Gilig Guru

Beranda » Artikel » Konsep pendidikan berkualitas dan gratis untuk semua

Konsep pendidikan berkualitas dan gratis untuk semua

Oleh: Iwan Syahril

Keterbatasan Sarana dan Prasarana

Apa yang diperlukan dalam pendidikan berkualitas gratis untuk semua? Rencana yang bagus? Anggaran yang memadai? Fasilitas yang lengkap? Kurikulum yang canggih? Cara pembelajaran yang modern? Guru-guru yang berkualitas, yang senantiasa mengembangkan kemampuan diri?

Menurut saya inti dari pendidikan adalah pembelajaran terhadap hidup dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi hidup. Pendidikan yang berkualitas haruslah diawali dari hati bukan materi. Hati yang mempunyai tekad yang kuat dan mampu menularkan semangat menggairahkan dalam mencari ilmu, berekplorasi, bereksperimentasi dalam membaca alam dan tanda-tanda alam. Hati yang membebaskan, mencerdaskan, yang memberi inpirasi dalam mengolah berbagai hal di depan kita, di sekitar kita.

Pendidikan yang kita butuhkan adalah pendidikan yang mengenalkan anak-anak didiknya dengan lingkungannya, sehingga mereka tumbuh besar menjadi insan-insan yang mengerti tentang apa yang telah, sedang, dan akan kita hadapi. Yang mengerti apa potensi-potensi diri serta potensi-potensi yang dimiliki bumi pertiwi, peluang-peluang apa yang kita punya dalam menjadi pemenang dalam kompetisi global. Pendidikan yang membentuk karakter kita sebagai bangsa yang terhormat, bukan bangsa pecundang.

Apakah pendidikan seperti itu mahal? Memang pendidikan yang bagus itu mahal. Namun kita harus memikirkan sejumlah cara untuk menjalankan apa yang kita inginkan dengan biaya yang terbatas. Seperti apakah itu? Mungkin konsep community-based school adalah sebuah konsep pendidikan yang akan membebaskan kita dari belenggu keterbatasan dana dan prasarana. Keterlibatan komunitas sekolah dan masyarakat seakan sebuah mimpi di sebuah bangsa yang mengaku memiliki akar budaya gotong royong. Saya pikir ini tidak akan menjadi sulit jikalau kita menjalaninya dengan penuh kesungguhan. Semangat ini juga hendaknya ditularkan dan dikembangkan sehingga kita tidak menjadi gampang patah semangat dan selalu ada komunitas yang membangkitkan semangat ketika kita sedang hilang semangat.

Sekolah yang berdasarkan komunitas. Mungkinkah? Bagaimana dengan gaji guru dan sarana prasarana sekolah? Bukankah banyak lembaga-lembaga yang berkeinginan menyalurkan bantuan-bantuan? Bukankah banyak donatur yang senantiasa mencari tempat yang tepat dalam menyalurkan bantuan mereka? Ini bisa kita manfaatkan secara maksimal. Jikalau sistem perpajakan kita semakin bersih dan efisien maka kita juga akan dapat mengandalkan pajak sebagai sumber anggaran pendidikan berkualitas tanpa biaya untuk semua. Sehingga sekolah dapat membayar gaji guru dengan memadai, dan sekolah dapat membeli sarana dan prasarana yang lebih lengkap.

Namun hal yang paling penting adalah software, sistem belajar mengajar yang diterapkan. Apakah ia membebaskan dan mencerdaskan? Atau hanya memberi instruksi yang kaku? Sejarah telah membuktikan bahwa dengan sarana dan prasarana yang terbatas sebuah pendidikan yang berkualitas dapat dilaksanakan. Betapa banyak tokoh-tokoh negara ini yang lahir dari lingkungan yang miskin, yang mengalami sistem pendidikan yang sangat miskin sarana dan prasarana, namun memiliki guru yang mampu memberi visi, motivasi dan inspirasi bagi para peserta didik walau dengan segala keterbatasannya. Memiliki guru seperti inlah merupakan hal yang paling kita butuhkan dalam sistem pendidikan kita.

Memiliki guru-guru yang berkualitas yang bukan hanya menguasai materi pelajaran, namun juga mampu memberi visi, motivasi dan inspirasi bagi para peserta didik untuk tumbuh berkembang. Profesi guru harus diberi perhatian yang sangat utama dalam pembangunan bangsa ini. Sumber daya yang ingin menjadi guru biasanya adalah sumber daya yang gagal bersaing. Mereka menjadi guru dikarenakan tidak memiliki pilihan lain. Menjadi guru karena itulah yang bisa diharapkan sebagai sumber penghasilan. Dan inilah yang menjadikan mental-mental bisnis yang tidak mendidik dalam dunia pendidikan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kita semua butuh duit dalam menjalankan hidup. Guru-guru juga memiliki keluraga, anak, istri, suami yang harus diberi nafkah dan disekolahkan, yang butuh biaya untuk transportasi, ke dokter dan sebagainya. Namin diatas itu semua mutu pendidikan terhadap peserta didiknya hendaklah menjadi prioritas utama dalam menjalankan pekerjaan ini.

Disamping itu, penghargaan yang layak juga dibutuhkan agar sumber daya yang unggul berkeinginan untuk menjadi guru, tertarik untuk menjadi guru. Bangga untuk menjadi serorang guru dan dapat berkembang dengan profesi sebagai guru. Maka yang dibutuhkan adalah paket kompensasi yang menarik yang dapat menjamin kelangsungan hidup dan kehidupan mereka ketika memilih menjadi guru. Kemudian yang perlu diperhatikan adalah pendidikan pengembangan guru. Ilmu pengetahuan tak henti-hentinya berkembang maka dari itu perlu rencana pendidikan lanjut guru dalam setiap jenjang yang ada. Ini harus dilakukan dalam paradigma induktif-deskriptif. Sebuah paradigma yang menjadikan training bermanfaat dan sesuai dengan konteks riil yang dihadapi guru dalam kegiatan mereka sehari-hari. Hal yang sering terjadi adalah guru-guru menjalani training yang tidak sesuai dengan konteks yang mereka hadapi. Pergantian kurikulum sering berimplikasi pada cara pengajaran yang baru, yang mengharuskan mereka menggunakan fasilitas yang baru yang mungkin tak mereka punya. Seperti halnya KBK, kurikulum yang hendak dirubah ini, yang berasumsikan bahwa sebuah kelas memiliki siswa sekitar 20 orang. Apakah hal ini riil, sesuai dengan konteks yang dihadapi oleh para guru ? TIDAK!

Pelatihan guru hendaklah didekatkan dengan kondisi riil yang nyata. Maka dari itu, kita butuh penelitian-penelitian yang aplikatif yang mendatangkan ide-ide pembelajran dari konteks-konteks yang dihadapi dalam kehidupan kegiatan pengajaran sehari-hari. Misalnya bagaimana mencapai target kuruikulum dengan jumlah siswa banyak, fasilitas yang sangat kurang, namun dengan pembelajaran yang membebaskan dan mencerdaskan. Seperti inilah riset-riset yang harus kita lakukan. Sejumlah studi banding memang telah dilakukan, namun bagaimana aplikasinya ke Indonesia yang patut dipertanyakan. Juga hal yang perlu diingat adalah Indonesia adalah sebuah negara yang memeiliki keragaman budaya dan adat istidadat. Apa yang bagus dan berhasil di satu daerah belum tentu berhasil di daerah lainnya. Karena itu yang perlu juga dikembangkan adalah sebuah konsep pendidikan yang dapat memberdayakan para pendidik di daerah-daerah. Sehingga mereka dapat menyesuaikan pembelajaran yang mereka miliki dengan situasi dan kondisi yang mereka punya.

Dengan situasi keterbatasan yang dihadapi, maka kita hendaknya memiliki sebuah cara berpikir tentang bagaimana kita dapat mencapai target pengajaran dengan situasi yang terbatas.
Lalu selanjutnya adalah ukuran keberhasilan sebuah pendidikan. Apakah ukuran keberhasilan yang kita pakai selama ini? Nilai ujian. Hasil tes ini dan itu. Apakah ini ukuran keberhasilan yang riil dari para peserta didik? Bagi saya ini merupakan sebuah bentuk semu dari indikator keberhasilan siswa. Inti dari keberhasilan adalah sejauh mana sang peserta didik dapat menerapkan apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan nyata pasca sekolah. Jadi hasil nyata dalam kehidupan jauh memiliki signifikasnsi dalam menentukan tingkat keberhasilan sebuah sistem.

Nah, dalam situasi yang terbatas, katakanlah kemiskinan, ukuran keberhasilan bagi mereka adalah bagaimana mereka dapat mengubah nasib mereka dengan pendidikan yang mereka dapat. Sejauh mana pendidikan tersebut telah membebaskan dan mencerdaskan mereka. Bagaimana mereka dapat maju dengan keterbatasan yang mereka punya. Bagaimana mereka dapat mengolah alam di sekitar mereka, bagaimana mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan alam sekitar menjadikannya peluang untuk terus tumbuh dan maju. Inilah inti pendidikan yang hendaknya kita jalankan.

Dengan mengubah paradigma, bukan melihat hasil tes sebagai indikator keberhasilan sebuah sistem pendidikan, maka pendidikan kita akan menjadi pendidikan yang berorientasi pada kegunaan keterampilan dan kecakapan hidup. Hal ini dapat dilakukan pada sekolah yang memliki keterbatasan yang teramat sangat sekalipun. Kecuali tak ada guru yang mengajar dan tak ada anggota masyarakat yang turut serta dalam membantu pengajaran dan segala kegiatan sekolah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: