Gilig Guru

Beranda » Berita » Chikan (Fenomena Tukang Gerayang Perempuan di Kereta)

Chikan (Fenomena Tukang Gerayang Perempuan di Kereta)

Chikan

Pada jam-jam sibuk di Jepang densha (kereta listrik) selalu dalam keadaan penuh. Penumpang sampai harus didorong-dorong masuk oleh petugas kereta di stasiun supaya bisa masuk ke dalam kereta, persis seperti di komik manga yang beredar di Indonesia.

Pada situasi seperti inilah chikan, laki-laki mesum, memanfaatkan kepadatan tersebut dengan melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Mulai dari memegang bagian tertentu dari si korban hingga yang paling bejat sekalipun, dan itu di tengah-tengah publik! Rasanya merinding saya teringat sabda Rosul, “Kiamat tidak akan terjadi sampai orang-orang bersetubuh di jalan-jalan seperti layaknya keledai.

Anehnya, konon karena malu bila diketahui orang lain, si korban biasanya tidak melawan, bahkan tidak juga meminta tolong. Orang-orang di sekitarnya, termakan oleh individualisme, juga tidak akan membantu kendati mereka mengetahuinya. Kondisi ini sering dimanfaatkan lebih jauh oleh chikan untuk memeras korban agar beritanya tidak disebarkan.

Dalam sebuah survey oleh perusahaan-perusahaan Jepang ditemukan fakta bahwa 17% perempuan Jepang pernah mengalami pelecehan seksual oleh chikan, dan setiap tahunnya 4000 chikan ditangkap polisi. Yang mengerikan, dua sekolah swasta disurvey dan menghasilkan angka sebanyak 70% siswa pernah dilecehkan! Ini angka yang mengejutkan. Di sebuah negara modern yang terkenal dengan budaya toleransi yang tinggi ternyata menyimpan masalah besar dalam hal moralitas. Tetapi ini wajar bila memahami bahwa sebagian besar masyarakat negeri sakura ini pada hakikatnya tidak percaya pada Tuhan.

Sebuah solusi ditawarkan dengan membuat gerbong kereta khusus perempuan pada jam-jam sibuk. Terkadang disertai pula dengan seorang petugas di tiap pintunya. Mereka memberitahu penumpang laki-laki yang salah masuk gerbong untuk berpindah gerbong. Posisi gerbong ini dibuat dekat dengan pintu keluar-masuk di stasiun kereta supaya memudahkan akses mereka.

Ini mungkin bisa jadi contoh bagi Indonesia, mengingat Rosul saw sejak dahulu telah memperingatkan tentang ikhtilat, agar laki-laki dan perempuan tidak bercampur-baur dalam satu tempat yang memungkinkan terjadinya kontak fisik. Meski merekomendasikan agar perempuan memiliki pusat kegiatan yang berbasis rumah, Islam tidak melarang perempuan untuk beraktivitas di luar, selama mereka terjamin keamanan dan keselamatannya.

Tentangan Feminisme

https://i0.wp.com/www.wordpress.tokyotimes.org/archives/women_only_trains02.jpg

Gerbong Khusus Perempuan

Aneh bin ajaib, solusi tersebut malah ditentang oleh sebagian kalangan di Jepang sendiri yang merasa harga diri perempuan direndahkan oleh keberadaan gerbong khusus perempuan. Mereka merasa perempuan telah dianggap lemah dan tidak mampu melindungi dirinya. Meski ide kontroversialnya pernah terangkat ke permukaan, namun karena tidak solutif, tidak banyak yang menggubris ide tersebut.

Belajar dari hal tersebut di atas, Indonesia yang masih lemah penegakan hukumnya perlu mengembalikan lagi budaya tolong-menolong terhadap sesama. Karena sesama Muslim itu bersaudara, dan sesama saudara itu saling menjaga harta, keselamatan, dan kehormatannya.

*mohon maaf pemilihan judulnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: