Beranda » Artikel » Artikel Islam » Menghadiahkan Pahala kepada Orang Meninggal Menurut Muhammadiyah

Menghadiahkan Pahala kepada Orang Meninggal Menurut Muhammadiyah

Menghadiahkan Pahala kepada Orang Meninggal

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang boleh-tidaknya mengirimkan atau menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia. Disini saya mengambilkan pendapat yang terkuat menurut saya.

  1. Berdoa adalah permohonan kepada Allah agar permintaannya dikabulkan, apakah itu berupa penghapusan dosa, penerimaan amal, membarokahi rizqi, dan sebagainya. Berdoa telah disepakati boleh diperuntukkan bagi siapa saja, sebagaimana doa ampunan bagi seluruh kaum Muslimin baik yang telah meninggal maupun masih hidup. Orang yang berdoa akan mendapatkan pahala dari amalnya tersebut, sedangkan orang yang didoakan akan mendapatkan sesuai permintaan yang dipanjatkan, insyaAllah.

    Anak Sholih

    Anak Sholih

  2. Menghadiahkan pahala adalah permohonan kepada Allah oleh seseorang yang telah berbuat kebaikan agar pahala yang seharusnya diterimanya dipindahkan kepada orang lain yang ditunjuknya. Misalkan seseorang membayarkan hutang saudaranya yang telah mati, padahal dirinya sendiri masih memiliki hutang, maka di sisi Allah hutang si Mati tercatat lunas, sedangkan si Pembayar Hutang masih tetap berhutang selama dia belum membayar hutangnya sendiri.
  3. Dari kedua penjelasan di atas jelaslah bahwa amal berdoa berbeda dengan menghadiahkan pahala. Maka saat membahas dalil tentang keutamaan berdoa bagi orang lain atau kaum Muslimin, tidak bisa dijadikan satu pembahasan dalam hal menghadiahkan pahala.
  4. Dalil-dalil yang menunjukkan adanya amalan yang dilakukan untuk orang lain seperti,
    • Bersedekah atas nama almarhumah ibunya
    • Berangkat haji untuk almarhum ayahnya
    • Bersedekah agar dapat menghapus dosa ayah yang telah wafat
    • Membebaskan budak supaya pahalanya sampai kepada ayah yang sudah meninggal

Semuanya itu sesuai dengan hadits:

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka amalnya akan terputus kecuali dari tiga jalan: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Juga dengan hadits:

“Siapa yang mengajak kepada sebuah kebenaran, maka ia akan mendapat pahala seperti pahala mereka yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR Ahmad dan Muslim)

  1. Hadits-hadits di atas setidaknya menunjukkan 2 hal:
    • Pahala diberikan dari anak kepada orang tuanya, bukan kepada orang lain
    • Pahala diberikan kepada seseorang akibat dari perbuatan baiknya
  2. Kesimpulannya adalah:
    • Pahala tidak dapat diberikan kepada orang lain yang bukan orang tuanya atau orang yang mengusahakan kebaikan tertentu untuk diajarkan kepada atau dimanfaatkan sesamanya.
    • Ketiga jalan pahala yang dapat dinikmati oleh si Mati sebenarnya adalah hasil perbuatannya sendiri. Senada dengan hal tersebut, Rosulullah saw bersabda, “Harta terbaik yang dimakan oleh seseorang ialah dari hasil pekerjaannya sendiri, dan anak ialah hasil upaya dari orang tua” (HR At Tirmidzi)
    • Imam Syafi’i dan Imam Malik melarang pengiriman hadiah kepada orang lain. (Lihat “Detik-detik Sakaratul Maut” karya Shalahudin As-Said hal. 97)

Saya berlindung kepada Allah dari segala dosa.

Wallahu a’lam bish showab.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Jumlah Pengunjung

  • 56,742 orang
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.559 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: