Abi! langitnya disapu… sama malaikat!

Teriak anak sulungku sejurus setelah dia keluar pintu. Lalu dia masuk sambil tersenyum-senyum kagum, “kok bisa ya?”
“Pertanyaan yang sama menggelitik hatiku, nak, tetapi tentang dirimu…,” batinku. Kok bisa kamu mengambil kesimpulan seperti itu. Fatih berusia baru 5 tahun saat ‘kesadaran’ tentang malaikat ini terucap dari bibirnya. Meski aku tahu, itu mungkin sekedar prasangka anak-anak, namun anak-anak yang spesial.
Orang dewasa mungkin akan meluruskan prasangka itu dengan informasi yang ilmiah, bahwa awan itu digerakkan angin. Kesibukan keseharian membuat orang dewasa selalu berpikir logis, menurut anggapannya, yakni mencerna segala dengan dunia.
Mudah-mudahan kelak kesadaran ini menguat dalam dirimu, nak.

Ini pintu gerbangnya, mungkin sepanjang 2 blok. Kalau melihat orang yang bejubel berjalan di bawahnya… wuh, gimana gitu.

Ini tengahnya, semacam lapangan yang dipagari dengan lampu-lampu hias setinggi 4-5 meter. Lihat khan orang-orangnya? Alhamdulillah aman gak ada copet.


Classes

Ini salah satu ruang kelas di KISC. Semua komputer yang ada MAC berbahasa keriting Jepang. Tapi ampuh juga untuk memaksa kebiasaan baru. Akhirnya enjoy deh menulis kanji. Di setiap ruangan selalu ada pemanasnya. Dan hebatnya lagi, hampir semuanya serba otomatis.

Soto Ayam

Hmm… Oishi desu yo…

Alias, uenak tenan! yang kurang cuman sambal. Soalnya jarang ada lombok. Jadi cuma bisa pakai saos sambal ABC. Kurang mantap gitu. Tapi dalam kelaparan tidak ada rotan martabak pun jadi. (Gak mau lah makan akar)

Pertunjukan Angklung

Dengan angklung mengalirlah bengawan solo… hingga ke Jepang. Apresiasi penonton cukup menyenangkan walaupun mungkin mereka tidak mengerti atau bahkan tidak menikmati pertunjukan yang ada.