Gilig Guru

Beranda » Artikel » Mengukur Manfaat Ujian (Nasional) di Sekolah

Mengukur Manfaat Ujian (Nasional) di Sekolah

Sebuah Sekolah di Kato-shi Jepang

Sebuah Sekolah di Kato-shi Jepang

Program Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yang dicanangkan pemerintah Jepang memang integral, sehingga efektif bagi pendidikan warganya. Salah satunya adalah dengan meniadakan Ujian Nasional (Unas/UN) di tingkat SD. Siswa yang menyelesaikan pendidikan dasar selama 6 tahun di syougakko (SD) akan secara otomatis diterima di chuugaku (SMP). Tidak ada hambatan bagi mereka untuk melanjutkan pendidikannya guna menuntaskan Wajar.

Bagaimana dengan Indonesia?

Diselenggarakannya Unas di Indonesia makin kontroversial karena lebih dinilai kapitalistik ketimbang bermanfaat. Banyak pihak —terutama guru— berpendapat bahwa proses belajar selama bertahun-tahun tidak bisa dijustifikasi dengan selembar sertifikat. Unas yang hanya menguji beberapa mata pelajaran mengunggulkan subyek tertentu dan menafikkan (mengingkari) subyek lain yang justru lebih substansial bagi sebuah dunia pendidikan.

Pendidikan seharusnya merupakan proses menjadikan anak sebagai manusia seutuhnya, yang terampil dengan keahlian yang menjadi potensi di dalam dirinya. Dari sini guru harus berusaha membangun moral dan mental siswa sambil mendalami apa yang menjadi keunggulan di masing-masing karakter siswa yang unik. Masalah akhlak bersifat universal, jadi semua dan setiap anak harus lulus dalam pendidikan ini. Sekolah tidak boleh membiarkan pelajarnya memiliki kepribadian yang buruk, yang tidak Islami.

https://i0.wp.com/xpresiriau.com/wp-content/uploads/2009/02/siswa-sman-4-pekanbaru-ujian.jpg

Siswa SMAN 4 Pekanbaru sedang mengikuti ujian

Di sisi lain, masalah pelajaran umum adalah subyektif. Tidak semua anak berkembang dalam ranah yang sama. Seseorang bisa saja unggul dalam aspek hitung-menghitung, namun lemah dalam kesenian. Dalam kasus yang pernah saya alami, saat mengajar di SMP, saya memiliki seorang murid yang sama sekali tidak menuliskan apa-apa dalam lembar jawabannya saat ujian bahasa Inggris. Oleh karena itu saya bermaksud untuk memberikannya nilai terendah. Namun dewan guru meminta “kebijakan” saya untuk menambah nilainya supaya dia bisa naik kelas. Ini tentu membuat saya terheran, apakah kelemahan seseorang di bidang keahlian tertentu harus membuatnya tidak naik kelas? Seandainya seorang pelajar tidak lulus dalam satu aspek, yang notabene tidak bersifat prinsip, bukankah dia masih memiliki keunggulan di aspek lain? Di dalam tekanan sistem itulah akhirnya saya bersikap curang dengan mengkatrol nilainya (hanya dia) dengan nilai palsu. Bagaimana saat dia menempuh pelajaran yang sama di tingkat yang lebih tinggi? Saya khawatir kenaikannya justru membuatnya tidak bisa mametik manfaat apapun khususnya dalam pelajaran bahasa Inggris.

Ujian seharusnya merupakan proses evaluasi, melihat potensi; kekuatan dan kelemahan seorang pelajar. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan langkah yang semestinya, menajamkan kekuatannya dan mengurangi atau menutupi kelemahannya. Ujian tidak semata-mata ujian. Drake dan Roe (1986) membahas, “evaluation is not filling out of a sterile checklist, but rather a part of the learning process itself” (Evaluasi bukan sekedar mengisi lembar ujian belaka, melainkan juga bagian dari proses belajar). Jika sebuah ujian tidak menghasilkan tindak lanjut, maka ujian itu tidak ada maknanya. Ulangan demi ulangan diselenggarakan secara rutin adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar anak dan mengajar guru. Bukan sekedar ingin mengetahui nilainya dibandingkan dengan nilai murid lainnya. Oleh karena itu, seseorang mengetahui nilainya rendah kemudian berusaha merubah agar nilainya lebih baik, itu merupakan parameter keberhasilan sebuah evaluasi. Jika sebaliknya, jika seseorang mengetahui nilainya tinggi kemudian berhenti, maka evaluasi tersebut sebaiknya dievaluasi.

Paham maksud saya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: