Contoh Sikap Fanatisme

FANATISME adalah sikap tidak toleran yang berlebihan terhadap pandangan yang berlawanan (Excessive intolerance of opposing views). Kebanyakan fanatisme ditujukan kepada sesuatu yang belum jelas baik-buruknya, atau benar-salahnya.

Contohnya: NKRI harga mati. Sebab Negara ini pernah berganti-ganti sistem, bertambah dan berkurang wilayahnya, jadi kalau menolak perubahan apakah akan mematikan pendapat yang pro-perubahan?

Lanjut membaca

Ikon bendera Indonesia

Makna Imajiner Nasionalisme: Strategi Pengkotakan?

Pengertian

  1. Menurut kamus wordweb, ada beberapa pengertian nasionalisme, yakni: (i) Rasa cinta pada suatu negara dan kesediaan untuk berkorban demi negara tersebut. (ii) Doktrin bahwa budaya nasional suatu bangsa atau kepentingannya lebih utama dibandingkan bangsa lain. (iii) Doktrin bahwa suatu bangsa harus berdiri sendiri. Nasionalisme juga sering digantikan dengan kata “patriotisme”
  2. Nasionalisme tidak dapat lepas dari kata dasarnya nation yang masih menurut wordweb, berarti “Sebuah kelompok masyarakat yang diatur secara politik dalam satu pemerintahan”, dan beberapa makna lainnya. Lanjut membaca

Menghormati Tidak Harus Formal

Menghormat bendera

Menghormat bendera, Singapura tidak mewajibkannya

Dalam tradisi Jawa, bila anak anda berlalu di hadapan orang tua, lalu dia membungkuk, itu tandanya dia hormat. Tetapi sekarang sudah banyak pemuda yang lalu lalang dengan badan berdiri tegap meski masih memberi salam kepada orang tua. Apakah mereka tidak hormat? Lanjut membaca

Mencairkan Kebekuan Pemeluk Pancasila

Pancasila adalah ideologi terbuka, oleh karena itu salah BESAR apabila ada yang memaksakannya, sampai-sampai mengklaimnya sebagai harga mati. Bangsa Indonesia harus terbuka kalau ingin keluar dari permasalahan kontemporer. Pemaksaan ideologis yang dilakukan baik secara sistematis oleh negara dan aparatnya, maupun secara psikologis melalui opini media massa, sebenarnya malah menjauhkan Pancasila dari masyarakat. Masyarakat kita menginginkan sesuatu yang alamiah, bukan didoktrin. Inilah jawaban dari pertanyaan kenapa semakin banyak orang yang —jangankan menghayati— menghafal bunyi Pancasila saja sudah tidak sanggup. Pancasila hanya dijejalkan secara dogmatis, dan semua yang berbeda dengan Pancasila dianggap menentang, subversif, dan ujung-ujungnya dijerat dengan pasal Anti-Terorisme.

Lanjut membaca

Kenapa Orang Tidak memilih dalam Pemilu?

It’s optional… Dalam keyakinan saya, seseorang harus ikut bertanggung jawab dengan pilihannya itu. Kalau saya pilih A, maka bila A berbuat baik dengan jabatannya, saya insyaAllah dapat pahalanya. Kalau A berbuat jahat dengan jabatannya, maka saya pasti ditanyai Allah.

Masalahnya, dalam sistem demokrasi, dimana aturan yang buruk (bertentangan dengan Islam) sekalipun bisa diundangkan, maka orang terbaikpun akan mudah berbuat kesalahan karena dipaksa oleh sistem/hukum.Nah, ikut pemilu itu boleh. Cuma, saya sedang membangun pemilu dalam sistem yang sudah mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal. Ada yang menyebutnya “Khilafah”. Itu istilah dikenalkan oleh HT, ada pula “Imamah”. Tapi tak ada salahnya seorang Muhammadiyah seperti saya juga ikut meyakininya. Karena konsepnya —bukan namanya— datang dari Rosul.

BILA YANG KITA PILIH ADALAH ORANG JUJUR?
Sekali lagi, yang menjadi masalah adalah sistem-nya. Pemilu di Indonesia adalah dalam tatanan demokrasi. Tahu definisinya, khan? ya, pemerintahan dari-oleh-untuk rakyat. Artinya, yang menentukan hukum adalah rakyat. Kiblatnya, dasar hukumnya, undang-undangnya ditentukan oleh rakyat. Kalau rakyat setuju, meski nanti bertentangan dengan Islam, maka tetap jadilah. Sebaliknya, kalau rakyat tidak suka, meski diperintah Al-Qur’an, maka tetap dilaranglah!

Padahal Al-Qur’an lebih tahu mana yang baik dan yang buruk di sisi Allah swt.Ini adalah hukum yang syirik, menyekutukan Allah. Begitu seorang menjadi anggota dewan, dia wajib patuh pada dasar hukum ini. Bisakah seorang Muslim yang taat, saat dia jadi anggota DPR tatkala presiden terpilih adalah wanita (mungkin banyak yang memang belum menerima ketentuan ini), ia tetap saja harus tunduk pada presiden wanita itu. Padahal Rasulullah saw tidak mengajarkan yang demikian.

Bagi saya, lebih utama tunduk pada Rosul daripada presiden. Sedangkan bagi setiap anggota dewan, mau tak mau ia akan tunduk pada aturan yang diciptakannya sendiri.Saya takut kalau mencoblos pilihan seorang Muslim yang baik, kemudian menyebabkan dia terjerumus pada lingkungan syirik. Kasihan dia.

Di sisi lain, garisbawah, saya membangun sistem Islami. Sebagai Muslim memang tidak boleh apatis. Maka dimulai dengan mendirikan sekolah saya membangun kesadaran global tentang Islam. Tidak ada perintah untuk mengikuti pemilu dari Rosul. Yang ada adalah untuk mengangkat seorang pemimpin. Saya sedang melakukannya, dengan cara yang lain. Mudah-mudahan diridhoi Allah. 5 tahunkah, 10 tahunkah, seumur hidupkah? Asalkan di jalan Allah, saya ridho.