jepang yg sangat enggan menerima bantuan dan enggan merepotkan orang lain (independent) menjadi penghalang keberhasilan program ini, pun biaya yang selama ini free untuk beberapa kegiatan (karena dilakukan oleh para volunteer) menjadi dipertanyakan keberlangsungannya.

Sementara harapan bantuan dari pemerintah sepertinya sulit diperoleh karena pemerintah pusat berketetapan untuk memangkas beberapa pembiayaan dan mengharap peran pemerintah daerah lebih besar, pun partisipasi msyarakat. Tapi yang pasti, kesadaran warga Wakkanai untuk perkara ini patut diacungi jempol.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 115,548 orang

See me

%d blogger menyukai ini: