Mampir di 小学

Barusan bareng-bareng teman se fakultas mengunjungi sebuah sekolah dasar di dekat Kobe University. Ketika sampai di gerbang sekolah, perwakilan anak-anak SD memegang nama kami kayak menyambut tamu di bandara. Yang membawa nama saya adalah dua orang dari kelas 4-3.

Saya di bawa ke kelasnya, pas makan siang. Tapi karena Saya tidak tahu makanannya apa maka sejak awal saya bilang kalau membawa obento, makan siang sendiri: roti coklat… hehehe. Mereka makan mie, semangkuk kacang, dan sepiring roti. Minumnya susu cair kotak. Suasananya ceria sekali, anak-anak antusias, saya pun sangat menyukai suasana ini. Ada beberapa anak yang berani sampai nanya-nanya, padahal selama ini orang jepang sangat pemalu terhadap orang asing.

Waktu istirahat acaranya bersih-bersih kelas, bangku & kursi dipinggirkan, terus sampah-sampah diambil, dan seorang anak mengajakku ke pojok kelas, dan memberiku… sapu! Hahaha, aku disuruh menyapu. Dia mengajariku cara memegang sapu, menyapu, asyik sekali. Sampai bersih kami kemudian menata kembali kelas seperti sedia kala. Di luar anak-anak lain membersihkan lorong kelas, dan ada juga yang membersihkan WC. Seorang anak datang ke senseinya dan melaporkan hasil kerjanya, dia meminta senseinya mengecek hasil kerjanya. Sangat profesional.
Setelah itu saya diajak sekelompok anak berkeliling, menunjukkan dari kelas ke kelas. Semangat antusiasme mereka membuat saya berlari mengikuti mereka yang berburu menjelaskan sekolahnya. Sayang tidak sempat main di halaman karena keburu masuk kelas kembali. (Lihat fotonya Islami-san sedang bermain lompat tali bersama mereka, dia pikir mereka benar-benar temannya!) Di kelas saya dan seorang mahasiswa dari Korea dipersilakan mengenalkan negaranya.
Waktu dhuhur berlalu setengahnya, jadi minta ijin sensei untuk sholat di lorong, gak jadi… karena posisi kiblat mengharuskan saya melintang dan menghalangi orang lewat, jadi saya minta jin untuk sholat di dalam kelas di pojok belakang. Pas takbir, saya baru sadar bahwa sensei tidak akan memulai kelas tanpa saya, jadi mereka menunggu. Seusai salam, kanan saya menghadap tumpukan tas-tas murid, salam ke kiri saya memandang seluruh isi kelas sedang memandangi saya, mereka menonton “pertunjukan sholat”. Sumimasen… sumimasen… (maaf… maaf…)
Si Korea mendapat kesempatan pertama, dia lumayan lancar berbahasa Jepangnya, saya … kacau. Untung sensdeinya bisa bahasa Inggris… sedikit. Untungnya lagi minggu lalu saya ada tugas mempresentasikan negara kepada teman sekelas, jadi agak ingat-ingat sedikit. Ketika saya memberikan kesempatan bertanya, banyak yang mengacungkan jari. Ada yang tanya binatang yang paling berbahaya di indonesia apa, tempat yang terkenal dimana, makanannya apa, macam-macam. Karena saya sengaja membawa angklung, maka saya bagi-bagikan, lucu juga, sebab mereka menggoyangkannya seperti mengocok pop ice. Wah, suasana jadi rame! Waktu berlalu sekitar 30 menit seperti angin, kami pamit dan foto-fotoan. Rasanya pingin kembali lagi.

The Class

The Nihon-go Intensive Class, the scratch Class.
from Left: Sabry (Brunei), Islami (Iran), Honorat (Haiti), Haider (Bangladesh), Bun Mi (Laos), Maija (Latvia), May (Phil), Jeane (Thai), Tess (Phil), Irodah (Uzbek), Sensei, and Me (sitting).

Happy As Ever

Pulang dari Jumatan, lagi-lagi ketonjok jadi khotib… payah deh. Maksudnya, aku nih yang payah. Lah yang lain kok pada geleng-geleng waktu aku tanya “Ada yang bisa jadi imam?” Ini di dekat kampus teknik. Pemandangannya keren ya? Subhanallah. Gimana surga…

Japanese Classes

Beberapa yang saya pelajari selain bahasa disini adalah metode mengajar di kelas. mereka membuat sistem yang sangat rapi sehingga mampu menyelesaikan satu buku pelajaran bahasa dalam 25 pertemuan. sangat efisien. karena 25 pertemuan itu ditempuh setiap hari, jadi praktis hanya satu bulan kita sudah menyelesaikan satu buku! satu bab selesai dalam sehari. Tapi per pertemuannya 4 jam. jadi sangat lama dan leluasa. sayangnya hal itu kurang efektif karena terburu-buru. seandainya mereka mengulang 1 bab 2 kali. kami yakin kami akan bisa menguasainya 2x juga.
jadi di awal pertemuan mereka mengulang pelajaran hari kemarin, mengingatkan kosakatanya, cara membuat kalimatnya, setelah cukup maka ULANGAN. bila masih ada waktu setelah ulangan maka dimanfaatkan untuk masuk ke bab berikutnya. ISTIRAHAT. dalam memulai bab baru, pertama dikenalkan kosakata dengan mengeja keras-keras, melihat gambar, dan membuat contoh ungkapannya dalam kalimat sehari2. Kemudian mereka memperkenalkan bentuk tatabahasa baru (tense, structure, grammar, dll). Bermacam-macam model latihan baik tulis maupun percakapan, setelah itu dikasih PR. dan 10 menit terakhir untuk memperkenalkan kosakata untuk bab selanjutnya.
Setiap hari kita mempelajari kurang lebih 20 kata baru dan setidaknya 2 bentuk kalimat. sehingga sekarang kita lebih mengerti kalau ada orang jepang ngomong apa. coba… dari nol ke bulan ke 2. efisien sekali. satu catatan khusus, mereka menyiapkan PR, ulangan, kosakata, contoh conversation semuanya dalam modul. artinya sudah benar2 disiapkan. dan tiap hari diajari oleh guru yang berbeda dengan pelajaran yang sama dan sistem yang sama pula.
saya berpikir untuk menyusun kurikulum agama Islam dengan model seperti ini. bahkan jika mungkin kita menyusun seluruh kurikulum SMK dengan satu sistem pengajaran yang sama. Sehingga tidak dibutuhkan banyak pelajaran, seandainya satu hari 1 pelajaran, maka kita bisa memberikan 6 pelajaran saja seminggu. yang bila dihitung dalam 25 pertemuan maka akan selesai dalam 8 bulan. untuk ini akan ada penyesuaian dengan periodisasi semester di indonesia. o ya, dengan satu perubahan dari saya: PR tidak diberikan yang baru apabila PR yang lama siswa mendapat nilai buruk karena tidak menguasainya. saya lebih menyukai mastery learning, ketuntasan belajar daripada mengejar kurikulum. yang perlu dipikirkan adalah apakah pelajarannya juga mengulang? sebab jika ya, maka kelasnya menjadi terpecah menurut individu2. sistem KUMON sebenarnya memakai cara itu, yakni modul2 terpisah untuk tiap siswa.