Gilig Guru

Beranda » Artikel » Ujian Nasional dan Remaja Indonesia

Ujian Nasional dan Remaja Indonesia

Oleh: Iwan Syahril

Tiap orang punya cita-cita

“Tiap orang itu berhak punya cita-cita. Biarkan kami mengejarnya!” (Remaja Indonesia, Jalan Remaja 1208: Sekolah Kehidupanku).

Ungkapan tersebut menjadi salah satu pesan kuat dari 36 video pendek karya remaja Indonesia yang difasilitasi oleh Yayasan Kampung Halaman dalam memperingati hari remaja internasional 12 Agustus yang lalu. Amat disayangkan, dewasa ini banyak siswa SD hingga SMA harus menghabiskan waktu luang mereka di berbagai tempat les dan bimbingan belajar. Hal ini telah menjadi tren dan bahkan sebuah keharusan jika ingin selamat dalam proses belajar di Indonesia, terutama sejak diluncurkannya kebijakan Ujian Nasional (UN). Di satu sisi, hal ini bisa bernilai positif, karena intensitas belajar seyogyanya dapat menjauhkan para remaja dari hal-hal negatif seperti narkoba dan minuman keras. Namun, apakah benar mereka melalui proses belajar berkualitas yang dapat menggali potensi diri serta mendekatkan pada cita-cita mereka?

Ujian Nasional – Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Kebijakan ujian nasional tidaklah asing dalam sistem pendidikan Indonesia, hanya namanya saja yang berganti, dari ujian negara, evaluasi belajar tahap akhir nasional (EBTANAS), ujian akhir nasional (UAN), dan akhirnya ujian nasional (UN). Ujian standarisasi yang diasumsikan sebagai alat objektif ini bertujuan untuk mengukur dan memetakan kualitas pendidikan nasional, serta menyaring siswa untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Yang membedakan UN adalah digunakannya standar minimal nilai ujian sebagai salah satu penentu kelulusan siswa. Jika gagal mencapai nilai minimal di salah satu mata pelajaran yang diujikan, maka siswa tidak lulus sekolah. Ibarat kata pepatah, karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hal ini yang menjadi titik utama kontroversi UN dan penyebab stres semua elemen pendidikan, mulai dari murid, guru, orang tua, dan pihak sekolah. Dan hal inilah yang menjadi pemicu menjamurnya les-les dan bimbingan belajar yang ramai didatangi pelajar Indonesia karena dianggap dapat membantu siswa sukses dalam UN.

Dampak UN terhadap Remaja

Berbagai kalangan telah menyoroti dampak psikologis UN. Dari riset yang saya lakukan pun, terlihat jelas bahwa UN merupakan momok yang telah membuat tingginya tingkat stres remaja Indonesia dan sering menjadi depresi (Syahril, 2007). Tekanan fisik dan mental ini didapati secara merata, bahkan pada siswa-siswa rangking teratas di kelas/sekolahnya. Terdapat sejumlah kasus dimana siswa juara kelas dan bahkan penerima beasiswa universitas luar negeri pun pernah gagal dalam UN.

Untuk mengatasi tekanan dan kepanikan terhadap UN, biasanya para siswa diberi latihan mengerjakan contoh soal ujian sebanyak-banyaknya baik di sekolah maupun di tempat les dan bimbingan belajar. Setidaknya tahun terakhir di SMP dan SMA dihabiskan untuk latihan intensif UN. Semakin hari tampaknya waktu belajar remaja Indonesia banyak dihabiskan untuk mempersiapkan UN karena nilai standar minimal semakin tinggi setiap tahunnya. Bagi siswa dari keluarga kurang mampu, tekanan akan lebih besar lagi, karena beban dana tambahan yang harus dikeluarkan untuk mengikuti persiapan UN baik di sekolah maupun bimbingan belajar.

Selain menjadi momok yang menakutkan, UN juga menjauhkan remaja dari potensi dan cita-cita mereka. Waktu untuk mengasah bakat dan kreatifitas terpaksa dihabiskan untuk latihan mengerjakan soal-soal UN. Potensi diri remaja dianggap tidak sepenting UN. Padahal sejak tahun 1980an, dunia pendidikan sudah mengenal berbagai bentuk kecerdasan. Ahli pendidikan dan psikologi Harvard University, Howard Gardner, mengemukakan teori kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Ada bentuk kecerdasan linguistik, logika-matematika, visual, musik, kinestetik, intrapersonal, interpersonal, naturalist, dan eksistensial. Semua bentuk kecerdasan ini sama pentingnya, dan telah terbukti dapat membawa kesuksesan. Ujian standarisasi seperti UN hanya menitikberatkan kepada bentuk kecerdasan lingusitik dan logika matematika. Artinya para remaja yang luar biasa jenius di bentuk kecerdasan lainnya akan terpinggirkan. Karena itu, pendidikan nasional yang berkiblat ke UN tidak akan pernah membantu remaja Indonesia menemukan potensi diri untuk menggapai cita-cita mereka yang sesungguhnya.

Sebagai contoh, remaja dengan bakat luar biasa di bidang-bidang seperti musik dan seni sering diarahkan sekolah dan orang tua untuk tidak mendalami bakat mereka itu. Bidang tersebut dicap tidak memiliki masa depan yang cerah. Sebuah stigmatisasi yang sangat keliru, karena justru kesuksesan dan kemahsyuran Indonesia di berbagai pentas mancanegara sering datang dari bidang musik dan seni. Akibatnya, remaja pun terjebak dalam skema sekolah hanya untuk memuaskan keinginan orang tua dan sekolah, bukannya menggali apa yang benar-benar mereka inginkan.

Lebih parah lagi, rasa rendah diri menghinggapi ketika para remaja ini lulus sekolah dengan hasil UN pas-pasan. Mereka dicap tidak cerdas, dan masa depan terasa suram. Lapangan kerja pun sulit ditembus karena sekolah tidak sempat membekali mereka dengan keterampilan yang betul-betul dibutuhkan di dunia kerja. Bisa jadi butuh waktu yang cukup lama untuk dapat memulihkan kepercayaan diri untuk mau menggali potensi diri yang sebenarnya sehingga akhirnya sukses dan bahagia.

Terakhir, kita sering mendengar terjadinya praktek-praktek kecurangan dalam pelaksanaan UN yang juga melibatkan oknum guru, sekolah dan unsur pemerintahan. Praktek dan hasil UN seperti ini jelas menimbulkan luka psikologis dan moral. Ditengah-tengah gencarnya upaya penegakan hukum memberantas praktek-praktek KKN di republik ini, sistem pendidikannya, melalui guru, sekolah, dan administratur pendidikan, malah memberi contoh menghalalkan ketidakjujuran! Apa jadinya remaja produk UN yang tidak jujur ini ketika mereka nantinya menjadi pengusaha, pejabat negara, atau anggota DPR/MPR?

Penutup

Jika sebagian bentuk kecerdasan saja yang menjadi prioritas, maka sistem pendidikan kita akan menjadi semakin timpang. Beragam potensi remaja Indonesia tidak dapat terasah maksimal, sehingga menghambat kemajuan kita bersama. Karena itu, kebijakan UN dalam format sekarang perlu direvisi. Hal pertama untuk ditinjau ulang adalah penghapusan persyaratan nilai minimal hasil ujian sebagai syarat kelulusan. Selanjutnya perlu ditemukan formula penilaian akhir terhadap performa siswa yang lebih jujur, adil, dan dapat mengakomodasi semua bentuk kecerdasan. Proses dan hasil belajar semestinya mampu membuat siswa dan remaja mengembangkan potensi diri mereka secara maksimal dan membantu mewujudkan cita-cita mereka yang sesungguhnya. Terkuburnya potensi luar biasa remaja kita akan melumpuhkan masa depan bangsa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: