Gilig Guru

Beranda » Artikel » Menimbang perlunya Seragam Sekolah

Menimbang perlunya Seragam Sekolah

Apa pentingnya seragam wisuda bagi siswa TK?

Seragam adalah hantu bagi wali murid baru di awal tahun ajaran. Pengeluarannya yang bisa mencapai 1/4 dari total anggaran pendidikan anak. Tulisan berikut ini berusaha menimbang perlunya seragam sekolah bagi siswa TK hingga SMA. Mari kita simak artikel di bawah ini:

Artikel: Penghapusan Seragam Sekolah

Mari kita kritisi. Tanggapan berikut ini adalah terhadap artikel tersebut, dengan mempertimbangkan faktor siswa secara luas, mulai TK hingga Mahasiswa. Poin dibuat berurutan sesuai dengan nomor urut pada artikel di atas.

Tanggapan Saya

Pertama, Seragam yang bermacam-macam jenisnya memberatkan bagi keluarga miskin. Di TK anak saya, misalnya, seragam sekolahnya saja mencapai 300.000 rupiah (tahun 2008). Sementara gaji bulanan ayahnya yang guru adalah 500.000 rupiah. Belum ditambah dengan biaya yang lain yang di total mencapai 1 juta, itu pun setelah didiskon. Saya sampai bersungut-sungut…

Kedua, Seringkali siswa disibukkan dengan masalah seragam. Seragam kotor, masih basah, tereselip entah kemana, membuat siswa tidak dapat berangkat sekolah. Kalau dipaksa ke sekolah dengan seragam berbeda, dia akan merasa minder sehingga mempengaruhi kualitas belajarnya. Saat mengetahui seragam yang dipakainya keliru, giliran anak saya bersungut-sungut…

Ketiga dan keempat, kerapian dan keindahan tidak cuma bisa ditampilkan dengan seragam. Dengan pakaian bebas pun seorang siswa bisa tampil rapi dan elegan. Secara massal, memang dengan berseragam lebih indah dipandang. Misalnya saat baris-berbaris pada waktu upacara. Tetapi upacara hanya sekali dalam seminggu, dan itupun hanya beberapa jam. Lagipula, apa anda tidak pernah mendapati kalau seragam sekolah tertentu desainnya kuno?

Kelima, kebanggaan orang tua ini terhadap anaknya yang berangkat sekolah atau pada seragamnya? Perlu dilakukan penelitian untuk membuktikan klaim ini.

Keenam, secara fisik boleh jadi begitu, meski sebenarnya lebih tepat disebut keseragaman. Sedangkan persatuan dan kesatuan itu adalah hal yang intrinsik, sehingga sekali lagi perlu dibuktikan bagaimana perasaan siswa saat diberikan pilihan antara berseragam sekolah atau berpakaian bebas (demi obyektivitas, penelitian sebaiknya juga meliputi mahasiswa).Anda pernah menonton TV dong, bagaimana senioritas terkadang membuat mereka merasa berhak menganiaya para juniornya.

Ketujuh, saya tidak melihat pentingnya membedakan jenjang pendidikan dari TK hingga SMA. Kalau identitas itu diperlukan, mungkin untuk mengetahui identitas sekolahnya saja.

Kedelapan, saya setuju dengan pemantauan ini. Dalam kasus masuknya orang asing ke lingkungan sekolah ini juga beralasan. Hanya saja perlu dibandingkan dengan kampus, dimana orang umum bebas keluar masuk lingkungan sekolah sementara keamanan bisa tetap dijaga.

Mahasiwa bisa tampil rapi dan disiplin meski tanpa seragam

Kesembilan, logikanya agak aneh. Bagaimana dengan mahasiswa, apakah dengan tanpa berseragam mereka akan merasa liar? Perlu dilakukan penelitian untuk mengukur pengaruh seragam terhadap penurunan pelanggaran susila.

Kesepuluh, saya tidak melihat signifikansi dari poin tersebut.

Keuntungan Bila Tanpa Seragam

Pertama, hemat, sehingga terjangkau oleh rakyat miskin

Kedua, tidak membebani psikologi siswa pada hal yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan. Mereka perlu fokus kepada pelajaran, tidak perlu dialihkan kepada hal lain yang tidak penting.

Sekolah di Jepang

Ketiga, keterbukaan. Siswa dapat tampil apa adanya, sesuai dengan karakter dan kesukaan mereka. Guru dapat melihat bagaimana masing-masing gaya siswa yang sebenarnya sehingga dapat memberikan penilaian tentang hal itu. Misalnya bila siswa suka mengenakan baju yang terlalu mencolok, guru bisa mendekati dan menyarankan sesuatu untuk kebaikan siswa.

Keempat, keindahan. Siswa dapat tampil serapi atau semenarik mungkin (dalam batas kesopanan). Ini adalah hal alamiah yang dimiliki oleh seorang anak muda.

Kelima, memunculkan toleransi. Siswa dapat tampil sesuai dengan kebiasaan/ budaya keluarganya, sehingga semua siswa akan dapat melihat kenyataan bahwa masing-masing itu berbeda, dan mereka akan berlatih untuk menghargai perbedaan. Bila ada siswa yang kurang mampu, maka tentu akan dapat dikenali, disini siswa yang lain dapat segera memberikan respon positif misalnya berupa bantuan.

Keenam, menciptakan obyektivitas. Ketika berbaur dengan banyak siswa yang lain, seorang tidak akan dapat dibedakan mana yang senior dan junior. Maka yang dihargai bukan lagi penampilannya, melainkan kualitas pribadinya.

Kesimpulan

Menimbang baik dan buruknya pemberlakuan seragam di sekolah, maka saya berpendapat:

  1. Jika sekolah mengadakan seragam, hendaknya memperhatikan kondisi ekonomi siswanya. Misalnya dengan membantu siswa yang kurang mampu.
  2. Seragam atau tidak, ukuran kesopanan dan kerapian hendaknya diukur dari standar Islam. Bila tidak akan terjadi perbedaan yang mencolok dan tidak perlu. Misalnya, betapa kapitalistiknya aturan “dilarang memakai sandal di kampus” lantaran dianggap tidak sopan (?) sementara yang berbaju ketat dan “kekong” (kethok bokong -maaf) dibiarkan berlalu lalang.

Jika ditanya, apakah dalam sekolah saya kelak akan menerapkan pemberlakuan seragam? saya akan jawab “hanya satu jenis seragam saja” untuk keperluan seremonial, karnaval, atau mengirim perwakilan sekolah, sementara untuk hari-hari kebanyakan siswa dibiarkan memilih baju kesukaannya untuk berangkat ke sekolah.

Nah, sekarang giliran anda mengkritisi…


2 Komentar

  1. ahmed ibn ismail mengatakan:

    numpang ……
    hem…cuma kalo siswa dikasi pakaian seragam aja masih sempat2nya dengan mode yang kurang elegant, bagaimana kalo tidak seragam. jangan2 pemandangannya kayak di mal2, ha ha (maaf),
    saya setuju trus cara yang harus difikirkan, bagaimana batasan pakaian yang harus dipakai, contoh aja, dalam kegiatan pondok romadhan siswa disuruh untuk berpakaian tidak seragam eeee…. wauw… yang perempuan pake jilbab-celana pencil-kaos ketat-sepatu sport,
    apakah konsep ini hanya diterapkan pada sekolah2 yang favorit aj? bukankah mayoritas sekolah2 di indonesia memprihatinkan, kalo tanpa seragam- sedangkan harga seragam lebih murah dibanding harga pakaian biasa bukankah lebih memprihatinkan bagi ortu murid. kemudian siswa yang tidak mampu beli baju bagus n stok pakaian minim bukankah secara psikologis mengganggu siswa… bisa2 ortunya bingung beliin baju, padahal ortunya biasanya mampu beliin baju anakknya menjelang hari raya.
    oke saya setuju,munkin penerapannya harus disesuaikan dengan keadaan sosiologis sekolah tsb.
    terima kasih…..

  2. gilig mengatakan:

    1. Permasalahan etika berpakaian adalah berkaitan dengan cara pandang siswa terhadap sopan-santun, dalam hal ini pendidikan agama perlu mengambil peran yang berporsi besar. Biasanya di sekolah saat hari raya ditetapkan aturan berpakaian “bebas tapi sopan”. Nah, kebetulan saya ada di pondok yang anak-anak sudah mengerti batas-batas kesopanan.

    2. Konsep ini bisa diterapkan dimana saja, bahkan di sekolah miskin. Pandangan bahwa anak akan merasa minder perlu diteliti lagi, sebab saat pemberlakuan seragam bebas (misal: hari raya) anak-anak tidak terdapat keluhan, malah mereka lebih gembira.

    3. Perlu digaris bawahi bahwa saya memandang seragam sekolah itu BISA diadakan selama tidak memberatkan siswa. Yang untuk sekolah saya, cukup satu jenis saja.

    Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,620 orang

See me

%d blogger menyukai ini: