Gilig Guru

Beranda » Pendidikan » Keluarga » Bagaimana berkomunikasi saat anak marah

Bagaimana berkomunikasi saat anak marah

Fatih sayangku, maafkan Abi ya Nak.

Seringkali orang tua merasa dilematis menyikapi tingkah laku anak. Oleh karena itu perlu kita berbagi ilmu untuk memudahkan para orang tua mendidik anaknya di rumah. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan baik oleh orang tua maupun guru di sekolah:

(1) Pisahkan mereka dari yang lain (teman, saudara, orang)

Anak memiliki rasa malu, bila mereka merasa dipermalukan maka anak akan semakin marah dan tidak terkendali.

(2) Berjongkoklah, duduk setara dengannya, pandang matanya

Saat kita berbicara serius sambil berdiri, anak merasa bahwa kita adalah atasan, kata-kata kita adalah perintah, yang boleh jadi akan disimpulkan sebagai ancaman atau penolakan terhadap keinginannya. Maka perlakukan dia sebagai teman dimana kita siap mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

(3) BILA dia tidak terkendali (berteriak, meronta, memukul) peringatkan dengan tegas “Hen-ti-kan!”Jangan dengan berteriak, jangan membentak, tapi dengan nada rendah yang tegas dan jelas. Sampaikan peringatan bahwa bila dia terus tidak terkendali akan didudukkan di “kursi nakal”. Peringatan sangat penting untuk memberi ruang pada anak untuk mengoreksi perbuatannya sendiri. Jangan memberi hukuman tiba-tiba. Anda boleh mengganti istilah kursi nakal dengan yang lain, tetapi tetap dengan prinsip menyatakan yang salah itu salah, misalnya “kursi taubat”. Jangan malah memberi nama yang indah karena beralasan untuk menyayangi anak, misalnya “kursi cantik”.

(4) BILA dia tadi berbuat salah, beritahu dia bahwa anda (dan korban, saudara/teman-teman yang lain) akan mendiamkannya selama 5 menit, dan dia harus duduk di tempat “kursi nakal” kalau ingin kembali berkumpul dan bermain lagi.

(4.a) BILA anak berusaha kabur dari kursi nakal, ambil dia, kembalikan ke kursi itu berapa kalipun dia mencoba. Ingat! Orang tua/guru harus menjadi pemimpin & pengatur. Anak harus belajar menghormati aturan.

(4.b) Setelah 5 menit selesai, datang pada anak (gaya no. 2), katakan padanya dimana letak kesalahannya, dan apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki kesalahan itu (minta maaf, berjanji tidak mengulangi lagi).Perhatikan cara meminta maaf anak supaya ia benar-benar sopan dalam meminta maaf. Ingat, bahwa cara yang dia lakukan ini nantinya akan dilakukannya di luar rumah/sekolah.

(4.c) Hargai pengakuannya, peluklah dia, cium dia, katakan betapa bangganya anda terhadapnya karena telah berani meminta maaf. Cari ungkapan baru, jangan klise, agar anak benar-benar merasa ini pujian dari hati.

[*] BILA anak tidak berbuat salah, lewati langkah 4 / 4.a / 4.b ini dan langsung ke langkah 5.

(5) Tanyakan apa yang membuat dia marah, “Kenapa sayangku? Ada apa?” Dengarkan sepenuhnya, dan tetaplah bersikap adil. Karena keadilan itu dekat dengan taqwa.

(6) Bila anda mampu memberi solusi, usulkanlah, dan bantulah anak mewujudkan solusi itu.

> Maksudnya mengusulkan pada anak, adalah memberikan padanya kebebasan untuk memilih, melatihnya supaya berpikir menimbang akibatnya. Misalnya, “Kalau kakak yang memotong kuenya, adik yang memilih potongannya ya… nanti ibu yang menghias kue-kuenya.” atau “Kalau kakak mau mainan yang itu, bisa nggak kakak meminjami mainan yang disukai adik buat mainan adik?”

> Kalau anda tidak mampu memberikan solusi, sampaikan terus terang, dan janjikan kepadanya anda akan berusaha untuk terus menolong. Misalnya, “Ibu juga tidak tahu caranya, nanti kalau ayah datang kita tanya sama-sama yuk.” Keterusterangan orang tua mengajarkan anak bahwa mereka tidak perlu takut akan kekurangannya, akan kritik, dan mengajaknya mau berbagi.

(7) Jangan lupa, setiap usaha anak menuju yang lebih baik selalu pantas untuk dirayakan, meski hanya dengan membacakan dongeng saat hendak tidur malam.

Iklan

2 Komentar

  1. Hendriono berkata:

    Alhamdulillah… Artikel yang sangat bermanfaat aku temukan disini. Terima kasih pak telah memperkenalkan aku dengan blog bapak yang sangat bermanfaat ini. Marilah kita bersama-sama berusaha untuk yang terbaik bagi generasi kita, merekalah tumpuan harapan Islam di masa yang akan datang… Islam tidak mengenal teritori, negara, nasionalisme dan hal lain yang berbau sekuler… Mohon bapak tetap mau berbagi dengan kami yang rendah pengetahuan ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 123,308 orang

See me

%d blogger menyukai ini: