Gilig Guru

Beranda » Berita » Jember Fashion Carnival (JFC) perlu diberi arahan moral

Jember Fashion Carnival (JFC) perlu diberi arahan moral

Kapan Karnaval Fesyen Bertema Santri?

Jember (beritajatim.com) – Kontroversi itu belum berakhir. Usia delapan tahun tak memupus perdebatan mengenai Jember Fashion Carnaval (JFC). JFC dituntut mengakomodasi budaya lokal Jember, dan berakulturasi dengan semangat relijiusitas.

Minggu (2/8/2009), JFC 8 masih mendapat perhatian yang melimpah. Tokoh-tokoh luar Jember yang hadir pun cukup banyak. Namun, menurut Mirfano, “Banyak yang memuji JFC, tetapi saya malah yang bingung,” terangnya, Senin (03/08/2009).

Mirfano menilai, fesyen dalam JFC masih lebih menonjolkan unsur seni dan kreativitas yang dipengaruhi warna global. Ia berharap, ada sedikit sentuhan budata Jember, sehingga penonton yang awam akan seni dan fesyen bisa lebih akrab.

Tema JFC 2009 adalah World Unity, yang menampilkan 10 defile fesyen: JFC Marching Band, Container, Animal Plant, Ranah Minang, Upper Ground, Techno Eth, Rhythm, Hard-Soft, Off Life, closing defile. Defile melibatkan sekitar 500-600 orang.”Kita ingin menyampaikan pesan menyatukan dunia, damaikan dunia. Krisis global, krisis pangan, krisis ekonomi, krisis budaya, dan krisis sosial seharusnya menyatukan manusia,” kata Presiden JFC, Dynand Fariz.

Gilig Pradhana, warga Jember yang tengah kuliah di Hyogo University of Teachers Education Jepang, memuji kreativitas JFC sangat profesional, berkelas, dan menarik. Namun, ia mengingatkan, JFC harus dinilai dari semua sisi, baik budaya maupun agama. “Jember membutuhkan ikon wisata tanpa melepaskan identitas santrinya,” katanya.

Dalam perspektif ini, Gilig menilai, JFC semestinya tampil kreatif dengan mengakulturasi fesyen tanpa merusak identitas santri yang sudah mapan. JFC hendaknya tidak meniru perhelatan Omatsuri di Kobe, Jepang. Di sana bukannya acara tradisional yang mewarnai acara tahunan tersebut, melainkan acara tari samba setengah bugil. “Jadi sama sekali tidak kelihatan Jepang-nya,” katanya.

JFC hendaknya meniru pesta perayaan tahunan Omatsuri di Nara, sebuah kota tertua di Jepang. Menurut Gilig, berbagai karnaval, hiburan, dan permainan tradisional, warga Jepang di sana masih memainkan kidung-kidung pujian relijius. Jadi meski mereka bergaya modern, identitas keagamaan tetap mewarnai. Budaya yang baru mestinya diakomodasi, tetapi budaya yang lama dihormati,” katanya.

Gilig belum memikirkan strategi mengakulturasikan JFC yang merupakan anak kandung budaya pop dengan budaya lokal relijius. Namun, ia berharap kepala daerah bisa menjadi mediator. “Saya berharap ‘religiusitas yang berseni’ bisa jadi tema JFC ke depan,” katanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: