Gilig Guru

Beranda » Artikel » Kepala Sekolah dan Sekolahnya

Kepala Sekolah dan Sekolahnya

Judul artikel ini barangkali agak aneh, tapi saya baru saja mengikuti kuliah `kyouikukeieigakukenkyuu` yg artinya Studi tentang administrasi sekolah, dan terinspirasi dengan pengantar kuliah Prof. Nambu tentang sebuah sekolah SD di Fushimigaoka, Aichi, prefecture Jepang.

Sekolah itu dikepalai oleh seorang kepala sekolah wanita, ini tergolong jarang di Jepang (hanya 8.5% kepsek wanita pada tahun 2003). Sekarang mungkin agak naik persentasinya, tetapi dalam hal emansipasi, Indonesia barangkali lebih maju dari Jepang. Sang Kepala sekolah seorang yang lincah, punya banyak keinginan dan ide2 cemerlang untuk memperbaiki sekolahnya yang tergolong baru. Tapi sangat disayangkan beliau lupa bahwa sekolah adalah organisasi yang terdiri dari banyak orang, yaitu guru dan murid. Pada akhirnya beliau merasa banyak ide tetapi tidak satupun terlaksana atau mendapat dukungan dengan baik. Para guru pun tidak sanggup mengkomunikasikan ini, karena seperti halnya di Indonesia, ada gap yang dimaklumi oleh kedua pihak sebagai ruang pemisah authority kedua belah pihak. Fenomena ini lebih kuat terlihat di Jepang.

Sebagai solusi, diundanglah konsultan 13 orang yang merupakan para researcher dari universitas2 di Aichi, salah satunya Prof. Nambu. Alhasil komunikasi antara kepala sekolah dan guru dibangun dengan baik, pun dengan murid dan orang tuanya. Tidak hanya itu demi mencapai tujuan terjalinnya relasi yg baik, ruang kepala sekolah terbuka bagi siapa saja. Setiap hari guru datang menyampaikan masalah si A, si B, walaupun guru2 di Jepang bekerja sangat strict, dari jam 7 pagi hingga terkadang 9 malam, tapi semuanya mengatakan senang dengan kondisi yang dibangun kepala sekolah. Murid pun tanpa sungkan mengintip dari jendela, atau masuk ruangan kepsek, bersenda gurau dengannya. Dan yang lebih mengasyikkan lagi obrolan dengan orang tua pun bisa berlangsung di depan jendela, ketika okaasan (ibu) menjemput si anak. Tahun 2003 SD menjadi percontohan bagi pengembangan sekolah2 di Jepang.

Tapi kondisi ini tidak berlangsung lama, tahun 2004 sang kepala sekolah dipindah ke sekolah lain. Dan keadaan berbalik, kepala sekolah yang baru tidak mampu meneruskan sistem yang sudah dibangun kepala sekolah yang lama, pun para guru tidak berdaya melanjutkan sistem yang selama ini mereka jalani. Akhirnya sekolah memburuk, ditandai dengan banyaknya siswa pindah ke sekolah lain.

Hal menarik di sini adalah benar yang menjadi pelopor suatu reformasi adalah satu atau dua orang, tetapi jika terjadi pengkultusan dan ketergantungan yang berlebih, maka reformasi tidak bisa langgeng. Hari ini saya pun belajar bahwa anggota sebuah organisasi, dalam hal ini sekolah, yaitu para guru pun harus belajar tentang bagaimana mendeteksi dan mengoreksi error yang ada, bekerja mandiri dan cepat tanggap dengan pergantian sistem atau management sekolah. Guru tidak hanya belajar `bagaimana harus mengajar yang baik`, karena masalah tidak hanya muncul di kelas, tetapi masalah muncul di lingkungan sekolah, di kamar mandi, di tempat bermain, di ruang makan, di koridor sekolah. Masalah tidak hanya muncul dari murid, tetapi masalah juga muncul dari sesama guru.

Foto di atas, suasana kelas setelah usai pelajaran. [Klik untuk mengikuti sumber]


Tapi teori di atas bukan hal yang gampang untuk diterapkan. Guru tidak saja membutuhkan training khusus, tetapi pun harus ditempa pengalaman. Training dalam hal ini buka
n berupa kuliah, tetapi studi banding, studi kasus. Ini barangkali yang sangat lemah baik di Jepang maupun di Indonesia, sedikit sekali budget sekolah untuk memandaikan guru.

Satu lagi hal yang menarik dalam kasus di atas, yaitu transfer atau mutasi kepala sekolah. Saya pikir ada ketidaktransparanan kerja antara educational board yang berfungsi mengangkat/memberhentikan kepala sekolah, dengan sekolah2 yang berada di bawah pengawasannya. Seorang kepala sekolah dari sebuah SMA ternama di Nagano prefecture, pernah mengatakan : `Educational Board harus menjadikan kami penting,berharga`, kalimat itu dia ucapkan karena sebentar lagi dia harus mengalami mutasi, sementara reformasi di sekolahnya belum berhasil. Tampaknya regulasi pergiliran kepala sekolah harus dipikirkan lebih jauh kapan sebaiknya seorang kepala sekolah layak dimutasi? Ini hanya bisa diketahui jika para pengawas pendidikan di Educational Board tidak hanya duduk-duduk membahas policy Menteri Pendidikan, tetapi harus lebih sering datang ke sekolah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,689 orang

See me

%d blogger menyukai ini: