Gilig Guru

Beranda » Artikel » "Menjinakkan" Siswa dengan PAIKEMS

"Menjinakkan" Siswa dengan PAIKEMS

Oleh: Muhamad Hasim*

Judul Aslinya adalah “Menjinakkan” Siswa, dimuat di Lampung Post

Diknas

Diknas

DALAM sebuah diklat guru, seorang peserta mengeluh betapa sulit dan tidak mungkinnya menerapkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di sekolahnya, mengingat kesiapan murid mereka yang masih jauh dari cukup. “Terus terang, di sekolah kami KBK belum memungkinkan untuk diterapkan karena kami baru sampai pada tahap menjinakkan murid,” kata rekan guru tersebut dengan gamblang. Tutor yang mendengar keluhan ini menanggapi, “Jangan-jangan gurunya juga perlu dijinakkan.”

Entah guru atau siswa yang perlu dijinakkan, yang jelas, apa yang dikatakan rekan guru dari Lampung Timur tersebut, meski terlalu ekstrem, adalah benar dan berlaku di beberapa sekolah. Betapa kesiapan siswa adalah sebuah faktor dalam keberhasilan pendidikan.

Di beberapa sekolah, khususnya di pelosok, kegiatan “menjinakkan” siswa adalah porsi terbesar dari pekerjaan guru; guru terpaksa mengalokasikan waktu untuk marah-marah dalam RPP-nya, karena kalau tidak, guru bisa kebablasan menggunakan waktu sepenuhnya untuk marah-marah.

Hal ini berlangsung terus menerus sehingga alokasi waktu yang ada dalam kurikulum tidak akan pernah tercapai, pun tujuan kurikulum itu sendiri. Sayang, hal ini seperti tidak pernah terpikirkan oleh mereka yang merancang kurikulum; kurikulum saat ini dirancang berdasarkan asumsi, semua siswa siap belajar seperti pada sekolah-sekolah unggulan dengan standar nasional; berlaku sama untuk seluruh Indonesia. Kenyataannya, tidak semua siswa siap belajar.

Kurikulum saat ini tidak pernah berpikir, nun jauh di sana, ada siswa yang bangun tidur pukul 07.30, sedangkan dia harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan kendaraan umum. Bahwa ada pula siswa yang hanya berangkat sekolah seminggu sekali, ada siswa yang menulis surat izin tidak masuk sekolah dari meja biliar, ada siswa yang tidak bisa bertahan di dalam kelas sampai pukul 12.00, ada siswa tidak punya apa-apa selain sebuah buku tulis kumal yang diselipkan di saku celana, ada siswa yang nyambi jadi maling, ada siswa yang selalu mencari-cari alasan untuk meninggalkan pelajaran, serta ada siswa yang bersorak gembira jika gurunya sakit, dan lain-lain.

Mungkin perancang kurikulum berpendapat bahwa adalah tugas pendidik (guru) untuk membuat siswa siap belajar. Tapi jangan lupa, ada pula siswa yang tidak mempan dinasehati, tidak jera dimarahi, dan tidak mengerti diajari. Siswa seperti ini selamanya tidak akan pernah siap belajar. Siswa seperti ini, di beberapa sekolah, jumlahnya tidak sedikit.

***

PAIKEM adalah sebuah model pembelajaran; sebuah pendekatan dalam KBM, sebuah filosofi yang diharapkan dapat menunjang pencapaian kompetensi individual sesuai dengan tujuan kurikulum saat ini. PAIKEM adalah singkatan dari pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Konon, untuk mencapai kompetensi individual menurut kurikulum, KBM haruslah berpendekatan seperti itu.

Adapun ciri-ciri KBM yang menunjang pencapaian kompetensi individual adalah: a) Pembalikan makna belajar; Kegiatan mengajar bukanlah transfer informasi dari guru ke siswa, melainkan sebuah proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Dengan demikian fungsi guru dalam KBM adalah membantu siswa dalam membangun pemahaman, misalnya dengan bertanya secara kritis, meminta kejelasan, atau menyajikan situasi yang mendorong siswa untuk memperbaiki pemahamannya.

b) Berpusat pada siswa; Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai dengan karakteristik siswa.

c) Belajar dengan mengalami; KBM perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dengan dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip ilmu yang dipelajari.

d) Mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan emosional; Membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosial siswa yang bersangkutan. Interaksi dapat dilakukan melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan baik sesama siswa melalui kelompok maupun dengan guru.

e) Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan; KBM perlu mempertimbangkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan yang ada pada diri setiap siswa agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini.

f) Belajar sepanjang hayat; KBM perlu membekali siswa dengan kemampuan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.

g) Perpaduan kemandirian dan kerja sama; siswa perlu berkompetisi, bekerja sama, dan mengembangkan solidaritasnya. KBM perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerja sama, dan solidaritas. KBM perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.

Ciri-ciri KBM yang seperti di atas adalah sangat ideal untuk mencapai kompetensi individual. Tetapi jika dikaitkan dengan kondisi kesiapan siswa, KBM seperti ini adalah seperti sebuah utopia dalam dunia politik. KBM seperti ini tidak mencoba berdamai dengan siswa yang tidak siap belajar.

KBM seperti ini terlalu banyak berasumsi, semua siswa adalah subjek belajar yang ideal. KBM seperti ini sangat menekankan kata aktif, sedangkan kenyataan, banyak siswa yang tidak memahami arti kata aktif, mengingat budaya belajar yang sudah tertanam di benak mereka sejak dini tidak mengenal kata aktif.

Mungkin PAIKEM diciptakan sebagai upaya berdamai dengan siswa yang tidak siap belajar, mengingat ada kata menyenangkan di dalamnya. Siswa yang tidak siap belajar sangat menyukai kata ini. Tetapi menyenangkan adalah relatif.

Menyenangkan bagi seseorang belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Menyenangkan bagi siswa yang siap belajar belum tentu menyenangkan bagi siswa yang tidak siap belajar. Taruhlah guru bisa merancang KBM yang menyenangkan baik bagi siswa yang siap belajar maupun siswa yang tidak siap belajar, sehingga siswa yang tidak siap belajar tertarik masuk kelas. Tetapi, selain hal itu sangat sulit dilakukan, rancangan KBM seperti ini pasti akan mengabaikan unsur-unsur yang lain, seperti aktif, inovatif, kreatif, dan efektif. Kalaupun unsur-unsur itu tetap ada, paling-paling menurut penafsiran siswa itu sendiri.

Jika demikian, KBM berubah menjadi sarana untuk bersenang-senang, sedangkan kompetensi individual tidak akan tercapai. Lalu bagaimana pendekatan untuk siswa yang tidak siap belajar? Di samping PAIKEM, mungkin perlu ada PAIKEMS: pengajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan “menjinakkan” siswa.

*Penulis adalah guru SMKN Pesisir Tengah, Krui, Lampung Barat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: