Dakwah McDonalds meraih simpati Muslim

Berdakwah adalah kewajiban setiap Muslim, ya, termasuk Anda. Bukan cuma tugas ulama, dai, ustadz, mubaligh, atau kyai. Itulah sebabnya Islam berkembang pesat sejak jaman Nabi Muhammad saw. Perhatikan juga iklan berikut ini, bagaimana menurut Anda?

French Fries berbentuk tangan terbuka seolah berdoa

Dengan populasi Muslim yang berpotensi bertambah di dunia Barat, tak urung McDonalds berusaha menarik simpati Muslim dengan beriklan di akhir bulan suci Ramadhan. Meski mengandung nuansa Islam, iklan ini tidak hendak mengajak kepada Islam melainkan sekedar memanfaatkan momen untuk menjual salah satu produk McD yang berupa kentang goreng.

Dakwah yang secara literal dapat diartikan sebagai ajakan, di dalam dunia modern merupakan hal penting bagi yang ingin memasarkan sebuah produk, produk apapun itu. Anda pun telah mengenalnya dengan istilah modern bukan? Ya, marketing.

Oleh karena pentingnya marketing ini berbagai pelatihan diselenggarakan dan strategi ditulis menjadi berbuku-buku. Muslim pun mencari cara kreatif untuk “memasarkan” Islam dengan cara unik, yang juga perlu kita coba, sebagaimana yang saya muat terpisah di link ini.

Ramadhan di Jepang

Ramadhan tahun ini lebih berat rasanya buat saya. Musim panasnya membuat kulit terbakar di suhu rata-rata 35 derajat celcius, dengan siang hari yang lebih panjang. Subuh dimulai jam 3 dan Maghrib baru menjelang pukul 7.30. Pernah saya terheran-heran dengan suasana jam 6 sore yang terang-benderang sementara saya sudah bersiap-siap wudhu untuk menunaikan sholat maghrib.

Beruntung permulaan puasanya di akhir musim panas. Semakin dekat ke musim gugur suhu berangsur sejuk dan siang harinya memendek, hari terpanjangnya cuma 15 jam sehari.

Yang menjadikan puasa di Jepang lebih berat bukan cuma waktunya yang lebih panjang tetapi juga sepinya dari gairah Ramadhan. Tinggal di daerah pedesaan Kato-shi, komunitas Muslim disini hanya bertiga; saya dan keluarga, seorang teman dari Brunei Darussalam dan seorang lagi dari Uzbekistan, negara asal Bukhari sang perawi hadits terkenal.

Masjid terdekat ada di Kobe, kurang lebih 55 km jauhnya yang dapat ditempuh 1 jam dengan mobil pribadi. Dengan jarak seperti itu, praktis kami tidak pernah berangkat sholat tarawih di masjid. Lagipula untuk ke sana ongkosnya tidak murah, pulang-pergi memakan biaya sekitar \2.500 (bila dikurskan dengan Rp 100,- per yen sama dengan Rp 250.000,-) Bagi mahasiswa seperti saya, jumlah itu adalah jatah belanja selama seminggu. Namun mau tak mau kami bertiga memaksakan untuk bisa sholat Jumat, karena hukumnya wajib bagi laki-laki.

Internet adalah satu-satunya cara mengobati kerinduan akan siaran siraman rohani melalui streaming stasiun televisi atau radio dari tanah air. Bahkan adzan pun hanya bisa saya dengar dari software adzan di komputer. Tidak ada lantunan tadarus Qur’an dari tetangga kanan-kiri yang kebanyakan berasal dari Korea atau Cina lantaran mereka atheis.

Pada beberapa kesempatan saya ditanyai oleh orang Jepang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Yang paling sering adalah perihal jilbab, makanan halal, puasa, dan minuman beralkohol. Mereka selalu heran melihat wanita muslimah yang berjilbab meski di cuaca yang panas. Biasanya bila mulai bertanya, bisa cerewet seperti anak kecil. Seperti kenapa menutup kepala, siapa yang harus melakukannya, mulai umur berapa, boleh tidak dilepas, dan seterusnya. Teman-teman muslimah yang kesulitan menjelaskan dari sisi syariatnya, banyak yang akan beralih ke alasan dari sisi keuntungan jilbab adalah melindungi dari sinar matahari.

Bila saya memberitahu bahwa saat bulan Ramadhan seorang Muslim tidak makan dan minum selama siang hari, mereka akan bersimpati “daijoubu?” (tidak apa-apa?) tanyanya, dan setelah dijelaskan maka biasanya komentarnya, “Wah, bagus juga untuk diet.” Seorang teman memuji bahwa puasanya orang Islam benar-benar bersungguh-sungguh, sebab puasa yang dikenalnya hanyalah larangan makan daging tetapi dia masih bisa menikmati seafood yang justru lebih dia sukai, candanya.

Berbuka puasa di masjid Kobe benar-benar membuat siapapun akan merasakan ukhuwah Islamiyah. Selain karena disana kami bisa melepas keterasingan di tengah budaya Jepang dengan bertemu dengan saudara-saudara seiman dari manca negara, menu buka puasa juga sangat menarik. Tiap hari masakan-masakan dari Muslim pendatang digilir, dan yang paling menjadi favorit adalah hari Selasa, yakni menu masakan Arab.

Ada kalanya orang Jepang tertarik untuk mengetahui tata cara ibadah kaum Muslim. Saya pernah diundang untuk berbuka puasa bersama mereka. Saat bertamu untuk jamuan makan di rumah hostfamily (keluarga persahabatan) saya harus terlebih dulu menjelaskan bahwa saya muslim, tidak minum alkohol, dan tidak makan daging kecuali yang berlabel halal. Lalu mereka akan merinci dengan berondongan pertanyaan lain, “Bagaimana dengan buah? Sayuran? Ikan? Telur?” dan seterusnya. Setelah jelas maka mereka akan rela repot untuk mencarikan makanan yang persis seperti kebutuhan saya. Bahkan saya sempat terkejut ketika mereka menunjukkan kerupuk udang, nasi goreng, dan bumbu gado-gado dari Indonesia yang mereka beli lalu menanyakan apakah makanan itu boleh dimakan. “Daijoubu,” jawab saya. Tetapi dengan menu sushi dan masakan khas Jepang lainnya, tidak pas rasanya kalau dicampur-campur.

Menjelang hari raya, tidak ada rencana mudik atau silaturrahim ke rumah saudara, karena terlalu mahal ongkosnya. Kami cuma bisa berkumpul bersama teman-teman dari Indonesia yang akan menyelenggarakan sholat Id bersama di KJRI Osaka, sambil berharap Idul Fitri kali ini tidak akan terjadi perbedaan lagi.

Perjalanan Liberalisme di Indonesia

Di awal kemerdekaan Indonesia semangat jihad melawan penjajah begitu kental. Seruan untuk mengusir penjajah berkobar dari pesantren. Kalangan santri menjadi pelopor dalam memperjuangkan kemerdekaan. Tak heran bila di awal berdirinya negara Indonesia, berbagai seruan yang mendukung untuk dibentuknya negara Islam bergaung cukup signifikan. Ini dibuktikan dengan besarnya jumlah dukungan pada partai politik Islam yang mendukung konsep negara Islam. Masyumi, NU, PSII dan semua kaum muslimin yang berafiliasi pada santri saat itu mendukung gagasan negara Islam.

Sayangnya kaum Muslimin miskin politikus maupun negarawan, sehingga sikap akomodatif dan toleransinya dalam pemerintahan dimanfaatkan segelintir orang untuk membelokkan kemerdekaan ke arah demokrasi. Meski tokoh nasional seperti Natsir, Syafruddin, Roem, dan beberapa tokoh Masyumi pada awal kemerdekaan itu hampir tidak ada yang menulis demokrasi liberal. Mereka tahu apa bahaya pemikiran demokrasi liberal. Namun, mengingat lemahnya kekuatan politik kaum Muslimin, mereka terpaksa menerima label demokrasi selama mengadopsi Islam.

Meski demikian, di bawah tekanan orde lama, kekuatan Islam mengalami pergeseran setelah transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru, khususnya pada pemikir liberal seperti Nurcholish Madjid, Dawam Raharjo, dan lain-lain. Mereka menyerang paradigma politik Islam, dengan label-label demonologis. Meski sebetulnya hal itu sudah dimulai oleh Munawir Sadjali. Pada tahun 50-an dia menulis risalah kecil yang menolak negara Islam. Sebagai gantinya, para pengusung liberalisme ini gencar menggembar-gemborkan euforia demokrasi dari barat.

Guna menggeser gerakan syariah, Luthfi Assyaukanie mendikte bahwa demokrasi tidak akan pernah berjalan kecuali di atas platform negara sekuler: negara yang betul-betul memisahkan urusan agama dengan negara. Sehingga peran Islam dalam mengatur hukum pemerintahan perlu dimarjinalkan. Setelah tahun 80-an, dua tokoh liberal Cak Nur dan Gus Dur mulai mengkritisi negara yang terlalu ikut campur dalam urusan agama.

Meski ide sekulerisme ini banyak menimbulkan kontroversi, mengingat masih kuatnya akar budaya santri di tingkat akar rumput, namun media massa mampu membuat mereka ditokohkan dan terpublikasi. Luthfi mengklaim, “Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat.”

Keberhasilan gerakan liberal dalam menggeser ide Islam ini tak luput dari dukungan media massa dan beberapa organisasi penyokong dana dari Barat seperti TAF dan universitas-universitas yang menyediakan beasiswa bagi Muslim yang berawasan liberal. Di Indonesia, Adian Husaini mengkategorikan beberapa modus gerakan liberalisme, mulai yang disebut sebagai “eceran”, yakni melalui media massa, maupun yang “partai” yakni tersistem dalam perguruan tinggi. Berarti tahapan liberalisasi Islam sudah hampir mencapai klimaksnya: sekulerisme.

Wisewords – Kata Bijakku

  1. Jangan takut berdakwah, karena itu kewajiban. Orang akan mencela tapi tidak akan membuatmu hina, dan ada yang memuji tapi tidak akan membuatmu mulia. Semua karena Allah.
  2. Everyone is a teacher, some do good things so you can learn to do it, some do bad things and you can learn to avoid it. Be careful of your bad habit.
  3. Everyone is a learner, do good things for them to learn.
  4. Jika seorang berbuat salah padamu, lupakan orangnya, ingat kesalahannya.

Pertanyaan tak terjawab bagi penganut demokrasi

Sebelum menganggap bahwa cita-cita ummat Islam untuk menyatukan dunia dalam satu kepemimpinan adalah ilusi, mari kita mencoba menjawab pertanyaan ini:

  1. Sebutkan 1 negara penganut demokrasi yang paling ideal supaya semua orang yang mendebat demokrasi harus merujuk pada negara tersebut!
  2. Sebutkan 1 orang tokoh penganut demokrasi yang paling baik pemikirannya supaya menjadi patokan bagi semua orang yang ingin mendebatnya!
  3. Sebutkan 1 buku konsep demokrasi yang bisa dijadikan rujukan bagi seluruh orang di dunia.

Setelah menjawab, bersiaplah untuk mengupas jawaban itu satu persatu.

Bila pertanyaan tersebut diajukan pada 1000 orang penganut demokrasi, saya yakin akan ada 1000 jawaban berbeda. Bila itu yang terjadi, sudah jelas bahwa demokrasi hanya ada dalam mimpi para penganutnya, yang hanya akan saling klaim dan selalu menuding kepada yang lain dengan demonologi yang tidak ilmiah.

Bodohnya Perokok: Lebih Penting Rokok Daripada Gizi Anaknya

Sabtu, 9 Mei 2009 | 17:06 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati

JAKARTA, KOMPAS.com - Rokok menyebabkan ketergantungan yang menjerat konsumennya tanpa pandang status sosial ekonomi penggunanya. Konsumen rokok tidak lagi mempunyai pilihan untuk menentukan apakah merokok atau menunda rokoknya demi memenuhi kebutuhan makan bagi keluarganya. Akibat ketergantungan pada rokok, kebutuhan asupan makanan bergizi bagi anak balita dalam keluarga miskin seringkali dikorbankan.

Demikian benang merah diskusi terbatas yang diprakarsai Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI), Sabtu (9/5), di Kemang, Jakarta. Diskusi bertema Kekurangan Gizi pada Balita dan Konsumsi Rokok Keluarga Miskin ini melibatkan para pakar di bidang kesehatan dan gizi, para pengambil kebijakan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi profesi dan akademisi.

Dengan sumber daya ekonomi terbatas, 63 persen pria dewasa dari 20 persen penduduk termiskin di Indonesia mengonsumsi 12 persen penghasilan bulanannya untuk membeli rokok yang merupakan pengeluaran kedua setelah padi-padian. Data Susenas 2006 menunjukkan, pengeluaran untuk membeli rokok adalah 5 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu, dua kali lipat pengeluaran untuk ikan, dan 17 kali lipat pengeluaran untuk membeli daging.

Studi pada 175.859 rumah tangga miskin perkotaan di Indonesia selama tahun 1999-2003 mendapati, sebanyak 73,8 persen kepala keluarganya adalah perokok aktif, dengan pengeluaran mingguan untuk membeli rokok 22 persen yang merupakan porsi pengeluaran terbesar di atas beras. “Perilaku merokok kepala keluarga telah menggeser pengeluaran yang seharusnya untuk membeli makanan dan meningkatkan risiko gizi kurang, anak sangat kurus dan anak sangat pendek,” kata Prof Farid Anfasa Moeloek.

Dalam studi sejenis pada 361.021 rumah tangga perkotaan dan pedesaan pada tahun yang sama membuktikan, kematian bayi dan balita lebih tinggi pada keluarga yang orang tuanya merokok daripada yang tidak merokok. Risiko kematian populasi balita dari keluarga perokok berkisar 14 persen di perkotaan dan 24 persen di pedesaan.

Dengan angka kematian balita 162.000 per tahun sebagaimana diungkapkan Unicef tahun 2006, maka konsumsi rokok pada keluarga miskin menyumbang 32.400 kematian tiap tahun atau hampir 90 kematian balita per hari. Dua faktor penyebab langsung kekurangan gizi pada balita adalah asupan makanan dan penyakit infeksi yang dipengaruhi kecukupan pangan, pola asuh, dan pelayanan kesehatan tidak memadai, kata peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, Rita Damayanti.

Kecukupan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, daya beli keluarga, dan pemanfaatan pangan. Daya beli cenderung hanya dikaitkan dengan tingkat pendapatan tanpa memperhatikan bagaimana keluarga membelanjakan uangnya sehingga uang yang tersedia menjadi tidak cukup untuk membeli makanan bergizi.

Maka dari itu, untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga miskin dan dampak lanjutannya pada status gizi balita tidak cukup hanya dengan memberi tambahan uang (BLT) dan upaya ekonomi produkti lain tanpa intervensi pada pola pengeluaran rumah tangga, khususnya untuk membeli produk adiktif seperti rokok. “Karena itu, arus-utamakan masalah tembakau pada gerakan sadar gizi dan pencapaian sasaran pembangunan milenium (MDGs),” kata Roy Tjiong dari Hellen Keller International.

Arus-utamakan masalah tembakau pada pedoman hidup bersih dan sehat, jadikan sekolah dan tempat-tempat umum bebas rokok atau kawa san tanpa rokok, lipat gandakan cukai tembakau, dan tegakkan fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang larangan merokok dengan meratifikasi aksesi Konvensi Internasional Pengendalian Tembakau atau FCTC dan advokasi Rancangan Undang Undang Pengendalian Dampak Tembakau, ujarnya.

Santri Pondok Putri

Recalling their names, one by one, just like my own daughters. I wish, I do really wish, that someday I could come back home to see each one of them, all of them, together, playing in our school again. Allah, grant my prayer…

Kenapa Orang Tidak memilih dalam Pemilu?

It’s optional… Dalam keyakinan saya, seseorang harus ikut bertanggung jawab dengan pilihannya itu. Kalau saya pilih A, maka bila A berbuat baik dengan jabatannya, saya insyaAllah dapat pahalanya. Kalau A berbuat jahat dengan jabatannya, maka saya pasti ditanyai Allah.

Masalahnya, dalam sistem demokrasi, dimana aturan yang buruk (bertentangan dengan Islam) sekalipun bisa diundangkan, maka orang terbaikpun akan mudah berbuat kesalahan karena dipaksa oleh sistem/hukum.Nah, ikut pemilu itu boleh. Cuma, saya sedang membangun pemilu dalam sistem yang sudah mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal. Ada yang menyebutnya “Khilafah”. Itu istilah dikenalkan oleh HT, ada pula “Imamah”. Tapi tak ada salahnya seorang Muhammadiyah seperti saya juga ikut meyakininya. Karena konsepnya —bukan namanya— datang dari Rosul.

BILA YANG KITA PILIH ADALAH ORANG JUJUR?
Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah sistem-nya. Pemilu di Indonesia adalah dalam tatanan demokrasi. Tahu definisinya, khan? ya, pemerintahan dari-oleh-untuk rakyat. Artinya, yang menentukan hukum adalah rakyat. Kiblatnya, dasar hukumnya, undang-undangnya ditentukan oleh rakyat. Kalau rakyat setuju, meski nanti bertentangan dengan Islam, maka tetap jadilah. Sebaliknya, kalau rakyat tidak suka, meski diperintah Al-Qur’an, maka tetap dilaranglah!

Padahal Al-Qur’an lebih tahu mana yang baik dan yang buruk di sisi Allah swt.Ini adalah hukum yang syirik, menyekutukan Allah. Begitu seorang menjadi anggota dewan, dia wajib patuh pada dasar hukum ini. Bisakah seorang Muslim yang taat, saat dia jadi anggota DPR tatkala presiden terpilih adalah wanita (mungkin banyak yang memang belum menerima ketentuan ini), ia tetap saja harus tunduk pada presiden wanita itu. Padahal Rasulullah saw tidak mengajarkan yang demikian.

Bagi saya, lebih utama tunduk pada Rosul daripada presiden. Sedangkan bagi setiap anggota dewan, mau tak mau ia akan tunduk pada aturan yang diciptakannya sendiri.Saya takut kalau mencoblos pilihan seorang Muslim yang baik, kemudian menyebabkan dia terjerumus pada lingkungan syirik. Kasihan dia.

Di sisi lain, garisbawah, saya membangun sistem Islami. Sebagai Muslim memang tidak boleh apatis. Maka dimulai dengan mendirikan sekolah saya membangun kesadaran global tentang Islam. Tidak ada perintah untuk mengikuti pemilu dari Rosul. Yang ada adalah untuk mengangkat seorang pemimpin. Saya sedang melakukannya, dengan cara yang lain. Mudah-mudahan diridhoi Allah. 5 tahunkah, 10 tahunkah, seumur hidupkah? Asalkan di jalan Allah, saya ridho.

Movies Download in My Blog

I added some movies link here, which is from my own account in 4shared.com. When you click on in, you can watch it as well as download it. I found the films are worth watching. For at least you will feel either happy or spiritful. Oh yes, I will not let you down. Below is just an example.

Pengajian di Kobe – Makin Canggih!

Monthly Islamic Discussion in Kobe

Ust. Dadan sedang menyampaikan ceramah tentang bersuci. Di sini adalah tempat untuk ikhwan, tempat akhwat ada di lantai bawah. Karena terpisah, maka suaranya sulit terdengar, sementara tidak lazim disini memakai loud speaker.

Maka dipakailah YAHOO MESSENGER yang distreaming melalui komputer di bawah. Canggih ya kan?