Gilig Guru

Beranda » Jepang » Kato-city » Melatih Berpikir Ala 小学 

Melatih Berpikir Ala 小学 

Beginilah Sekolah Jepang
Bersama teman dari Brunei, saya mengunjungi sebuah SD di daerah Kato-shi, Jepang. Sebuah kota kecil 50 km dari Kobe, yang kalau ditanyakan ke orang Jepang sekalipun mereka tidak banyak yang tahu.

Sekolah itu terkesan kecil dan sepi. Beberapa anak yang mungkin pulang lebih awal terlihat bermain diluar, memanggul tas kotak yang khas SD di Jepang, mengenakan boots karena hari itu gerimis mulai pagi. Saat masuk ke dalam, bukan main, semua kesan itu hilang. Lorong sekolah penuh dengan murid-murid yang mengepel lantai, menyapu, menata lemari, mengelap jendela, mereka sibuk sekali. Beberapa mahasiswa yang magang membantu dan memberi instruksi pada mereka. Rupanya sebagian waktu istirahat tiap hari adalah untuk piket. (Gambar disamping adalah suasana seusai piket)

Jangan tanya caranya mereka menyapu! Baiklah, kalau memaksa, mereka tidak-membiarkan-debu meski dibalik lemari! Oke, mungkin saya berlebihan, tapi kalau melihat sendiri, pasti kita akan malu.

Bel Masuk
Suasana kelas saat pelajaran dimulai sangat ceria, dalam ruangan yang sangat luas Saya bisa melihat ke luar dari jendela tingkat dua yang besar di seluruh dinding, sehingga lapangan bermain sekolah bisa dinikmati dari sini. Meja guru yang berada di belakang kelas seolah membuat guru akan betah berada di sana daripada di ruang guru. Lebih jauh ke belakang, bermacam-macam prakarya siswa, sehingga saya juga mengira kelas itu sekaligus laboratorium IPA mereka.

Ueda-sensei memulai pelajaran Matematika hari itu dengan sebuah pertanyaan 6 x ロ = 24 (tepatnya saya tidak begitu paham karena -tentusaja- disajikan dalam 日本語 bahasa Jepang medok). Kemudian menempelkan tiga jawaban yang sudah disiapkannya dari rumah.

Pilihan Jawaban

  • Soal A: 4 kantong, masing-masing di dalamnya dimasukkan 6 permen. Berapa jumlah semua permennya?
  • Soal B: Tiap anak membawa 6 permen. Ketika semuanya dikumpulkan, permennya berjumlah 24. Berapa anak yang berkumpul?
  • Soal C: 6 anak membawa permen, yang waktu mereka menghitung jumlah permennya, semuanya 24, berapa permen masing-masing anak itu?

Sensei menyuruh mereka membaca soal nyaring lalu mencatat. Setelah masing-masing siswa menyalin ke bukunya, sensei menanyakan pilihan dari A-B-C yang paling mewakili soal tadi. Kelas segera terpecah menjadi 3 pendapat, kira-kira 1/3 meyakini A, 1/3 memilih B, dan sisanya C. Ini yang mencengangkan… ketika sensei bertanya kenapa, siswa berebut mengacungkan tangan. Seorang anak laki-laki ditunjuk, ia berdiri dan ber-argumentasi!!! (Oh ya, apa saya lupa menyebut kalau mereka siswa kelas 3 SD?)

Tak mau kalah dengan kelompok A, anak laki-laki lain dari pemilih B menyusul berdiri dan ikut mengemukakan bagaimana jawabannya lebih mendekati kebenaran. Seorang anak perempuan kelihatannya tidak serius dengan pelajaran, ia memperhatikan kami -para peneliti- yang berdiri tenang, mencatat, serius di belakang kelas. Kehadiran para peneliti ini agak mencolok, karena jumlahnya saya hitung 1, 2, 3, ..10, 20, …25! Dua puluh lima orang peneliti, dari mahasiswa, peserta training, sampai professor ikut nimbrung di kelas yang diikuti 30 siswa SD itu.

Ee… Anak perempuan itu berdiri, maju ke depan kelas, menerangkan jawabannya, membuat coretan-coretan di papan tulis menunjukkan poin argumentasinya. Saya ternganga. Anak lain berkacamata melawan argumentasi itu dengan menceritakan soal sambil menggambar 6 bulatan besar masing-masing diisi 4 bulatan kecil menunjukkan 6 anak dengan 4 permen. Apresiasi kelas yang cukup positif saya yakin sudah melejitkan kepercayaan diri pada penjawab-penjawab itu. Masih ternganga… anak SD-kah mereka? tanya saya retoris, tak dapat dipercaya!

Ketiga jawaban tersebut adalah benar. Sensei sedang mengeksplorasi pendekatan yang dipakai oleh siswa. Seolah terbangun dari tidur, saya membandingkan bahwa metode hafalan yang selama ini saya ajarkan sebenarnya sudah kuno:

Pendidikan kuno hanya mementingkan HASIL, Pendidikan Modern juga mementingkan PROSES.

Hikmah buat Saya
Mungkin itu sebabnya di Indonesia kemampuan untuk menyampaikan pendapat sangat terbatas, dan toleransi menerima perbedaan pendapat juga tumpul. Keesokan harinya, saya memberi PR bagi murid bahasa Inggris saya, yang ditanyakan oleh orang tuanya, “Kenapa jawaban dalam PR ini benar semua?” Saya menjawab sambil berfilosofi untuk diri sendiri, “Bahasa adalah keahlian berkomunikasi, penting bagi anak untuk memilih ekspresi mana yang paling bisa mengungkapkan pendapat pribadinya. Benar dan salah itu nanti.”


5 Komentar

  1. iwananashaya mengatakan:

    SUBHAANALLOOH…ya, seandainya di sekolah-sekolah di indonesia seperti itu… (semoga suatu saat nanti bisa terwujud. aamiin..)btw, sistem seperti itu berlaku untuk semua sekolah di jepang atau khusus di sekolah itu saja?

  2. iwananashaya mengatakan:

    izin saya share di blog saya ya, pak.

  3. gilig mengatakan:

    Sepertinya itu standar sekolah di Jepang. Saya sebenarnya ingin menulis tentang "inquiry learning", kelamaan ditunda malah lupa. Jadi orang Jepang itu belajarnya sedikit, tetapi caranya dewasa.

  4. dedehsh mengatakan:

    saya juga ijin share utk di multiply sy… senang sharing artikel2 mengenai pend. anak

  5. gilig mengatakan:

    Silakan copy-paste, share sepuasnya. Tidak perlu ijin segala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 104,620 orang

See me

%d blogger menyukai ini: