Gilig Guru

Beranda » Berita » Gambaran Sekolah di Countryside Jepang

Gambaran Sekolah di Countryside Jepang

http://murniramli.files.wordpress.com/2006/12/b955scd.jpg

Siswa Jepang Memperispkan Makan Siang

Sumber: Berguru

Anak belajar dari rutinitas hidupnya. Anak belajar menghargai teman dari apa yang dibiasakan kepadanya. Kedisiplinan siswa2 di jepang tidak diajarkan melalui teori moral tetapi ditanamkan melalui latihan dan praktek sehari2 di rumah, sekolah dan lingkungannya.

Bulan Mei th 2005, saya mendapat kesempatan mengunjungi sekolah dasar (shougakko) dan SMP (chuugakko) di Kamiyahagi, Gifu ken. Salah satu prefektur yang masih sangat alami. Program yang saya ikuti adalah International Exchange, salah satu program yang sudah cukup lama dilaksanakan oleh pihak educational board Ena city, yang membawahi Kamiyahagi area, yang sebenarnya merupakan implementasi dari program yang sedang digalakkan monbukagakusho (Menteri Kebudayaan, Pendidikan, , Sains, dan Teknologi) Jepang dalam rangka menyiapkan anak-anak Jepang menyongsong globalisasi.

Seperti halnya sekolah yang lain di Jepang, Kamiyahagi school pun berfasilitas lengkap, bersih, dan outdoor yang sangat luas. Keadaan ini sangat bertolak belakang dengan jumlah siswa yang minim. Rata-rata kelas berisikan 10-20 anak, dan hanya ada satu kelas per grade-nya. Tidak seperti di Indonesia, ada 1A, 1B, sampai F barangkali. Hal yang membuat saya sangat iri adalah sekolah pun dilengkapi dengan equipment yang canggih, slide projector, in focus, video, handy cam, digital camera, peralatan yang serba canggih, yang sepertinya sulit diadakan di Jakarta sekalipun. Fasilitas ini tidak hanya di beberapa sekolah, tapi merupaka hal yang umum di sekolah2 di Jepang.

Kegiatan kelas yang saya amati, diskusi dengan kepala sekolah, para guru memberikan kesan mendalam tentang nilai humanisme di sekolah. Sambutan yang ramah dari para staf, pun anak2 yang berwajah polos dengan penuh rasa keingintahuan thd foreigner mengintip, tersenyum dari balik jendela2 kelas, mengingatkan saya pada masa kanak dulu.

Kelas 1 SD yang saya kunjungi pertama kali mengingatkan saya pada TK-nya Indonesia. Suasana kelas sangat fun, bernyanyi, gerak badan, sambil berkenalan dengan angka dan huruf Jepang yang rumit. Ketika saya mempresentasikan tentang flora fauna Indonesia, seorang anak bertanya:’jenis mushi (insect) apa yang ada di Indonesia ?” Kelabakan saya menjawabnya karena keterbatasan bhs jepang, tp anak yang lain membantu saya dengan membawakan ensiklopedi besar berisi daftar mushi yang ada di Jepang.. Subhanallah, mereka mengenal satu per satu. Ensiklopedi adalah hal yang biasa bagi para siswa SD, textbook yang menarik ini tersedia di setiap kelas, bukan di perpustakaan.

Pembelajaran tentang alam, serangga misalnya adalah salah satu hal yang menarik di Jepang , karena anak tidak dikenalkan dengan nama serangga lalu diminta untuk menghafalnya, tetapi anak diajak untuk jalan2 ke hutan, ke sungai, ke halaman sekolah, menangkap serangga dan memeliharanya. Yang selanjutnya mempelajari hidup serangga. Bahkan ketika saya mengikuti program home stay di Mie prefektur, saya pun mendapati anak host family memelihara mushi di dalam box khusus yang banyak dijual di toko. Pelajaran lain yang bisa dipetik dari metode ini, adalah melatih sense of responsibility anak, karena setiap hari binatang2 itu harus diberi makan, dicek kelembaban kandangnya, dll.

Kelas lain yang saya kunjungi adalah kelas 4. Siswa kelas 4 di Jepang sudah mulai mengenal kanji, karakter terumit dalam bahasa Jepang yang merupakan adopsi dari karakter bahasa China. Seperti halnya anak kelas 1, siswa di sini pun berani bertanya, dan suasana kelas menjadi ramai. Satu per satu memperkenalkan nama, hobi dan menunjukkan kebolehannya, mis: salto, bermain yoyo (mainan tradisional jepang). Terlihat sekali anak tidak hanya dilatih kecerdasannya tetapi pun perkembangan fisik. Ini pun saya perhatikan ketika saya bermain bersama mereka di lapangan yang sangat luas dan asri karena dikelilingi hijaunya pegunungan. Semua anak terlihat sehat dan lincah bergerak, berlari kesana kemari.

Saya juga diberi kesempatan untuk menikmati makan siang bersama students kelas 4. Di Jepang lunch disiapkan oleh sekolah dan tidak ada kantin atau warung di sekitar sekolah. Jadi tidak mungkin jajan di luar. Menu hariannya dirundingkan antara siswa, guru dan orang tua. Sekelompok siswa mengenakan pakaian ala koki dan bertugas melayani siswa-siswa yang lain. Sensei (guru) pun tetap berada di kelas dan ikut menikmati makan siang bersama sambil memeriksa tugas siswa, sesekali bertanya dan menjawab pertanyaan siswa. Sungguh suasana yang begitu akrab. Selama makan, terdengar siaran radio dari siswa kelas 6 menginfokan menu hari ini, gizinya, kecukupannya, mengapa kita harus banyak makan sayur, daging, buah, susu, dll. Apakah harus dimakan dalam keadaan hangat, dingin….hal-hal kecil yang tidak terlintas dalam benak saya. Saya pun dimintai tanggapan oleh seorang siswa kelas 6 tentang menu hari ini, sebelum siaran radio itu berlangsung.

Selesai makan, pemandangan baru lagi yang saya lihat. Anak2 bergegas keluar kelas, mencuci tangan, mengambil sikat gigi dan gelas mungilnya, di tempat semacam wastafel besar yang disiapkan di depan kelas. Kemudian mereka masuk ke kelas….acara gosok gigi bersama dimulai sambil dikomandoi oleh seorang siswa melalui siaran radio, dan didiringi musik klasik yang ceria. hidari (kiri)….migi (kanan)…..ue (atas)….shita (bawah)……sungguh program yang multifungsi. Kegiatan gosok gigi di sekolah ternyata tidak hanya di SD, SMP or SMA, tapi mahasiswa dan para dosen pun rutin mengerjakannya di kampus. Tentu saja pegawai di perkantoran.

Terakhir sebelum pulang, shoji suru……acara bersih sekolah. Anak kelas 4, 5, dan 6 membimbing anak kels di bawahnya membersihkan toilet, ruang aula, tangga, mengepel ruang kelas. Sekolah di Jepang tidak memperkerjakan pesuruh untuk membersihkan sekolah, tp dibebankan kepada anak dan guru. Sampah kertas, plastik, ludah dll tidak akan kita jumpai di sini. Bersih, bersih…lantai pun licin. Siswa menggunakan sepatu kets khusus di dalam bangunan sekolah. Ketika mereka tiba di sekolah, sepatu harus diganti dan diletakkan di dalam loker yang tersedia di pintu masuk.

Kunjungan berikutnya, adalah SMP. Sama dengan SD, sekolah ini juga sangat luas dengan murid yang juga minim. Yang memukau dari kunjungan ini adalah para siswa begitu faham tentang kampung halamannya di mana sekolah mereka berada. Mereka tahu ikan jenis apa yanga ada di sungainya, pohon tertua yang ada di desanya, sakura yang tertua….saya terinspirasi untuk menanamkan juga kepada para murid saya kecintaan dan keinginan untuk melestarikan apa yang ada di kota, desa, kampung tempat mereka dibesarkan dan menikmati masa kecilnya.

Hal kedua yang membuat saya kagum adalah ketika para siswa kelas 2 menyanyikan lagu hymne sekolah, suara mereka merdu sekali. Ini pasti karena pelajaran musik yang serius yang mereka terima, siswa tidak sekedar mengeluarkan suara tapi betul-betul menikmati syair, dan mengenal tangga nada dengan baik. Setiap sekolah di Jepang mempunyai hymne yang dinyanyikan oleh para siswa dengan penuh kebanggaan.

Inilah pemandangan sekolah di kampung di Jepang, yang walaupun di kampung, tetapi fasilitasnya menyamai sekolah elit di Jakarta.

Saya tidak berharap banyak Diknas akan mensuply SD/SMP di Indonesia dengan fasilitas serba mewah tersebut, tetapi saya yakin kita akan menuju ke sana….suatu saat. Sebagai guru, saya belajar banyak tentang sistem, yang saya yakin dapat diterapkan walaupun fasilitas seadanya. Sekolah saya pun terletak di countryside, kaya sekali dengan sumber daya alamnya, hanya saja kami belum memanfaatkannya secara maksimal.

Iklan

1 Komentar

  1. luar biasa sekali,mudah2n negara indonesia bisa seperti itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 115,548 orang

See me

%d blogger menyukai ini: